[12:02:30 PM] Indo Nalo:
close

Minggu, 09 Agustus 2015

Cerita Seks: Aku Dientotin Diatas Kereta Api







Cerita Seks: Aku Dientotin Diatas Kereta Api |
Perkenalkan, nama saya Maimunah, saya sering
dipanggil Munah atau Monah. Almarhum suami saya
adalah seorang Kapten kapal suatu perusahaan
angkutan laut swasta. Umur saya sekarang 46 tahun,
dengan dua orang anak yang sudah berumah tangga.
Meskipun umur hampir setengah abad, kata orang saya
masih cantik dan seksi. Pekerjaan saya sekarang adalah
sebagai pedagang konveksi, bahan pakaian saya buat di
Yogyakarta, dan dikirim ke Jakarta. Tulisan di bawah ini
adalah pengalaman pribadi saya waktu pertama kali
berkencan dengan pacar saya.
Cerita Seks Terbaru: Aku Dientotin Diatas Kereta Api –
Entah sudah berapa kali saya naik kereta api malam
begini, baru malam ini hati saya berdebar-debar. Ada
yang saya takuti? Sama sekali tidak. Jantung saya
berdebar-debar karena penumpang di samping saya
yang sejak tadi merebahkan kepalanya di atas bahuku.
Penumpang itu, seorang laki-laki ganteng yang
memperkenalkan dirinya, namanya Nana Permana. Dia
berumur kurang lebih 20 tahun lebih muda dari saya,
dengan tubuh yang tegap dan kulitnya yang bersih.
Meskipun sebagian besar penumpang di atas K.A. VIP
Argo Dwipangga sudah lelap, mata saya bahkan tidak
mau saya pejamkan. Padahal waktu itu arloji sudah
menujukkan pada angka satu. Jam satu malam. Tidak
ada lagi suara orang bercakap-cakap atau bergurau.
Semua sudah larut dalam mimpinya sendiri-sendiri.
Jantungku tambah berdebar ketika dari balik selimutnya,
pemuda tadi menyentuh dada saya yang juga tertutup
selimut.
Ketika jari-jari tangan kanannya mulai meraba-raba
payudara saya, rasanya saya mau berteriak keras-keras
ingin memberontak karena kehormatan saya sebagai
janda seorang Kapten kapal sedang dinodai. Tetapi saya
malu. Nanti orang segerbong akan terbangun semua.
Terpaksa saya biarkan saja. Rabaannya makin lama
makin aktif. Mula-mula dielus-elusnya seluruh
permukaan buah dada saya, lalu diremasnya pelan-
pelan. Kadang, buah dada saya ditekan-tekan, lalu
diremas-remas lagi. Demikian berganti-ganti payudara
kanan dan kiri. Setelah meraba, menekan dan meremas-
remas, putingnya dipilin-pilin di antara jari telunjuk dan
ibu jarinya. Mula-mula terasa geli, tetapi lama kelamaan
terasa nikmat. Payudara saya memang besar, seperti
juga pantat saya. Meskipun payudara saya itu tidak lagi
kencang seperti waktu muda, tetapi isinya masih padat.
Perasaan apa ini? Mungkin perasaan nikmat yang tidak
pernah saya rasakan lagi setelah 10 tahun ditinggal
suamiku karena dia telah meninggal. Sejak itu, buah
dadaku tidak ada yang meraba, demikian juga vaginaku
tidak ada lagi yang “mengisi”. Tetapi malam ini,
kurasakan kembali kenikmatan itu. Apalagi tangan kiri
Mas Nana, juga mulai meraba pantatku.
Tidak itu saja. Tangan pemuda itu juga mulai turun,
mengelus-ngelus perutku. Ke bawah lagi, tangan itu
menggelitik vaginaku. Mula-mula bibir vaginaku diusap-
usap dengan keempat jarinya, sambil ibu jarinya
menekan-nekan klitorisku. Rasanya semakin nikmat.
Kini saya tidak lagi dan berniat akan berteriak. Saya
menikmati perangsangan pada vaginaku. Belum lagi
sesekali jari telunjuknya dimasukkan ke liang vagina.
Pelan-pelan jari itu diputar mengelilingi seluruh dinding
vagina, sambil dimasukkan lewat bibir vagina dalam
(labia minora). Aduh, bukan makin. Birahiku semakin
terbangun setelah sekian lama saya tidak merasakan
birahi yang memang sudah saya tunggu-tunggu. Cairan
vagina mulai merembes dari dalam vagina. Saya rasakan
debar jantung saya semakin kuat, nafasku sedikit
tersengal. Tetapi di tengah gejolak berahiku tersebut,
pemuda tadi berbisik, “Kita lanjutkan, di kamar kecil.
Saya tunggu!”
Entah setan betina mana yang telah merasuki tubuhku.
Yang jelas, bagaikan kerbau dicocok hidungnya,
beberapa menit kemudian, saya menyusul pemuda tadi.
Sampai di depan kamar kecil, pintunya sudah dibuka
oleh Mas Nana. Saya kemudian masuk.
“Aduh… ibu cantik sekali…”
Tersentak juga saya mendengar ucapan pemuda tadi
(Cantikkah saya?), tentu. Mana ada janda seorang
Kapten kapal yang tidak cantik. Kalaupun ada,
jumlahnya tidak banyak. Seberapa cantikkah? Tidak
perlu susah-susah membayangkan. Kata orang, saya
mirip artis film hot Eva Arnaz, itu artis yang lama
pacaran dengan Adi Bing Slamet itu. Namun belum
sempat saya menyambut ucapan pemuda yang
wajahnya imut-imut mirip bintang sintron Anjasmara,
leherku sudah dipeluk dengan kedua tangannya.
Bibirnya segera menerkam dan melumat bibir saya.
Ditekannya kuat-kuat, sampai hidung saya tertindih
hidung Mas Nana. Karena jadi sulit bernafas, tanganku
mendorong dada Mas Nana. Tetapi Mas Nana
bukannya mundur, tetapi justru serangannya semakin
menggebu, hanya sekarang ke wilayah leher, bawah
telinga, serta daerah dagu. Itu semua adalah daerah
yang sensitif bagi wanita. Mungkin parfum lembut yang
saya pakai ikut juga merangsang nafsu birahi Mas
Nana, terlihat dari gerakannya yang seperti harimau
kelaparan yang ingin cepat-cepat merobek dan
memamah mangsanya. Saya sendiri sangat terangsang
dengan bau parfum rambut dan body-lotion Mas Nana.
Dan gelegak birahiku itu cukup dipuasi dengan amukan
nafsu birahi serangan total Mas Nana.
Disamping wajahnya yang dienduskan ke seluruh tubuh
saya, kedua tangannya seolah memegang kemudi yaitu
buah dada saya. Meremas, menggoyang-goyang,
memutar-memutar dan entah diapakan lagi, semuanya
memberikan kenikmatan yang luar biasa. Dengan
menempelkan penisnya ke vagina saya, saya seolah
diajak terbang memasuki alam maya surga kenikmatan
yang sudah lama tidak saya rasakan. Pegangannya ke
payudaraku kadang dipindahkan ke alat vital saya,
dielus-elus, ditarik-tarik klitorisnya. Rasanya diperlukan
lima pasang tangan lagi untuk dapat meraba,
menggerayangi, memijat-mijat seluruh tubuhku yang
sintal ini sekaligus. Kemudian pindah lagi, sekarang
kedua telapak tangannya mencubit dan mencowel
pantatku seperti mencowel kue.
Karena terasa sakit, dengan manja saya membisikkan,
“Sakit Mas…”
“Habis gemes siih…” jawabnya sambil mencowel lagi.
“Aduhh… Mas… jangan… sakit… sakit sekali… Mas
nakal…” desahku
Lama-lama saya tidak kuat lagi bergumul sambil berdiri
seperti ini. Denyut jantungku makin meningkat,
mengalirkan aliran listrik kebirahian di sekujur tubuhku.
Ditambah lagi dengan sentuhan benda bulat, padat dan
hangat yang sejak tadi berada di antara kedua pahaku.
“Mas Nana… saya sudah ngga kuat Mas… masukkan
sekarang Mas…”
“He ehh.. iya… iya… sayang…” katanya terbata-bata.
Saya didudukkan di atas wastafel, setengah duduk
setengah berdiri. Dan benda nikmat itu pelan-pelan
dimasukkan ke liang vagina saya.
“Bleeessss..,” bunyi batang kejantanannya memasuki
liang nikmatku.
“Aduh… nikmatnya…” teriakku dalam hati.
Setelah masuk, penis itu tetap diam, tidak ditarik
keluar. Ini merangsang dinding bagian dalam vaginaku
yang langsung mulai meremas-remas benda hangat
tadi. Saya rasakan vaginaku seperti berdenyut.
Orgasmus. Oh… alangkah nikmatnya. Meremas secara
ritmis, mula-mula kuat, lama-lama melemah seiring
dengan dengusan nafasku yang makin cepat dan tidak
teratur.
Ibarat seorang musafir yang sudah berhari-hari
kehausan di tengah padang pasir, itulah rasa nikmat
yang saya dapatkan lewat vagina saya. Sudah 10 tahun
tidak diberi “makan”. Kenikmatan ini terulang lagi
manakala sambil menciumi pipi dan belakang telingaku,
batang kemaluan Mas Nana dimasuk-tarikkan ke liang
vagina saya yang merekah. Listrik birahi makin
meningkat voltasenya. Entah berapa kali vagina saya
ber-orgasmus secara beruntun dalam jarak yang
demikian pendek. Mungkin lima kali atau lebih saya
merasakan orgasmus. Pria yang sudah tua atau kurang
perkasa biasanya sudah “loyo” saat batang
kemaluannya “dikunyah” vagina wanita seperti saya.
Meskipun oragasmus-ku sangat kuat, tetapi batang
kemaluana Mas Nana tetap kuat, padat dan hangat.
Tidak kendor, loyo atau kempes.
“Hebat benar lawan mainku saat ini.” kata saya dalam
hatikarena merasakan nikmat tida tara.
Kini badan saya mulai lemas. Orgasmus yang saya
rasakan memakan energi yang cukup banyak. Ya…
seperti energi seseorang yang bergulat sambil berlari.
Keringat panas keluar dari tubuh saya bercampur
dengan keringat Mas Nana yang benar-benar
menaikkan birahi kami.
“Saya tembakkan sekarang ya… yang.. sayang…?”
bisiknya lembut.
“He… ehh.. saya sudah terangsang sekali Mas…”
Kini batang kejantanan Mas Nana mulai “memompa”
vaginaku. Masuk-keluar dan terus masuk-keluar. Mula-
mula pelan kemudian makin lama makin cepat.
Vaginaku terasa seperti di”charge” (disetrum listrik).
“Terus… terus… masuk-keluar… masuk-keluar… in-
out… in-out… terus…” pintaku dalam hati karena
membawa perasaan yang luar biasa.
Saya tidak bisa membayangkan wajah saya. Saya juga
tidak dapat membayangkan rambut saya yang sudah
diacak-acak jari Mas Nana saat menggumuli saya.
Tetapi saat batang kejantanan itu dipompakan ke
vagianku, saya tidak dapat menceritakan rasanya. Bila
saja saat ini saya terbaring di tempat tidur, saya pasti
akan bergolek menggeliat-geliat seperti cacing menari di
saat kepanasan.
Tiba-tiba, “Dukk..!” batang kejantanan milik Mas Nana
berhenti bergerak, masuk sangat dalam ke liang
wanitaku. rupanya dia mengalami ejakulasi. Air mani
Mas Nana meyemprot ke dalam liang vagina saya.
Rasanya saya seperti kram. Pantat Mas Nana secara
refleks saya tarik dan tempelkan kuat-kuat ke permulaan
vagina saya. Saya lihat Mas Nana menikmati sekali
puncak kepuasan itu, demikian juga saya. Nafas kami
mulai mengendor. Rasanya seperti baru saja megikuti
lomba lari cepat. Kami berdua mandi keringat. Keringat
birahi. Keringat kenikmatan di atas sebuah gerbong
kereta api yang sedang berjalan.
UNTUK INFO LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI CONTACT KITA DI BAWAH INIemail yahoo / ym : asli4d@yahoo.comgmail : asli4d@gmail.comtwitter : asli4d_officialskype : asli4dpin bbm : 2B915CD1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar