[12:02:30 PM] Indo Nalo:
close

Minggu, 09 Agustus 2015

Bu ira Dan Amar Anaknya





Bu Ira sangat heran melihat putra tunggalnya, Amar
yang setiap malam minggu tak pernah keluar rumah.
Justru selalu saja bermanja dengan dirinya. Padahal
usianya sudah 22 tahun dan sudah diwisuda jadi
sarjana teknis mesin di sebuah institut besar. Amar
anak yang cerdas.
"Kamu kenapa tak keluar malam mingguan seperti
teman-temanmu, Mar," tanya Supiyah suatu malam.
Amir hanya tersenyum.
"Sana kunjungi pacaramu, masak di rumah terus," kata
Ira lagi.
"Aku gak punya pacar Mam."
"Kamu ini ganteng dan anak pintar, kok gak punya
pacar sih?"
"Gak ada yang cocok."
"Kamu mau punya pacar, perempua yang seperti apa
sih?"
"Seperti Mama. Cantik dan penuh kasih sayang," kata
Amar.
Bu Ira yang tersenyum saja. Begitu senangnya dia
dipouja-puji oleh anak semata wayangnya itu. Memang
sejak kematian suami Ira, dia menumpahkan kasih
sayangnya kepda putra tunggalnya itu. Dia jalankan
perusahaan peninggalan suaminya, justru semakin
pesat kemajuannya.
Lama kelamaan, Ira heran dan semakin heran saja. Apa
mungkin Amar bukan seorng laki-laki yang normal. Ira
kasihan juga jadinya, jika memikirkan itu. Setiap malam,
Amir, selalu merebahkan kepalanya di atas paha ibunya.
Bu Ira pun mengelus-elus kepala Amar dengan penuh
kasih sayang dan memanjakan. Mereka sembari
menonton TV di ruang tamu.
"Mana mungkin, ada perempuan yang persis Mama,
sayang. Cari perempuan yang kamu suka," kata Ira.
"Aku hanya mau perempuan yang seperti Mama,"
katanya.
"Apakah..."
"Ada apa, Mam?"
"Maaf, jangan marah. Apakah kamu tidak normal,
sebagai laki-laki?" tanya Supiyah. Setelah mengucapkan
kata-kata itu, Ira menyesal. Dia takut, kalau putra
tungalnya itu jadi marah atau tersinggung.
"Mama, boleh buktikan, apakah aku normal atau tidak,"
kata Amar.
"Ya buktikan dong. Cari perempuan untuk pacarmu,"
kata Ira.
"Boleh aku berterus terang Mi? Tapi janji tidak marah,"
kata Amar.
"Mana mungkin Mama marah pda anak Mama. Berterus
teranglah," kata Ira pula.
"Tapi janji, jangan marah. Jangan sampai Aku berterus
terang, Mama tidak sayang lagi padaku. Aku akan pigi,
dari rumah dan tidak akan kembali lagi, karena malu.
Janji ya Mam?" kata Amar antara terdengar tidak.
Suaranya sangat perlahan.
"Berters teranglah. Mama janji tidak akan marah," kata
Ira.
"Aku mencintai Mama. Aku mau Mama jadi isteriku,"
kata Amar berterus terang, walau suaranya perlahan
dan tersendat.
Bagaikan tersambar petir, Ira seperti tak percaya
mendengarkan kata-kata anaknya itu. Dia diam sejenak
menenangkan perasaannya dan dadanya yang
menggemuruh. Ingin dia segera menolak Anaknya dari
pangkuannya dan mengatakan tidak. ANcaman Amir
akan pergi dari rumah untuk selamanya, membuatnya
tak berani menolak kepala Amir dari pangkuannya.
"Mami marah?" tanya Amir dengan suara yang parau
dan ragu. Amir sendiri dadanya mengemuruh, takut
kalau Mamanya marah.
"Apa mungkin kita menikah, sayang. Aku kan Mama
mu sayang," kata Ira ragu.
"Kita tak perlu menikah mam. Aku hanya ingin menjadi
suami Mama dan mama isteriku. Kita suami isteri. Ini
rahasia kita berdua," kata Amir semakin mantap.
Menetes airmata Ira di pipinya. Tetes airmata itu
menetes ke wajah Amar.
"Kenapa Mama menangis? Mama marah dan tak suka
dengan kata-kataku?" tanya Amar sedikit meningi. Ira
ketakutan dan menghela nafasnya dengan kuat.
"Mama tidak marah sayang. Tidak marah. Tidak," kata
Ira.
"Kalau begitu, Mama setuju menjadi isteriku?" kata
Amar penuh percaya diri jadinya. Ira diam tak mampu
menjawa. Dia harus menjawab apa dengan menjaga
seluruh perasaan anak tunggalnya itu.
"Kata orang-orang tua, kalau diam, itu pertanda setuju.
Jika gadis dilamar tak menjawab, artinya setuju," kata
Amar. Hampir saja dada supiyah meledak mendengar
kata-kata itu. Apakah itu sebuah lamaran dari anak
kandungnya sendiri? Ira pun diam seribu basa.
"Terima kasih, Mam. Berarti Mami setuju atas
lamaranku. Sejak sekarang, Mama adalah isteriku. Aku
akan memanggilmu dengan nama mesra. Ira," kata
Amar. Mendengar itu, airmata Ira semakain menderas.
Dia tak tau mau berkata apa. Amar pun duduk dan
menghapus airmata Ira dengan kedua ibujarinya.
"Jangan menangis sayang. Terima kasih atas
kesediaanmu menjadi isteriku," kata Amar penuh mesra.
Dipeluknya Ira yang sudah dia anggap sebagai
isterinya. Dikecupnya bibir Ira dengan mesra.
Malam itu juga Amar pindah kamar dari kamarnya ke
kamar Ira. Ira tak tau mau berbuat apa. Mereka tidur di
atas tempat tidur yang sama. Sebelum terbaring, Amar,
membuka pakaian Ira dan mengantinya dengan baju
tidur biru yang sangat tipis dan halus. Ingin rasanya Ira
berontak. Tapi dalam hati kecilnya dia ingin juga
membuktikan, apakah anakntya Amar memang seorang
perjaka tulen atau tidak. Ira ditelanjangi dan dipakaiakan
pakaian tidur, tanpa bra dan tanpa celana dalam. Amar
mengenakan kimono yang tipis jua tanpa pakaian
dalam. Melihat penis anaknya itu, hatinya bergetar juga.
Mereka tidur berpelukan. Amar menciumi bibir Ira.
Mempermainkan lidahnya dalam ronga mulut Ira.
Perlahan dia meraba dengan lembut tubuh ibunya yang
berusia 43 tahun itu. Perlahan dia preteli pakaian
ibunya, sampai telanjang bulan. Ketika Ira mau
melarangnya dengan mesra Amar mengatakan:" Tenang
saja sayang. Semuanya akan menjadi indah dan nikmat.
Aku mencintaimu dengan tulus Ira... aku mencintaimu,
saang" Berdesir hati Ira mendengar rayua anaknya.
Persis 13 tahun dia tak pernah merasakan elusan dan
rabaan dari seorang laki-laki setelah kematian suaminya.
Kini rabaan dan elusan iotu datang dari anak
kandungnya sendiri. Haruskah...
Yah... Ira tak mampu menahan gairahnya. Tanpa sadar
dia membalas ciuman anak tunggalnya itu. Dia
mengelus-elus kepala Amar, saat Amar menjilati
pentilteteknya, saat Amar menjilati ketiaknya, menjilati
perutnya dan menjilati lubang memeknya dan
mempermainkan klitorisnya. Supiyah sudah tak mampu
berbuat apa-apa lagi, selain menikmatinya dan
memberikan respons pada Amir. Rasa malu seketika
hiloang. Supiyah sudah mendesah-desah dijilati oleh
anaknya sendiri.
"Sayang... Mamai sudah tak tahan. Ayo dimasuki..."
kata Ira memohon.
"Panggil aku Papa, sayang. Panggil aku Papa Ira..." kata
Amar.
"Ya.. Papa... ayo dong, Ira sudah tak tahan," kata Ira
menurut, seperti kerbau ditusk hidungnya
Amar menaiki tubuh Supiyah dan mengangkangkan
kedua kaki Ira. Perlahan ditusuknya penisnya ke lubang
Ira. Perlahan dan perlahan. Memek yang sudah 13
tahun tak pernah dimasuki itu, merasakan sensasi yang
sangat luar biasa. Terasa memeknya penuh dengan
masuknya penis anaknya itu. Dia mengoyangnya dari
bawah dan emminta Amar semakin cepat menusuknya.
Mereka berpelukan erat dan saling memagut bibir.
Sepuluh kenit kemudian, Amar melepaskan spermanya
di dalam rahim Ira, ibunya. Berkelai-kali dan mereka
berpelukan. Amar menciumi pipi Supiyah dengan
lembut, sebaliknya Ira juga membalasnya dengan
lembut.
"Terima kasih, papa," kata Ira.
"Aku juag berterima kasih Ira. Aku sangat mencintaimu,
Ira," kata Amar.
Mereka terus melakukannya dengan kasih sayang dan
penuh cinta. Sampai akhirnya pada bulan ke empat, Ira
hamil. Dia sangat takut dan menyesal. Hal itu
dilaporklannya pda Amar, agar digugurkan. Amar marah
besar. Dia tak mau anaknya digugurkan. Akhirnya
mereka mengambil kesimpula, anak itu harus lahir. Pada
udia ke lima bulan lebih, Amar diserahi tugas
memimpin perusahaan. Ira harus ke Singapura selama
beberapa bulan. Sampai dia melahirkan anak laki-laki
yang ganteng. Setelah anak itu berusia 2 bulan, Ira
mengirimkan berita kepada teman-temannya, bahwa dia
mengadopsi anak dari rumah sakit di Singapura. Dia
ingin kembali ke Indonesia dan merayakan anak yang
dia adopsi. Amar pun tersenyum, karean ibunya
ternyata orang pintar juga.
Di Singapura, Ira operasi peranakan agar tak hamil lagi.
Pesta perayaan anak yang katanya anak adopsi itu pun
berlangsung meriah dan singkat. Setelah para tamu
pulang, Amar membisikkan sesuatru kepada Ira.
"Aku ingin menyetubuhimu Ira. Malam ini," katanya.
"Aku sudah siap Papa sayang. Kita letakkan dulu anak
kita ke dalam bos-nya," Kata Ira setelah menyusui anak
mereka dengan ASI.
Amar dan Ira melakukan hubungan suami Isteri. Sebab
ketika Amar menjemput Ira ke Singapura, mereka
melakukan pernikahan catatan Sipil di negeri jiran itu.
Amar sangat mencintai Ira, akhirnya Ira juga sangat
mencintai Amar. Mereka bertekad untuk pindah dari
kota itu, ke kota ibukota yang lebih bebas


UNTUK INFO LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI CONTACT KITA DI BAWAH INIemail yahoo / ym : asli4d@yahoo.comgmail : asli4d@gmail.comtwitter : asli4d_officialskype : asli4dpin bbm : 2B915CD1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar