[12:02:30 PM] Indo Nalo:
close

Minggu, 09 Agustus 2015

Cerita Sex: Dina Sayang Om





Cerita Sex: Dina Sayang Om – Ist
Ayahku punya seorang kakak angkat yang
umurnya gak jauh diatas ayah. Hubungan
keluargaku dengan om itu cukup akrab. om
sering berkunjung ke apartmen baik untuk
urusan pekerjaan maupun hanya
bersilaturahmi. Maklum om dah pisah dari
tante, yang telah menikah lagi dengan
orang lain, sedang om masih sendiri sejak
perpisahannya dengan tante. Om ku
ganteng, walaupun umurnyaa sedikit
diatas ayahku tapi malah kelihatan lebih
muda dari ayahku.
Badannya tegap atletis, mungkin karena dia
masih rajin melakukan fitness seminggu
sekali, jogging ampir tiap hari dan juga
renang seminggu sekali. Gak seperti
ayahku yang udah gendut dan keliatan tua,
maklum deh ayah sibuk dengan
kerjaannya, workaholik lah orang bilang,
sehingga gak sempet ngapa-ngapain.
waktu untuk keluarga paling weekend,
itupun sering dianggu karena ada
pekerjaan yang harus dilakukan ayah. Om
sering mengajak kami jalan2, kalo ayah
kharus melakukan pekerjaannya.
Diam-diam aku mengagumi om,
kelihatannya macho sekali deh. Cerita ini
terjadi ketika ortu dan adikku harus keluar
kota untuk menengok nenekku yang
sedang sakit. Aku tidak ikut karena hari ini
om akan datang untuk mengambil
pesanannya yang dititipkan lewat aya. ayah
berpesan untuk menyampaikan pesanan itu
kalo om datang ke apartment. Katanya om
akan datang sore sekitar magrib. Aku
senang juga karena bisa berduaan aja ama
om tanpa ada orang lain diapartment yang
mengganggu.
Sorenya terdengar bel pintu berbunyi. Om
mengebel pintu apartmentku karena ayah
dah memberi tau kalo mereka keluar kota,
tapi pesanan om dititpkan pada aku. Segera
aku membuka pintu menyambut om.
“Hai cantik”, om selalu menyapa aku
seperti itu. Seneng aku dipuji cantik oleh
om.
“Kok seneng banget kelihatannya”.
“Iya om, seneng bisa berduaan ama om”,
jawabku terus terang.
“Loh kok seneng, kan dah sering jalan ma
om”.
“Iya tapi kan ramean. duduk om. ini
pesenan om yang dititipkan ayah buat om”.
Om duduk di sofa. Memang apartment aku
dan adikku lumayan lengkap perabotannya
walaupun serba minimalis. Di ruang tamu
yang merangkap kamar makan ada
seperangkat sofa, tv, audio system, meja
makan dan pantri kering. Dapur diubah
fungsi sebagai gudang karena makanan
disupply dari apartment ortu.
“Om jalan yuk”, kataku.
“Mo kemana”, tanya om.
“Ke mall yuk”.
“Mo nyari apa?”
“Makan ama liatliat aja. di apartment gak
ada makanan. tadi mama pesen supaya aku
ngajak om nyari makan diluar aja”.
“Emangnya ortu kamu pulangnya kapan.
Adikmu mana?”
“Adik ikut om, pulangnya besok sore kali”.
“Terus kamu takut sendirian, mau om
temenin”. Wah itu yang aku harapkan bisa
berduaan ama om sampe besok.
“Bentar ya om, aku tuker baju dulu”.
Segera aku menghilang kekamarku dan
tukar pakean. Aku gak tau, rupanya om
ngintip ketika aku tuker pakean. Tapi ya
gak tejadi apa2. Kemudian segera aku
keluar apartment nersama om. Dengan
manjanya aku memeluk tangan om. Kami
bermobil ke mal yang deket dengan
apartmentku. Sampe malem aku bener2
have fun bersama om, kami cari makan,
dan setelah makan om ngajak aku nonton
film. Aku ya ok aja, didalem bioskop aku
memegangi tangan om terus, perhatianku
gak pada filmnya tapi pada sosok pria
macho yang duduk disebelah aku.
“Tu orang pada ngeliatin kita, mereka kira
aku om senang yang lagi gaet abg cantik”,
kata om ketika keluar dari bioskop.
“Kamu manja amat sih”.
“Biarin aja”, jawabku.
“Mo kemana lagi nih”.
“Pulang yuk om”.
“ayuk”.
Kami menuju ke tempat parkir dan
langsung kembali ke apartment. Segera
mobil meluncur kembali ke apartment, gak
lama karena apartment dekat dengan mal.
Sesampe di apartment aku segera tuker
dengan pakean rumah lagi. aku kalo
dirumah Memang gak memakai bra. Aku
hanya memakai tanktop ketat sepinggang
dan celana pendek yang juga ketat. kedua
pentilku tampak jelas sekali tercetak di
tanktopku. Si om terpana melihat lekak liku
bodiku yang Memang mengundang selera
lelaki yang melihatnya.
“Kamu beneran mo om temenin”.
“Kalo om gak keberatan”.
“Tapi om gak bawa baju ganti”.
“Nanti aku ambilin celana kolor dan baju
kaos ayah”.
Segera aku keluar apartment, membuka
apartment ortu dan masuk ke kamar ortu
untuk mengambil celana kolor dan kaos
oblong ayah.
“Kegedean kali ya om, ayah kan gendut”,
kataku sembari menyerahkan pakean itu ke
om.
“Gak apa, kan cuma buat bobo”.
Si om masuk ke kamarku, ketika keluar
kamar hanya memakai celana kolor
gombrang dan kaos yang rada kebesaran.
Kelihatannya dia tidak mengenakan CD
karena kontolnya kelihatan jelas tercetak di
celana gombrangnya, kayanya dah ngaceng
deh. Mungkin dia napsu ngeliat bodiku.
Om duduk di sofa nonton tv. Aku duduk
disebelahnya.
“Din kamu seksi sekali. toket kamu besar
juga ya, pasti cowok kamu suka ya, suka
diremes2 ya Din ma cowok kamu”.
“Ih om tau aja”.
“Iya tau lah Din, om kan juga lelaki. Lelaki
mana yan gak suka ngeremes toket montok
seperti toketmu itu”.
“Om suka ngeremes juga ya, terus om
ngeremes siapa, kan gak ada tante”. Om
cuma tersenyum,
“Kamu mau gak om remes”. “Ih om genit
ih”.
“Kamu suka nonton film bokep ya Din”.
“Iya om ma cowok Dina”.
“Dimana nontonnya?”
“Dirumah cowok Dina, dia kan sering
sendirian di rumahnya, ortunya sering pergi
dua2nya, katanya berbisnis”. Terus,
diremes deh”.
“Iya om, abis nonton film gituan kan napsu
juga”.
“Cuma diremes?”
“he he”, aku hanya tertawa. “Kamu dah
sering maen ma cowok kamu ya Din”.
“Gak sering om, cuma ampir tiap malem
minggu”.
“Itu mah sering”, kata om sambil
merangkul pundakku.
Aku merinding ketika om menarikku
merapat kebadannya. Dia mencium pipiku.
“Om bawa film bokep, yang maen orang
indonesia ma bule. mo liat?’
“Mau om, biasanya aku nonton kalo gak
bule, ya cina apa jepun”.
Si om mengambil dvd dari tas yang
dibawanya tdi dan dipasangnya. Segera
filmpun mulai. Ceweknya orang sini,
togepasar lah, jembutnya juga lebat,
sedang si bule krempeng, tapi kontolnya
gede en panjang banget. Biasalah ritual
film bokep saling isep sampe akhirnya si
bule naikin tu prempuan dan masuk deh.
serenade ah uh dimulai. Si om rupanya
sudah dibawah pengaruh napsu berahinya.
Dia menatapku dengan pandangan yang
seakan2 mau menelanjangiku. Segera dia
mencium bibirku, aku menyambutnya.
Lidah kami saling melilit dan kemudian
dijulurkan lidahnya kedalam mulutku.
Segera kuemut lidahnya, kemudian ganti
aku yang menjulurkan lidahku ke mulutnya.
Diapun tidak menyia2kan kesempatan
untuk segera memerah kedua toketku
gantian.
“Din, om dah lama pengen ngeremes toket
kamu”. Pentilku yang dah mulai mengeras
dipilin2 dari luar tanktopku. “Dilepas ya Din
tanktopnya”, katanya seraya menarik
tanktopku keatas.
Dvd dimatikannya karena kami sudah tidak
lagi memperhatikan perilaku ke2 anak
manusia yang berlainan jenis sedang
beraksi di film itu. Toketku sudah telanjang
dihadapannya. Dia segera meremas2
toketku.
“Baru 16 dah besar gini Din toket kamu,
kenceng lagi, om mau ngasi kenikmatan
sama kamu, mau kan”, katanya perlahan
sambil mencium toket ku yang montok. “.
Aku diam saja, mataku terpejam. Dia
mengendus-endus kedua toketku yang
berbau harum sambil sesekali
mengecupkan bibir dan menjilatkan
lidahnya. pentil toket kananku dilahap ke
dalam mulutnya. Badanku sedikit tersentak
ketika pentil itu digencet perlahan dengan
menggunakan lidah dan gigi atasnya.
“Om…”, rintihku, tindakannya
membangkitkan napsuku juga.
Aku menjadi sangat ingin merasakan
kenikmatan dien tot, sehingga aku diam
saja membiarkan dia menjelajahi tubuhku.
Disedot-sedotnya pentil toketku secara
berirama. Mula-mula lemah, lama-lama
agak diperkuat sedotannya. Diperbesar
daerah lahapan bibirnya. Kini pentil dan
toket sekitarnya yang berwarna kecoklatan
itu semua masuk ke dalam mulutnya.
Kembali disedotnya daerah tersebut dari
lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik
wajahku tampak sedikit berubah, seolah
menahan suatu kenikmatan. Kedua toketku
yang harum itu diciumi dan disedot-sedot
secara berirama.
Dibenamkannya wajahnya di antara kedua
belah gumpalan dada ku. Perlahan-lahan
dia bergerak ke arah bawah. Digesek-
gesekkan wajahnya di lekukan tubuhku
yang merupakan batas antara gumpalan
toket dan kulit perutku. Kiri dan kanan
diciumi dan dijilatinya secara bergantian.
Kecupan-kecupan bibir, jilatan-jilatan lidah,
dan endusan-endusan hidungnya pun
beralih ke perut dan pinggangku. Bibir dan
lidahnya menyusuri perut sekeliling
pusarku yang putih mulus. Wajahnya
bergerak lebih ke bawah.
Dengan nafsu yang menggelora dia
memeluk pinggulku secara perlahan-lahan.
Celana pendekku ditariknya kebawah, aku
mengangkat pantatku supaya lebih mudah
dia melepaskan celanaku. Kecupannya pun
berpindah ke CD tipis yang membungkus
pinggulku. Ditelusurinya pertemuan antara
kulit perut dan CD, ke arah pangkal paha.
Dijilatnya helaian-helaian rambut jembutku
yang keluar dari CDku.
“Din, jembut kamu lebat banget ya, pantes
kamu napsunya besar”. Lalu diendus dan
dijilatnya CD pink itu di bagian belahan
bibir nonokku. Aku makin terengah
menahan napsuku, sesekali aku melenguh
menahan kenikmatan yang kurasakan.
Dia melepaskan semua yang nempel
dibadannya sehingga bertelanjang bulat.
Aku terkejut melihat kontolnya yang begitu
besar dan panjang dalam keadaan sangat
tegang. Napsuku bangkit juga melihat
kontolnya, timbul hasratku untuk
merasakan bagaimana nikmatnya kalo
kontol besar itu menggesek keluar masuk
nonokku. Dia bangkit. Dengan posisi berdiri
di atas lutut dikangkanginya tubuhku.
kontolnya yang tegang ditempelkan di kulit
toketku. Kepala kontol digesek-gesekkan di
toketku yang montok itu.
Sambil mengocok batangnya dengan
tangan kanannya, kepala kontolnya terus
digesekkan di toketku, kiri dan kanan.
Setelah sekitar dua menit dia melakukan
hal itu. Diraih kedua belah gumpalan
toketku yang montok itu. Dia berdiri di atas
lutut dengan mengangkangi pinggang
ramping ku dengan posisi badan sedikit
membungkuk. kontolnya dijepitnya dengan
kedua gumpalan toketku. Perlahan-lahan
digerakkannya maju-mundur kontolnya di
cekikan kedua toket ku. Di kala maju,
kepala kontolnya terlihat mencapai pangkal
leherku yang jenjang. Di kala mundur,
kepala kontolnya tersembunyi di jepitan
toketku. L
ama-lama gerak maju-mundur kontolnya
bertambah cepat, dan kedua toketku
ditekannya semakin keras dengan telapak
tangannya agar jepitan di kontolnya
semakin kuat. Dia pun merem melek
menikmati enaknya jepitan toketku.
Akupun mendesah-desah tertahan,
“Ah… hhh… hhh… ah…” kontolnya pun
mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan
tersebut membasahi belahan toketku.
Gerakan maju-mundur kontolnya di dadaku
yang diimbangi dengan tekanan-tekanan
dan remasan-remasan tangannya di kedua
toketnya, menyebabkan cairan itu menjadi
teroles rata di sepanjang belahan dadaku
yang menjepit kontolnya. Cairan tersebut
menjadi pelumas yang memperlancar maju-
mundurnya kontolnya di dalam jepitan
toketku. Dengan adanya sedikit cairan dari
kontolnya tersebut dia terlihat merasakan
keenakan dan kehangatan yang luar biasa
pada gesekan-gesekan batang dan kepala
kontolnya dengan toketku.
“Hih… hhh… … Luar biasa enaknya…,”
dia tak kuasa menahan rasa enak yang tak
terperi. Nafasku menjadi tidak teratur.
Desahan-desahan keluar dari bibirku , yang
kadang diseling desahan lewat hidungku,
“Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…”
Desahan-desahanku semakin membuat
nafsunya makin memuncak.
Gesekan-gesekan maju-mundurnya
kontolnya di jepitan toketku semakin cepat.
kontolnya semakin tegang dan keras.
“Enak sekali, Din”, erangnya tak
tertahankan.
Dia menggerakkan kontolnya maju-mundur
di jepitan toketku dengan semakin cepat.
Alis mataku bergerak naik turun seiring
dengan desah-desah perlahan bibirku
akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan,
dan kocokan-kocokan di toketku. Ada
sekitar lima menit dia menikmati rasa
keenakan luar biasa di jepitan toketku itu.
Toket sebelah kanan dilepas dari telapak
tangannya. Tangan kanannya lalu
membimbing kontol dan menggesek-
gesekkan kepala kontol dengan gerakan
memutar di kulit toketku yang halus mulus.
Sambil jari-jari tangan kirinya terus
meremas toket kiriku, kontolnya digerakkan
memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah
perut. Dan di sekitar pusarku, kepala
kontolnya digesekkan memutar di kulit
perutku yang putih mulus, sambil sesekali
disodokkan perlahan di lobang pusarku.
Dicopotnya CD minimku. Pinggulku yang
melebar itu tidak berpenutup lagi. Kulit
perutku yang semula tertutup CD tampak
jelas sekali. Licin, putih, dan amat mulus.
Di bawah perutku, jembutku yang hitam
lebat menutupi daerah sekitar nonokku.
Kedua paha mulusku direnggangkannya
lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah
perutku terkuak, mempertontonkan
nonokku. Dia pun mengambil posisi agar
kontolnya dapat mencapai nonokku dengan
mudahnya. Dengan tangan kanan
memegang kontol, kepalanya digesek-
gesekkannya ke jembutku. Kepala
kontolnya bergerak menyusuri jembut
menuju ke nonokku. Digesek-gesekkan
kepala kontol ke sekeliling bibir nonokku.
Terasa geli dan nikmat. Kepala kontol
digesekkan agak ke arah nonokku. Dan
menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama
dinding mulut nonokku menjadi basah.
Digetarkan perlahan-lahan kontolnya sambil
terus memasuki nonokku.
Kini seluruh kepala kontolnya yang berhelm
pink tebenam dalam jepitan mulut
nonokku. Kembali dari mulutku keluar
desisan kecil karena nikmat tak terperi.
Kontolnya semakin tegang. Sementara
dinding mulut nonokku terasa semakin
basah. Perlahan-lahan kontolnya
ditusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal
separuh kontol yang tersisa di luar. Secara
perlahan dimasukkan kontolnya ke dalam
nonokku. Terbenam sudah seluruh
kontolnya di dalam nonokku. Sekujur kontol
sekarang dijepit oleh nonokku . Secara
perlahan-lahan digerakkan keluar-masuk
kontolnya ke dalam nonokku. Sewaktu
keluar, yang tersisa di dalam nonokku
hanya kepalanya saja. Sewaktu masuk
seluruh kontol terbenam di dalam nonokku
sampai batas pangkalnya.
Dia terus memasuk-keluarkan kontolnya ke
lobang nonokku. Alis mataku terangkat
naik setiap kali kontolnya menusuk masuk
nonokku secara perlahan. Bibir segarku
yang sensual sedikit terbuka, sedang
gigiku terkatup rapat. Dari mulut sexy ku
keluar desis kenikmatan,
“Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh…
sssh…” Dia terus mengocok perlahan-
lahan nonokku. Enam menit sudah hal itu
berlangsung. Kembali dikocoknya secara
perlahan nonokku sampai selama dua
menit.
Kembali ditariknya kontolnya dari nonokku.
Namun tidak seluruhnya, kepala kontol
masih dibiarkannya tertanam dalam
nonokku. Sementara kontol dikocoknya
dengan jari-jari tangan kanannya dengan
cepat Rasa enak itu agaknya kurasakan
pula. Aku mendesah-desah akibat
sentuhan-sentuhan getar kepala kontolnya
pada dinding mulut nonokku,
“Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…”
Tiga menit kemudian dimasukkannya lagi
seluruh kontolnya ke dalam nonokku. Dan
dikocoknya perlahan. Sampai kira-kira
empat menit.
Lama-lama dia mempercepat gerakan
keluar-masuk kontolnya pada nonokku.
Sambil tertahan-tahan, dia mendesis-desis,
“Din… nonokmu luar biasa… nikmatnya…”
Gerakan keluar-masuk secara cepat itu
berlangsung sampai sekitar empat menit.
Tiba-tiba dicopotnya kontol dari nonokku.
Segera dia berdiri dengan lutut
mengangkangi tubuhku agar kontolnya
mudah mencapai toketku. Kembali
diraihnya kedua belah toket montok ku
untuk menjepit kontolnya yang berdiri
dengan amat gagahnya. Agar kontolnya
dapat terjepit dengan enaknya, dia agak
merundukkan badannya. Kontol dikocoknya
maju-mundur di dalam jepitan toketku.
Cairan nonokku yang membasahi kontolnya
kini merupakan pelumas pada gesekan-
gesekan kontolnya dan kulit toketku.
“Oh…hangatnya… Sssh… nikmatnya…
Tubuhmu luarrr biasa…”, dia merintih-
rintih keenakan. Aku juga mendesis-desis
keenakan,
“Sssh.. sssh… sssh…” Gigiku tertutup
rapat. Alis mataku bergerak ke atas ke
bawah.
Dia mempercepat maju-mundurnya
kontolnya. Dia memperkuat tekanan pada
toketku agar kontolnya terjepit lebih kuat.
Karena basah oleh cairan nonokku, kepala
kontolnya tampak amat mengkilat di saat
melongok dari jepitan toketku. Leher kontol
yang berwarna coklat tua dan helm kontol
yang berwarna pink itu menari-nari di
jepitan toketku. Semakin dipercepat
kocokan kontolnya pada toketku. Tiga
menit sudah kocokan hebat kontolnya di
toket montok ku berlangsung. Dia makin
cepat mengocokkan kontol di kempitan
toket indah ku. Akhirnya dia tak kuasa lagi
membendung jebolnya tanggul
pertahanannya.
“Din..!” pekiknya dengan tidak tertahankan.
Matanya membeliak-beliak. Jebollah
pertahanannya.
Kontolnya menyemburkan peju. Crot! Crot!
Crot! Crot! Pejunya menyemprot dengan
derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali
semprotannya, sampai menghantam
rahangku. Peju tersebut berwarna putih
dan kelihatan sangat kental. Dari rahang
peju mengalir turun ke arah leherku. Peju
yang tersisa di dalam kontolnya pun
menyusul keluar dalam tiga semprotan.
Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya
lemah. Semprotan awal hanya sampai
pangkal leherku, sedang yang terakhir
hanya jatuh di atas belahan toketku. Dia
menikmati akhir-akhir kenikmatan.
“Luar biasa…Din, nikmat sekali
tubuhmu…,” dia bergumam.
“Kok gak dikeluarin di dalem aja om”,
kataku lirih.
“Gak apa kalo om ngecret didalem Din”,
jawabnya.
“Gak apa om, biasanya cowokku juga
ngecret didalem kok om. Tapi belum dien
tot juga aku ngerasa nikmat sekali om”,
kataku lagi.
“Ini baru ronde pertama Din, mau lagi kan
ronde kedua”, katanya.
“Mau om, tapi ngecretnya didalem ya”,
jawabku. “Kok tadi kamu diem aja Din”,
katanya lagi.
“Bingung om, tapi nikmat”, jawabku sambil
tersenyum.
“Engh…” aku menggeliatkan badanku.
Dia segera mengelap kontol dengan tissue
yang ada di atas meja, dan mengelap peju
yang berleleran di rahang, leher, dan
toketku. Ada yang tidak dapat dilap, yakni
cairan peju yang sudah terlajur jatuh di
rambut ku.
“Mo kemana om”, tanyaku.
“Mo ambil minum dulu”, jawabnya.
Dia kembali membawa gelas berisi air
putih, diberikannya kepada ku yang
langsung kutenggak sampe habis. Dia
kembali lagi untuk mengisi gelas dengan
air. Masih tidak puas dia memandangi
toket indahku yang terhampar di depan
matanya. Dia memandang ke arah
pinggangku yang ramping dan pinggulku
yang melebar indah. Terus tatapannya
jatuh ke nonokku yang dikelilingi oleh
jembut hitam jang lebat. Aku ingin
mengulangi permainan tadi, digeluti,
didekap kuat. Mengocok nonokku dengan
kontolnya dengan irama yang menghentak-
hentak kuat. Dan dia dapat menyemprotkan
pejunya di dalam nonokku sambil
merengkuh kuat-kuat tubuhnya saat aku
nyampe. Nafsuku terbakar. Aku diajaknya
kekamar. Aku berbaring diranjang dan dia
disebelahku.
“Din…,” desahnya penuh nafsu. Bibirnya
pun menggeluti bibirku. Bibir sensualku
yang menantang itu dilumat-lumat dengan
ganasnya. Sementara aku pun tidak mau
kalah. Bibirku pun menyerang bibirnya
dengan dahsyatnya, seakan tidak mau
kedahuluan oleh lumatan bibirnya. Kedua
tangannyapun menyusup diantara
lenganku. Tubuhku sekarang berada dalam
dekapannya. Dia mempererat dekapannya,
sementara aku pun mempererat pelukanku
pada dirinya. Kehangatan tubuhnya terasa
merembes ke badanku, toketku yang
membusung terasa semakin menekan
dadanya. Aku meremas-remas kulit
punggungnya. Aku mencopot celananya
dan merangkul punggungnya lagi.
Dia kembali mendekap erat tubuhku sambil
melumat kembali bibirku. Dia terus
mendekap tubuhku sambil saling melumat
bibir. Sementara tangan kami saling
meremas-remas kulit punggung.
Kehangatan menyertai tubuh bagian depan
kami yang saling menempel. Kini
kurasakan toketku yang montok menekan
ke dadanya. Dan ketika saling sedikit
bergeseran, pentilku seolah-olah
menggelitiki dadanya. Kontolnya terasa
hangat dan mengeras. Tangan kirinya pun
turun ke arah perbatasan pinggang
ramping dan pinggul besar ku,
menekannya kuat-kuat dari belakang ke
arah perutnya. Kontolnya tergencet diantara
perut bawahku dan perut bawahnya.
Sementara bibirnya bergerak ke arah
leherku, diciumi, dihisap-hisap dengan
hidungnya, dan dijilati dengan lidahnya.
“Ah… geli… geli…,” desahku sambil
menengadahkan kepala, agar seluruh leher
sampai daguku terbuka dengan luasnya.
Aku pun membusungkan dadaku dan
melenturkan pinggangku ke depan. Dengan
posisi begitu, walaupun wajahnya dalam
keadaan menggeluti leherku, tubuh kami
dari dada hingga bawah perut tetap dapat
menyatu dengan rapatnya.
Tangan kanannya lalu bergerak ke dadaku
yang montok, dan meremas-remas toketku
dengan perasaan gemas. Setelah puas
menggeluti leherku, wajahnya turun ke
arah belahan dadaku. Dia berdiri dengan
agak merunduk. Tangan kirinya pun
menyusul tangan kanan, yakni bergerak
memegangi toket. Digeluti belahan toketku,
sementara kedua tangannya meremas-
remas kedua belah toketku sambil
menekan-nekankannya ke arah wajahnya.
Digesek-gesekkan memutar wajahnya di
belahan toketku. Bibirnya bergerak ke atas
bukit toket sebelah kiri. Diciuminya bukit
toketku, dan dimasukkan pentil toketku ke
dalam mulutnya. Kini dia menyedot-sedot
pentil toket kiriku. Di ainkan pentilku di
dalam mulutnya dengan lidah. Sedotan
kadang diperbesar ke puncak bukit toket di
sekitar pentil yang berwarna coklat.
“Ah… ah… om…geli…,” aku mendesis-
desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-
kanan. Dia memperkuat sedotannya.
Sementara tangannya meremas kuat toket
sebelah kanan. Kadang remasan diperkuat
dn diperkecil menuju puncak, dan diakhiri
dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk
dan ibu jarinya pada pentilku.
“Om… hhh… geli… geli… enak… enak…
ngilu…ngilu…” Dia semakin gemas.
Toketku dimainkan secara bergantian,
antara sebelah kiri dan sebelah kanan.
Bukit toket kadang disedot sebesar-
besarnya dengan tenaga isap sekuat-
kuatnya, kadang yang disedot hanya
pentilku dan dicepit dengan gigi atas dan
lidah. Belahan lain kadang diremas dengan
daerah tangkap sebesar-besarnya dengan
remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya
dipijit-pijit dan dipelintir-pelintir kecil pentil
yang mencuat gagah di puncaknya.
“Ah…om… terus… hzzz…ngilu…
ngilu…” aku mendesis-desis keenakan.
Mataku kadang terbeliak-beliak. Geliatan
tubuhku ke kanan-kiri semakin sering
frekuensinya. Sampai akhirnya aku tidak
kuat melayani serangan-serangan awalnya.
Jari-jari tangan kananku yang mulus dan
lembut menangkap kontolnya yang sudah
berdiri dengan gagahnya. “Om.. kontolnya
besar ya”, ucapku. Sambil membiarkan
mulut, wajah, dan tangannya terus
memainkan dan menggeluti kedua belah
toketku, jari-jari lentik tangan kananku
meremas-remas perlahan kontolnya secara
berirama.
Dia merengkuh tubuhku dengan gemasnya.
Dikecupnya kembali daerah antara telinga
dan leherku. Kadang daun telinga sebelah
bawahnya dikulum dalam mulutnya dan
dimainkan dengan lidahnya. Kadang
ciumannya berpindah ke punggung leherku
yang jenjang. Dijilati pangkal helaian
rambutku yang terjatuh di kulit leherku.
Sementara tangannya mendekap dadaku
dengan eratnya. Telapak dan jari-jari
tangannya meremas-remas kedua belah
toketku. Remasannya kadang sangat kuat,
kadang melemah. Sambil telunjuk dan ibu
jari tangan kanannya menggencet dan
memelintir perlahan pentil toket kiriku,
sementara tangan kirinya meremas kuat
bukit toket kananku dan bibirnya menyedot
kulit mulus pangkal leherku yang bebau
harum, kontolnya digesek-gesekkan dan
ditekan-tekankan ke perutku. Aku pun
menggelinjang ke kiri-kanan.
“Ah… om… ngilu… terus om… terus…
ah… geli… geli…terus… hhh… enak…
enaknya… enak…,” aku merintih-rintih
sambil terus berusaha menggeliat ke kiri-
kanan dengan berirama sejalan dengan
permainan tangannya di toketku. Akibatnya
pinggulku menggial ke kanan-kiri.
“Din.. enak sekali Din… sssh… luar
biasa… enak sekali…,” diapun mendesis-
desis keenakan.
“Om keenakan ya? kontol om terasa besar
dan keras sekali menekan perut aku.
Wow… kontol om terasa hangat di kulit
perut aku. Tangan om nakal sekali …
ngilu,…,” rintihku.
“Jangan mainkan hanya pentilnya saja…
geli… remas seluruhnya saja…” aku
semakin menggelinjang-gelinjang dalam
dekapan eratnya.
Aku sudah makin liar saja desahannya, aku
sangat menikmati gelutannya, lupa bahwa
dia ini om suamiku.
“Om.. remasannya kuat sekali… Tangan
om nakal sekali..Sssh… sssh… ngilu…
ngilu…Ak… kontol om … besar sekali…
kuat sekali…”
Aku menarik wajahnya mendekat ke
wajahku. Bibirku melumat bibirnya dengan
ganasnya. Dia pun tidak mau kalah.
Dilumatnya bibirku dengan penuh nafsu
yang menggelora, sementara tangannya
mendekap tubuhku dengan kuatnya. Kulit
punggungku yang teraih oleh telapak
tangannya diremas-remas dengan
gemasnya. Kemudian dia menindihi
tubuhku. Kontolnya terjepit di antara
pangkal pahaku dan perutnya bagian
bawah. Akhirnya dia tidak sabar lagi.
Bibirnya kini berpindah menciumi dagu dan
leherku, sementara tangannya membimbing
kontolnya untuk mencari nonokku.
Diputar-putarkan dulu kepala kontolnya di
kelebatan jembut disekitar bibir nonokku.
Aku meraih kontolnya yang sudah amat
tegang. Pahaku yang mulus itu terbuka
agak lebar. “Om kontolnya besar dan keras
sekali” kataku sambil mengarahkan kepala
kontolnya ke nonokku. Kepala kontolnya
menyentuh bibir nonokku yang sudah
basah. Dengan perlahan-lahan dan sambil
digetarkan, kontol ditekankan masuk ke
kunonok. Kini seluruh kepala kontolnya pun
terbenam di dalam nonokku. Dia
menghentikan gerak masuk kontolnya.
“Om… teruskan masuk… Sssh… enak…
jangan berhenti sampai situ saja…,” aku
protes atas tindakannya.
Namun dia tidak perduli. Dibiarkan
kontolnya hanya masuk ke nonokku hanya
sebatas kepalanya saja, namun kontolnya
digetarkan dengan amplituda kecil.
Sementara bibir dan hidungnya dengan
ganasnya menggeluti leherku yang jenjang,
lengan tanganku yang harum dan mulus,
dan ketiakku yang bersih dari bulu. Aku
menggelinjang-gelinjang dengan tidak
karuan.
“Sssh… sssh…enak… enak… geli..geli,
om. Geli… Terus masuk, om..” Bibirnya
mengulum kulit lengan tanganku dengan
kuat-kuat.
Sementara tenaga dikonsentrasikan pada
pinggulnya. Dan…satu… dua… tiga!
kontolnya ditusukkan sedalam-dalamnya ke
dalam nonokku dengan sangat cepat dan
kuat. Plak! Pangkal pahanya beradu
dengan pangkal pahaku yang sedang
dalam posisi agak membuka dengan
kerasnya. Sementara kontolnya bagaikan
diplirid oleh bibir nonokku yang sudah
basah dengan kuatnya sampai
menimbulkan bunyi: srrrt!
“Auwww!” pekikku. Dia diam sesaat,
membiarkan kontolnya tertanam seluruhnya
di dalam nonokku tanpa bergerak sedikit
pun.
“Sakit om… ” kataku sambil meremas
punggungnya dengan keras.
Dia pun mulai menggerakkan kontolnya
keluar-masuk nonokku. Seluruh bagian
kontolnya yang masuk nonokku dipijit-pijit
dinding lobang nonokku dengan agak
kuatnya.
“Bagaimana Din, sakit?” tanyaku.
“Sekarang sudah enggak om…ssh… enak
sekali… enak sekali… kontol om besar dan
panjang sekali… sampai-sampai
menyumpal penuh seluruh penjuru nonok
aku..,” jawabku. Dia terus memompa
nonokku dengan kontolnya perlahan-lahan.
Toketku yang menempel di dadanya ikut
terpilin-pilin oleh dadanya akibat gerakan
memompa tadi. Kedua pentilku yang sudah
mengeras seakan-akan mengkilik-kilik
dadanya. Kontolnya diiremas-remas dengan
berirama oleh otot-otot nonokku sejalan
dengan genjotannya tersebut. Sementara
setiap kali menusuk masuk kepala
kontolnya menyentuh suatu daging hangat
di dalam nonokku. Sentuhan tersebut
serasa geli-geli nikmat. Dia mengangkat
kedua kakiku. Sambil menjaga agar
kontolnya tidak tercabut dari nonokku, dia
mengambil posisi agak jongkok. Betis
kananku ditumpangkan di atas bahunya,
sementara betis kiriku didekatkan ke
wajahnya.
Sambil terus mengocok nonokku perlahan
dengan kontolnya, betis kiriku yang amat
indah itu diciumi dan dikecupi dengan
gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri,
ganti betis kanannya yang diciumi dan
digeluti, sementara betis kiriku
ditumpangkan ke atas bahunya. Begitu hal
tersebut dilakukan beberapa kali secara
bergantian, sambil mempertahankan
gerakan kontolnya maju-mundur perlahan
di nonok ku. Setelah puas dengan cara
tersebut, dia meletakkan kedua betisku di
bahunya, sementara kedua telapak
tangannya meraup kedua belah toketku.
Masih dengan kocokan kontol perlahan di
nonokku, tangannya meremas-remas toket
montok ku. Kedua gumpalan daging kenyal
itu diremas kuat-kuat secara berirama.
Kadang kedua pentilku digencet dan
dipelintir-pelintir secara perlahan. Pentilku
semakin mengeras, dan bukit toketku
semakin terasa kenyal di telapak
tangannya. Aku pun merintih-rintih
keenakan. Mataku merem-melek, dan alisku
mengimbanginya dengan sedikit gerakan
tarikan ke atas dan ke bawah.
“Ah…om, geli… geli… … Ngilu om,
ngilu… Sssh… sssh… terus om, terus….
kontol om membuat nonok aku merasa
enak sekali… Nanti jangan dingecretinkan
di luar nonok, ya om. Ngecret di dalam
saja… ” Dia mulai mempercepat gerakan
masuk-keluar kontolnya di nonokku. “Ah-
ah-ah… bener, om. Bener… yang cepat…
Terus om, terus… ” Dia bagaikan diberi
spirit oleh rintihan-rintihanku.
Tenaganya menjadi berlipat ganda.
Ditingkatkan kecepatan keluar-masuk
kontolnya di nonokku. Terus dan terus.
Seluruh bagian kontolnya diremas-remas
dengan cepatnya oleh nonokku. Aku
menjadi merem-melek. Begitu juga dirinya,
dia pun merem-melek dan mendesis-desis
karena merasa keenakan yang luar biasa.
“Sssh… sssh… Din… enak sekali… enak
sekali nonokmu… enak sekali nonokmu…”
“Ya om, aku juga merasa enak sekali…
terusss…terus om, terusss…” Dia
meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk
kontolnya pada nonokku.
“Om… sssh… sssh… Terus… terus… aku
hampir nyampe…sedikit lagi… sama-sama
ya om…,” aku jadi mengoceh tanpa
kendali. Dia mengayuh terus. Sementara itu
nonokku berdenyut dengan hebatnya.
“Om… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar
om… mau keluar..ah-ah-ah-ah-ah…
sekarang ke-ke-ke…” Tiba-tiba kontolnya
dijepit oleh dinding nonok ku dengan
sangat kuatnya.
Di dalam nonokku, kontolnya disemprot
oleh cairan yang keluar dari nonokku
dengan cukup derasnya. Dan aku meremas
lengan tangannya dengan sangat kuatnya.
Aku pun berteriak tanpa kendali:
“…keluarrr…!” Mataku membeliak-beliak.
Sekejap tubuh kurasakan mengejang. Dia
pun menghentikan genjotannya.
Kontolnya yang tegang luar biasa dibiarkan
tertanam dalam nonokku. Aku memejam
beberapa saat dalam menikmati puncak.
Setelah sekitar satu menit berlangsung,
remasan tanganku pada lengannya
perlahan-lahan mengendur. Kelopak
mataku pun membuka, memandangi
wajahnya. Sementara jepitan dinding
nonokku pada kontolnya berangsur-angsur
melemah, walaupun kontolnya masih
tegang dan keras. Kedua kakiku lalu
diletakkan kembali di atas ranjang dengan
posisi agak membuka. Dia kembali
menindih tubuh telanjangku dengan
mempertahankan agar kontolnya yang
tertanam di dalam nonokku tidak tercabut.
“Om… luar biasa… rasanya seperti ke
langit ke tujuh,” kataku dengan mimik
wajah penuh kepuasan.
Kontolnya masih tegang di dalam nonokku.
Kontolnya masih besar dan keras. Dia
kembali mendekap tubuhku. Kontolnya
mulai bergerak keluar-masuk lagi di
nonokku, namun masih dengan gerakan
perlahan. Dinding nonokku secara
berangsur-angsur terasa mulai meremas-
remas kontolnya. Namun sekarang gerakan
kontolnya lebih lancar dibandingkan
dengan tadi. Pasti karena adanya cairan
yang disemprotkan oleh nonokku beberapa
saat yang lalu.
“Ahhh…om… langsung mulai lagi…
Sekarang giliran om.. semprotkan peju om
di nonok aku.. Sssh…,” aku mulai
mendesis-desis lagi.
Bibirnya mulai memagut bibirku dan
melumat-lumatnya dengan gemasnya.
Sementara tangan kirinya ikut menyangga
berat badannya, tangan kanannya
meremas-remas toket ku serta memijit-mijit
pentilnya, sesuai dengan irama gerak maju-
mundur kontolnya di nonokku.
“Sssh… sssh… sssh… enak om, enak…
Terus…teruss… terusss…,” desisku.
Sambil kembali melumat bibirku dengan
kuatnya, dia mempercepat genjotan
kontolnya di nonokku. Pengaruh adanya
cairan di dalam nonokku, keluar-masuknya
kontol pun diiringi oleh suara,
“srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Aku
tidak henti-hentinya merintih kenikmatan,
“Om… ah… ” Kontolnya semakin tegang.
Dilepaskannya tangan kanannya dari
toketku.
Kedua tangannya kini dari ketiak ku
menyusup ke bawah dan memeluk
punggungku. Akupun memeluk
punggungnya dan mengusap-usapnya. Dia
pun memulai serangan dahsyatnya. Keluar-
masuknya kontolnya ke dalam nonok ku
sekarang berlangsung dengan cepat dan
bertenaga. Setiap kali masuk, kontol
dihunjamkan keras-keras agar menusuk
nonokku sedalam-dalamnya. Kontolnya
bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat
oleh dinding nonokku. Sampai di langkah
terdalam, aku membeliak sambil
mengeluarkan seruan tertahan,
“Ak!” Sementara daging pangkal pahanya
bagaikan menampar daging pangkal
pahaku sampai berbunyi: plak! Di saat
bergerak keluar nonokku, kontolnya dijaga
agar kepalanya tetap tertanam di nonokku.
Remasan dinding nonokku pada kontolnya
pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah
dibanding dengan gerak masuknya. Bibir
nonokku yang mengulum kontolnya pun
sedikit ikut tertarik keluar. Pada gerak
keluar ini akumendesah,
“Hhh…” Dia terus menggenjot nonokku
dengan gerakan cepat dan menghentak-
hentak.
Aku meremas punggungnya kuat-kuat di
saat kontol dihunjam masuk sejauh-
jauhnya ke nonokku. Beradunya daging
pangkal paha menimbulkan suara: Plak!
Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara
kontolnya dan nonokku menimbulkan bunyi
srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrt…
Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh
pekikan-pekikan kecilku:
“Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”
“Din… Enak sekali Din… nonokmu enak
sekali… nonokmu hangat sekali… jepitan
nonokmu enak sekali…”
“Om… terus om…,” rintihku,
“enak om… enaaak… Ak! Hhh…” Diapun
mengocokkan kontolnya ke nonokku
dengan semakin cepat dan kerasnya.
Setiap masuk ke dalam, kontolnya berusaha
menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat
lagi dibandingkan langkah masuk
sebelumnya.
“Din… aku… aku…” Karena menahan rasa
nikmat yang luar biasa dia tidak mampu
menyelesaikan ucapannya yang Memang
sudah terbata-bata itu.
“Om, aku… mau nyampe lagi… Ak-ak-
ak… aku nyam…” Tiba-tiba kontolnya
mengejang dan berdenyut dengan amat
dahsyatnya.
Dia tidak mampu lagi menahan lebih lama
lagi. Namun pada saat itu juga tiba-tiba
dinding nonok ku mencekik kuat sekali.
Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali
itu, dia tidak mampu lagi menahan jebolnya
bendungan pejunya. Pruttt! Pruttt! Pruttt!
Kepala kontolnya disemprot cairan
nonokku, bersamaan dengan pekikanku,
“…nyampee…!” Tubuhku mengejang
dengan mata membeliak-beliak.
“Din…!” dia melenguh keras-keras sambil
merengkuh tubuhku sekuat-kuatnya.
Wajahnya dibenamkan kuat-kuat di leherku
yang jenjang. Pejunya pun tak terbendung
lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Pejunya
menyembur dengan derasnya, menyemprot
dinding nonokku yang terdalam. Kontolnya
yang terbenam semua di dalam nonokku
terasa berdenyut-denyut. Beberapa saat
lamanya kami terdiam dalam keadaan
berpelukan erat sekali.
Dia menghabiskan sisa-sisa peju dalam
kontolnya. Cret! Cret! Cret! kontolnya
menyemprotkan lagi peju yang masih
tersisa ke dalam nonokku. Kali ini
semprotannya lebih lemah. Perlahan-lahan
baik tubuhku maupun tubuhnya tidak
mengejang lagi. Dia menciumi leher
mulusku dengan lembutnya, sementara aku
mengusap-usap punggungnya dan
mengelus-elus rambutnya. Aku merasa
puas sekali dien tot om. Ini baru awal
permainan, karena si om akan nemani aku
sampe besok sore, bayangkan berapa
besarnya kenikmatan yang akan aku
peroleh dari kontol si om.


UNTUK INFO LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI CONTACT KITA DI BAWAH INIemail yahoo / ym : asli4d@yahoo.comgmail : asli4d@gmail.comtwitter : asli4d_officialskype : asli4dpin bbm : 2B915CD1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar