[12:02:30 PM] Indo Nalo:
close

Minggu, 09 Agustus 2015

betapa tega ayah ku. meniduri ku




Sampai saat ini sebenarnya saya sedikit
bingung bagaimana memulai ceritanya.
Tetapi perlu anda ketahui bahwa yang
saya ceritakan ini benar-benar terjadi pada
diri saya. Saat ini saya berusia 20 tahun
dan sudah menikah. Saya sampai saat ini
masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di
Depok Semester lima. Saya menikah dengan
suami saya Bang Hamzah yang lebih tua 8
tahun dari saya karena dijodohkan oleh
orangtua saya pada saat saya masih
berusia 18 tahun dan baru saja masuk
kuliah. Namun saya sangat mencintai
suami saya. Begitu pula suami saya
terhadap saya (saya yakin itu benar).
Karena saya dilahirkan dari keluarga yang
taat agama, maka saya pun seorang yang
taat agama.Setelah pernikahan menginjak
usia 1 tahun, suami saya oleh perusahaan
ditugasi untuk bekerja di pabrik di daerah
bogor. Sebagai fasilitas, kami diberikan
sebuah rumah sederhana di komplek
perusahaan. Sebagai seorang istri yang
taat, saya menurutinya pindah ke tempat
itu. Komplek tempat tinggal saya ternyata
masih kosong, bahkan di blok tempat saya
tinggal, baru ada rumah kami dan sebuah
rumah lagi yang dihuni, itu pun cukup jauh
letaknya dari rumah kami.
Karena rumah kami masih sangat asli kami
belum memiliki dapur, sehingga jika kami
mau memasak saya harus memasak di
halaman belakang yang terbuka, ciri khas
rumah sederhana. Akhirnya suami
memutuskan untuk membangun dapur dan
ruang makan di sisa tanah yang tersisa,
kebetulan ada seorang tukang bangunan
yang menawarkan jasanya. Karena kami
tidak merasa memiliki barang berharga,
kami mempercayai mereka mengerjakan
dapur tersebut tanpa harus kami tunggui,
suami tetap berangkat ke kantor sedangkan
saya tetap kuliah.
Sampai suatu hari, saya sedang libur dan
suami saya tetap ke kantor. Pagi itu setelah
mengantar Bang Hamzah sampai ke depan
gerbang, saya pun masuk ke rumah.
Sebenarnya perasaan saya sedikit tidak
enak di rumah sendirian karena lingkungan
kami yang sepi. Sampai ketika beberapa
saat kemudian Pak Sastro dan dua orang
temannya datang untuk meneruskan
kerjanya. Dia tampak cukup terkejut melihat
saya ada di rumah, karena saya tidak
bilang sebelumnya bahwa saya libur.
“Eh, kok Neng Anggie nggak berangkat
kuliah..?”
“Iya nih Pak Sastro, lagi libur..” jawab saya
sambil membukakan pintu rumah.
“Kalo gitu saya mau nerusin kerja di
belakang Neng..” katanya.
“Oh, silahkan..!” kata saya.
Tidak lama kemudian mereka masuk ke
belakang, dan saya mengambil sebuah
majalah untuk membaca di kamar tidur
saya. Namun ketika baru saja saya mau
menuju tempat tidur, saya lihat melalui
jendela kamar Pak Satro sedang mengganti
pakaiannya dengan pakaian kotor yang
biasa dikenakan saat bekerja. Dan alangkah
terkejutnya saya menyaksikan bagaimana
Pak Sastro tidak menggunakan pakaian
dalam. Sehingga saya dapat melihat
dengan jelas otot tubuhnya yang bagus
dan yang paling penting penisnya yang
sangat besar jika dibandingkan milik suami
saya.
Saya seketika terkesima sampai tidak sadar
kalau Pak Satro juga memandang saya.
“Eh, ada apa Neng..?” katanya sambil
menatap ke arah saya yang masih dalam
keadaan telanjang dan saya lihat penis itu
mengacung ke atas sehing terlihat lebih
besar lagi.
Saya terkejut dan malu sehingga cepat-
cepat menutup jendela sambil nafas jadi
terengah-engah. Seketika diri saya diliputi
perasaan aneh, belum pernah saya melihat
laki-laki telanjang sebelumnya selain
suami, bahkan jika sedang berhubungan
sex dengan suami saya, suami masih
menutupi tubuh kami dengan selimut,
sehingga tidak terlihat seluruhnya tubuh
kami.
Saya mencoba mengalihkan persaan saya
dengan membaca, tetapi tetap saja tidak
dapat hilang. Akhirnya saya putuskan
untuk mandi dengan air dingin. Cepat-
cepat saya masuk ke kamar mandi dan
mandi. Setelah selesai, saya baru sadar
saya tidak membawa handuk karena tadi
terburu-buru, sedangkan pakaian yang
saya kenakan sudah saya basahi dan
penuh sabun karena saya rendam. Saya
bingung, namun akhirnya saya putuskan
untuk berlari saja ke kamar tidur, toh
jaraknya dekat dan para tukang bangunan
ada di halaman belakang dan pintunya
tertutup. Saya yakin mereka tidak akan
melihat, dan saya pun mulai berlari ke arah
kamar saya yang pintunya terbuka.
Namun baru saya akan masuk ke kamar,
tubuh saya menabrak sesuatu hingga
terjatuh. Dan alangkah terkejutnya, ternyata
yang saya tabrak itu adalah Pak Sastro.
“Maaf Neng.., tadi saya cari Neng Anggie
tapi Neng Anggie nggak ada di kamar.
Baru saya mau keluar, eh Neng Anggi
nabrak saya..” katanya dengan santai
seolah tidak melihat kalau saya sedang
telanjang bulat.
Perlu diketahui, saya memiliki kulit yang
sangat putih mulus dan walau tidak terlalu
tinggi bahkan sedikit mungil (152 cm),
namun tubuh saya sangat proposional
dengan dua buah payudara berukuran 34C
yang sedikit kebesaran dibandingkan
ukuran tubuh saya.
Saya begitu malu berusah bangkit sambil
mentupi dada dan bagian bawah saya.
Namun Pak Satro segera menangkap
tangan saya dan berkata, “Nggak usah
malu Neng.., tadi Neng juga udah ngeliat
punya saya, saya nggak malu kok..”
“Jangan Pak..!” kata saya, namun Pak satro
malah mengangkat saya ke arah halaman
belakang menuju dua orang temannya.
Saya berusaha memberontak dan berteriak,
tapi Pak Sastro dengan santainya malah
berkata, “Tenang aja Neng.., di sini sepi.
Suara teriakan Neng nggak bakal ada yang
denger..”
Melihat tubuh telanjang saya, kedua teman
Pak Sastro segera bersorak kegirangan.
“Wah, bagus betul ni tetek..” kata yang
satu sambil membetot dan meremas
payudara saya sekeras-kerasnya.”Tolong
jangan perkosa saya, saya nggak bakalan
lapor siapa-siapa..” kata saya.
“Tenang aja deh kamu nikmati aja..” kata
teman Pak Sastro yang badannya sedikit
gendut sambil tangannya meraba bulu
kemaluan saya, sedang Pak Satro masih
memegang kedua tangan saya dengan
kencang.
Tidak berapa lama kemudian saya lihat
ketiganya mulai melepas pakaian mereka.
Saya melihat tubuh-tubuh mereka yang
mengkilat karena keringat dan penis
mereka yang mengacung karena nafsunya.
Dengan cepat mereka membaringkan tubuh
saya di atas pasir. Kemudian Pak Sastro
mulai menjilati kemaluan saya.
“Wah.., memeknya wangi loh..” katanya.
Saya segera berontak, namun kedua teman
Pak Satro segera memegangi kedua tangan
dan kaki saya. Yang botak memegang kaki,
sedangkan yang gendut memegang kedua
tangan saya sambil menghisap puting
susu saya. Tidak berapa lama kemudian
Pak Sastro mulai mengarahkan penisnya
yang besar ke lubang kemaluan saya. Dan
ternyata, yang tidak saya duga
sebelumnya, rasanya ternyata sangat
nikmat. Benar-benar berbeda dengan suami
saya. Namun karena malu, saya terus
berontak sampai Pak Sastro mulai
mengoyangkan penisnya dengan gerakan
yang kasar, tapi entah kenapa saya justru
merasa kenikmatan yang luar biasa,
sehingga tanpa sadar saya berhenti
berontak dan mulai mengikuti irama
goyangnya.
Melihat itu kedua teman Pak Sastro tertawa
dan mengendurkan pegangannya.
Mendengar tawa mereka, saya sadar
namun mau memberontak lagi saya merasa
tanggung, sehingga yang terjadi adalah
saya terlihat seperti sedang berpura-pura
mau berontak namun walau dilepaskan
saya tetap tidak berusaha melepaskan diri
dari Pak Sastro.
Tidak lama kemudian Pak Sastro
membalikkan tubuh saya dalam posisi
doggie tanpa melepaskan miliknya dari
kemaluan saya. Melihat itu, tanpa
dikomando si gendut langsung
memasukkan penisnya ke mulut saya. Saya
berusaha berontak, namun si gendut
menjambak saya dengan keras, sehingga
saya menurutinya. Saya benar-benar
mengalami sensasi yang luar biasa,
sehingga beberapa saat kemudian saya
mengalami orgasme yang luar biasa yang
belum pernah saya alami sebelumnya.
Tubuh saya menjadi lemas dan jatuh
tertelungkup. Namun tampaknya Pak Satro
belum selesai, sehingga genjotannya
dipercepat sampai kemudian dia mencapai
kelimaks dan memuntahkan spermanya ke
dalam rahim saya.
Begitu Pak Sastro mencabutnya, si botak
langsung memasukkan kemaluannya ke
dalam milik saya tanpa memberi waktu
untuk istirahat. Tidak lama kemudian si
gendut mencapai kelimaks, dia menekan
kemaluannya ke dalam mulut saya dan
tanpa aba- aba, langsung menembakkan
spermanya ke dalam mulut saya. Banyak
sekali spermanya yang saya rasakan di
mulut saya, namun ketika saya hendak
membuang sperma itu, Pak Sastro yang
saya lihat sedang duduk beristirahat
berkata.
“Jangan dibuang dulu, cepet kamu kumur-
kumur mani itu yang lama.. pasti nikmat..
ha.. ha.. ha..”
Dan seperti seekor kerbau yang bodoh,
saya menurutinya berkumur dengan
seperma itu.
Sementara si botak terus mengocok
penisnya di dalam kemaluan saya, saya
melihat Pak Sastro masuk ke dalam rumah
saya dan keluar kembali dengan membawa
sebuah terong besar yang saya beli tadi
pagi untuk saya masak serta sebuah
kalung mutiara imitasi milik saya. Tidak
berapa lama kemudian si botak mencapai
kelimaks dan saya pun terjatuh lemas di
atas pasir tersebut. Melihat temannya
sudah selesai, Pak Satro menghampiri saya
sambil memaksa saya kembali ke posisi
merangkak.
“Sambil menunggu tenaga kita kembali
pulih, mari kita lihat hiburan ini..” katanya
sambil memasukkan terong ungu yang
sangat besar itu ke dalam vagina saya.
Tentu saja saya terkejut dan berusaha
memberontak, tetapi kedua temannya
segera memegangi saya.
Dan tidak lama kemudian, “Bless..!” terong
itu masuk 3/4-nya ke dalam vagina saya.
Rasa sakitnya benar-benar luar biasa,
sehingga saya menggoyang-goyangkan
pantat saya ke kiri dan kanan.
“Lihat anjing ini.. ekornya aneh.. ha.. ha..
ha..” kata si botak.
“Sekarang kamu merangkak keliling
halaman belakang ini, ayo cepat..!” kata si
gendut.
Dengan perlahan saya merangkak, dan
ternyata rasanya benar-benar
nikmat.Karena rasa geli-geli nikmat itu,
sedikit-sedikit saya berhenti, tetapi setiap
saya berhenti dengan segera mereka
mencambuk pantat saya. Tidak berapa
lama saya mencapai kelimaks, melihat itu
mereka tertawa. Pak Sastro kemudian
menghampiri saya, lalu mulai memasukkan
kalung mutiara imitasi yang sebesar
kelereng tadi satu persatu ke dalam lubang
anus saya.
Saya kembali menjerit, tetapi dengan
tenang dia berkata, “Tahan dikit ya.., nanti
enak kok..!”
Sampai akhirnya, kemudian kalung itu
tinggal seperempatnya yang terlihat, lalu
sambil menggenggam sisa kalung tersebut
dia berkata.
“Sekarang kamu maju pelan-pelan..”
Dan ketika saya bergerak, kembali kalung
itu tercabut pelan-pelan dari anus saya
sampai habis. Begitulah mereka
mempermainkan saya sampai kemudian
mereka siap memperkosa saya lagi
berulang-ulang sampai sore hari, dan
anehnya setiap mereka kelimaks saya pun
turut orgasme dengan arti saya menikmati
diperkosa.
Dan anehnya lagi, malam harinya ketika
suami saya pulang, saya sama sekali tidak
melaporkan kejadian tersebut kepadanya,
sehingga pemerkosaan tersebut terus
terjadi berulang-ulang setiap saya sedang
tidak kuliah. Dan setiap memperkosa,
mereka selalu menyelingi dengan mengerjai
saya dengan cara yang aneh-aneh, dan itu
berlangsung sampai dapur saya selesai
dibangun.


UNTUK INFO LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI CONTACT KITA DI BAWAH INIemail yahoo / ym : asli4d@yahoo.comgmail : asli4d@gmail.comtwitter : asli4d_officialskype : asli4dpin bbm : 2B915CD1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar