[12:02:30 PM] Indo Nalo:
close

Jumat, 14 Agustus 2015

rasis di masyarakat terlalu berkembang cepat

                 Menghadapi rasisme di Indonesia

Di sebagian besar negara maju modern, rasisme dianggap oleh kebanyakan orang sebagai baik sebagai moral dan intelektual yang-tidak-matang. Di negara berkembang tidak selalu seperti itu.

Keliatannya sumber masalah bukan hanya pemerintah Indonesia / militer , tetapi juga sebagian besar orang di masyarakat Indonesia. I think it would be a good thing to say this to Indonesian Tionghoa:

Ada lebih banyak variasi dalam sebuah ras, daripada diantara rasis itu sendiri. Semua anggota dari ras bertindak sebagai perorangan atau kelompok, tetapi tidak pernah sebagai seluruh ras. Beberapa jenis kesalahan yang umum dilakukan di kalangan ras tertentu tetapi tidak semua orang di dalam ras tersebut yang bersalah. Menghukum seluruh ras untuk aksi dari beberapa individu dari sebuah ras, akan berujung pada hukuman kepada banyak orang-orang yang tidak berdosa(innocent)

Kemudian bila orang-orang yang tak bersalah tersebut dihukum, mereka cenderung untuk melawan kembali. Jika mereka tidak dapat memberi perlawanan pada pelaku langsung, sebagai upaya untuk menjaga martabat mereka mungkin mereka memakai kejahatan atau terorisme terhadap orang-orang yang mengidentifikasi para pelaku, yaitu dengan orang yang sama ras / agama / kewarganegaraan. Ini adalah alasan terorisme, a real terror; bukan pembenaran. Tidak ada pembenaran. Indonesia harus keluar dari lingkaran setan prasangka.

Tidak semua umat Islam yang bersalah yang menyerang umat Kristen dan sebaliknya. Tidak semua Tionghoa yang bertanggung jawab untuk persaingan tidak sehat di Jawa. Tidak semua orang Batak bertanggung jawab atas kerusuhan Sampit. Tidak semua orang Tionghoa bertanggung jawab atas kasus pembunuhan oleh Benny Makassar . Namun banyak orang di Indonesia melakukan kesalahan dengan melakukan judgement dan prejudice yang sangat prematur

Setelah moral dan intelektual yang-tidak-matang akan rasisme yang telah tersebar secara luas ke masyarakat Indonesia, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi'(KKR) seharusnya dibentuk. Hal seperti ini telah dilakukan di Afrika Selatan dan negara-negara lain.
Farid Esack, salah seorang tokoh rekonsiliasi nasional Afrika Selatan yang menjadi pengajar Universitas Western Cape, Afsel, dan sejumlah universitas di berbagai belahan dunia --antara lain Oxford, Cambridge, Harvard-- berpendapat bulat bahwa Indonesia termasuk negara yang membutuhkan KKR. (http://www.asli4d.com) Dengan adanya KKR, kebenaran-kebenaran hingga masa lalu akan terungkap.


Bagi yang belum tahu akan KKR, ini penjelasan sedikit :p
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) adalah sebuah badan yang mirip dengan pengadilan yang dibentuk di Afrika Selatan setelah berakhirnya Apartheid. Setiap orang yang merasa bahwa mereka telah menjadi korban kekerasan dipersilakan menghadap dan didengar oleh Komisi ini. Para pelanggar kekerasan pun dapat memberikan kesaksian dan memohon amnesti dari tuntutan. Pendengaran (hearing) dimuat dalam berita-berita nasional dan internasional dan banyak sesinya disiarkan lewat stasiun televisi nasional. Komisi ini merupakan komponen penting dari transisi menuju demokrasi yang penuh dan bebas di Afrika Selatan dan, meskipun terdapat sejumlah kekurangan, pada umumnya dianggap sangat berhasil.

mau lihat bertia terbaik beikut nya
klik link di bawah ini :
UNTUK INFO LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI CONTACT KITA DI BAWAH INI
email yahoo / ym : asli4d@yahoo.com
gmail : asli4d@gmail.com
twitter : asli4d_official
skype : asli4d
pin bbm : 2B915CD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar