[12:02:30 PM] Indo Nalo:
close

Minggu, 09 Agustus 2015

Ngentot Ibu Mertuaku Yang Molek dan Menggairahkan


Cerita Ngentot Ibu Mertuaku Yang Molek
dan Menggairahkan | Halo rekan – rekan
pembaca setia blog cerita seks dewasa|
Kenalkan, aku Panji Anugerah (nama samaran).
Seorang pria berusia 37 tahun, menikah, dengan
seorang wanita yang sangat cantik dan molek. Aku
dikaruniai Tuhan 2 orang anak yang lucu-lucu.
Rumah tanggaku bahagia dan makmur, walapun
kami tidak hidup berlimpah materi.
Boleh dibilang sejak SMA aku adalah pria idaman
wanita. Bukan karena fisikku yang atletis ini saja, tapi
juga karena kemampuanku yang hebat (tanpa
bermaksud sombong) dalam bidang olahraga (basket
dan voli, serta bulu tangkis), seni (aku mahir piano
dan seruling) dan juga pelajaran (aku menduduki
peringkat ketiga sebagai pelajar terbaik di SMAku).
Bedanya waktu di SMA dahulu, aku tidak terlalu
tertarik dengan hal-hal seperti seks dan wanita,
karena saat itu konsenterasiku lebih terfokus pada
masalah akademisku.
Bakat playboyku mulai muncul setelah aku menjadi
seorang kepala rumah tangga. Aku mulai menyadari
daya tarikku sebagai seorang pria normal dan seorang
pejantan tangguh. Sejak diangkat sebagai kabag
bagian pemasaran inilah, pikiran-pikiran kotor mulai
singgah di otakku. Apalagi aku juga hobi menonton
film-film biru.
Wanita lain yang sempat hadir dihatiku adalah Maya.
Dia adalah rekan kerjaku, sesama pegawai tapi dari
jurusan berbeda, Accounting. Dia berasal dari
Surakarta, tinggal di Bandung sudah lama. Kami
sempat menjalin hubungan gelap setahun setelah
aku menikah dengan Lilis, istriku. Hubungan kami
tidak sampai melakukan hal-hal yang menjurus
kepada aktivitas seksual. Hubungan kami hanya
berlangsung selama 6 bulan, karena dia pindah ke
lain kota dan dinikahkan dengan orang tuanya
dengan pria pilihan mereka. Dasar nasib!!! Niatku
berpoligami hancur sudah. Padahal aku sudah berniat
menjadikannya istri keduaku, walau istri pertamaku
suka atau tidak. Karena frustasi, untuk beberapa
bulan hidupku terasa hampa. Untungnya sikapku ini
tidak bertahan lama, karena di tahun yang sama aku
berkenalan dengan seorang teman yang mengajariku
gaya hidup sehat, bodybuilding.
Saat itu, sekitar tahun 1998, yang namanya olahraga
fitness, bukanlah suatu trend seperti sekarang.
Peminatnya masih sedikit. Gym-gympun masih
jarang. Sejujurnya aku malas berbodybuilding seperti
yang dilakukan temanku itu. Apalagi saat itu sedang
panas-panasnya isu politik dan kerusuhan sosial.
Belum lagi adanya krismon yang benar-benar
merusak perekonomian Indonesia. Untungnya
perusahaan tempatku bekerja cukup kuat bertahan
badai akibat krismon, hingga aku tidak turut diPHK.
Namun temanku yang sangat baik itu terus
memotivasiku, hingga tak sampai 3 bulan, aku yang
tadinya hanya seorang pria berpostur biasa-biasa
saja-walaupun aku bertubuh atletis, menjadi seorang
atlet bodybuilding baru yang cukup berprestasi di
kejuaraan-kejuaraan daerah maupun nasional.
Hebatnya lagi kantorku dan seluruh keluargaku ikut
mendukung semua aktivitasku itu. Kata mereka
”kantor kita punya Ade Rai baru, hingga kita tidak
perlu satpam atau bodyguard baru” suatu anekdot
yang sudah menjadi santapanku berhari-hari.
Semakin berlalunya waktu, aktivitas bodybuilderku
kukurangi. Apalagi aku sudah diangkat menjadi
kabag pemasaran sekarang, di mana keuntungan
mulai berpihak pada perusahaan tempatku bekerja.
Aku mulai bertambah sibuk sekarang. Namun untuk
menjaga fisikku agar tetap bugar dan prima, aku
tetap rutin basket, voli, dan bersepeda. Hanya 2 kali
seminggu aku pergi ke tempat fitness. Hasilnya
tubuhku tetap kelihatan atletis dan berotot, namun
tidak sebagus ketika aku menjadi atlet bodybuilding
dadakan.
Sewaktu aku menjadi atlet bodybuilding, banyak
wanita melirikku. Beberapa di antaranya mengajakku
berkencan. Tapi karena saat itu aku sedang asyik
menekuni olahraga ini, tanggapan dan godaan
mereka tidak kutanggapi. Salah satu yang suka
menggodaku adalah Mia. Dia adalah puteri tetangga
mertuaku. Baru saja lulus SMA, dan dia akan
melanjutkannya ke sebuah PTn terkenal di kota
Bandung. Gadis itu suka menggoda di setiap
mimpiku dan bayangannya selalu menghiasi
pikiranku saat aku menyetubuhi istriku. Kisahku
dengan Mia akan kuceritakan lain waktu.
Seperti biasanya, aku bangun pagi. Pagi itu aku
bangun pukul 04.30 pagi. Setelah cuci muka, aku
mulai berganti pakaian. Aku akan melakukan olahraga
pagi. Udara pagi yang sehat memang selalu
memotivasiku untuk jogging keliling kompleks
perumahanku. Dengan cuek aku memakai baju
olahraga yang cukup ketat dan pas sekali ukurannya
di tubuh machoku ini. Kemudian aku mengenakan
celana boxer yang juga ikut mencetak pantatku yang
seperti dipahat ini. Aku sengaja bersikap demikian
demi mewujudkan impianku, menggoda Mia dengan
keindahan tubuhku. Menurut kabar, dia juga suka
jogging. Niatku bersenang-senang dengan Mia
memang sudah lama kupendam. Namun selama ini
gadis itu selalu membuatku gemas dan penasaran.
Dia seperti layangan yang diterbangkan angin,
didekati menjauh, dijauhi mendekat.
Tak berapa lama jogging, tubuhku pun sudah mulai
keringatan. Peluh yang membasahi kaus olahragaku,
membuat tubuh kokoh ini tercetak dengan jelas. Aku
membayangkan Mia akan terangsang melihatku.
Tetapi sialnya, pagi itu tidak ada tanda-tanda Mia
sedang berjogging. Tidak kelihatan pula tetanggaku
lainnya yang biasa berjogging bersama. Padahal aku
sudah berjogging sekitar 30 menit. Saat itu aku baru
sadar, aku bangun terlalu pagi. Padahal biasanya aku
jogging jam 06.00 ke atas. Dengan perasaan kecewa
aku balik ke rumah mertuaku. Dari depan rumah itu
tampak sepi. Aku maklum, penghuninya masih
tertidur lelap. Tadi pun saat aku bangun, tidak
terdengar komentar istriku karena dia sedang terlelap
tidur setelah semalaman dia menemani anakku
bermain playstation. Saat aku berjalan ke arah dapur
untuk minum, aku melihat ibu mertuaku yang seksi
itu sedang mandi. Tampaknya dia sudah bangun
ketika aku berjogging tadi.
Kamar mandi di rumah mertuaku memang
bersebelah-sebelahan dengan dapurnya. Setiap kali
anda ingin minum, anda harus melewati kamar mandi
itu. Seperti disengaja, pintu kamar mandi itu
dibiarkan sedikit terbuka, hingga aku bisa melihat
bagian belakang tubuh molek mertuaku yang
menggairahkan itu dengan jelas. Mertuaku walaupun
usianya sudah kepala 4, tapi masih kelihatan seksi
dan molek, karena dia sangat rajin merawat
tubuhnya. Dia rajin senam, aerobik, body language,
minum jamu, ikut diet sehat, sehingga tak heran
tubuhnya tidak kalah dengan tubuh wanita muda
usia 30-an.
Melihat pemandangan syur itu, kontan batangku
mengeras. Batang besar, panjang, dan keras itu ingin
merasakan lubang hangat yang nikmat, basah, dan
lembab. Batang itu juga ingin diremas-remas,
dikulum, dan memuncratkan pelurunya di lubang
yang lebih sempit lagi. Sambil meremas-remas
batangku yang sudah mulai tegak sempurna ini,
kuperhatikan terus aktivitas mandi mertuaku itu.
Akhirnya timbul niatku untuk menggaulinya. Setelah
menimbang-nimbang untung atau ruginya, aku pun
memutuskan nekat untuk ikut bergabung bersama
ibu mertuaku, mandi bersama. Kupeluk dia dari
belakang, sembari tanganku menggerayang liar di
tubuh mulusnya. Meraba mulai dari leher sampai
kemaluannya. Awalnya ibu mertuaku kaget, tetapi
setelah tahu aku yang masuk, wajah cantiknya
langsung tersenyum nakal.
”Panji, nakal kamu” katanya sambil balas memelukku.
Dia berbalik, langsung mencium mulutku. Tak lama
kami sudah berpagut, saling cium, raba, dan remas
tubuh masing-masing. Dengan tergesa kubuka
bajuku dibantu mertuaku hingga aku sudah
bertelanjang bulat. Batangku pun mengacung tegang,
besar, dan gagah.
Kami pun melakukan pemanasan sekitar 10 menit
dengan permainan oral yang nikmat di batangku,
sebelum kemaluannya kutusuk dengan batangku.
Permainan birahi itu berlangsung seru. Aku
menyetubuhinya dalam posisi doggy style. Aku
merabai payudaranya yang kencang itu, meremas-
remasnya, mempermainkan putingnya yang sudah
mengeras. 30 menit berlalu, ibu mertuaku sudah
sampai pada puncaknya sebanyak 2 kali. 1 kali dalam
posisi doggy, 1 kali lagi dalam posisi berhadap-
hadapan di dinding kamar mandi. Namun sayangnya,
batangku masih saja mengeras. Aku panik karenanya.
Aku khawatir jika batangku ini masih saja bangun
sementara hari sudah mulai pagi. Aku khawatir kami
akan dipergoki istriku. Rupanya mertuaku mengerti
kepanikanku itu. Dia kembali mengoral batangku
yang masih bugar dan perkasa ini, lalu dia berbisik
mesra,
”Jangan khawatir panji sayang, waktunya masih
lama” katanya nakal.
Aku bingung mendengar ucapannya, tapi kubiarkan
aktivitasnya itu sambil terus mendesah-desah nikmat.
Tiba-tiba ibu mertuaku menghentikan perbuatannya
itu. Dia langsung berdiri. Melihat itu, aku pun protes,
”Lho, bu, aku khan belum keluar?” suaraku parau,
penuh birahi.
”Sabar sayang, kita lanjut di kamarku saja yuk”
katanya mesra.
Aku pun tambah bingung. ”Tapi khan ada bapak?”
suaraku masih saja parau, karena birahi.
”Tenang saja, bapakmu itu sudah pergi tak lama
setelah kamu jogging tadi, dia ada tugas ke Jawa”
sahut ibu mertuaku sambil mengemasi pakaian
olahragaku yang tercecer di kamar mandi dan
kemudian menggandengku ke arah kamarnya. Begitu
sampai di kamarnya, aku disuruhnya telentang di
ranjang, sementara dia mengelap sisa-sisa air,
keringat, dan sabun di tubuhnya dengan handuk
kering yang sudah ada di kamarnya. Lalu dia
melakukan hal yang sama padaku. Setelah itu dia
langsung saja mengambil posisi 69, mulai mengoral
batangku kembali. Tak lama nafsuku pun bangkit
kembali. Kali ini aku bertekad akan membuat
mertuaku keluar sampai tiga kali. Aku memang
khawatir hubunganku di pagi ini akan ketahuan
istriku, tapi persetanlah…que sera-sera. Apapun
yang akan terjadi terjadilah.
Aku pun balik menyerang ibu mertuaku. Mulut dan
lidahku dengan ganas mempermainkan miliknya.
Tanganku juga ikut aktif merabai, meremasi bibir
kemaluan dan menusuki lubang anal ibu mertuaku.
Kelentitnya yang sudah membengkak karena
rangsangan seksual kujilati, dan keremasi dengan
gemas. Kumainkan pula apa yang ada di sekitar
daerah kemaluannya. Gabungan remasan jari,
kobokan tangan di kemaluannya, dan serangan
lidahku berhasil membuat mertuaku keluar lagi untuk
yang ketiga kalinya. ”Aaaaahhhh…. panji sayang ….”
jerit nikmat ibu mertuaku. Cairan birahi ibu mertua
keluar deras dari lubang vaginanya. Langsung saja
kuhisap dan kutelan habis hingga tidak ada yang
tersisa.
Akupun tersenyum, lalu aku merubah posisiku.
Tanpa memberikan kesempatan ibu mertuaku untuk
beristirahat, kuarahkan batangku yang masih bugar
dan perkasa ini ke arah vaginanya, lalu kusetubuhi
dia dalam posisi misionaris. Kurasakan batangku
menembus liang vagina seorang wanita kepala 4
yang sudah beranak tiga, tapi masih terasa
kekenyalan dan kekesatannya. Tampaknya program
jamu khusus organ tubuh wanita yang dia minum
berhasil dengan baik. Miliknya masih terasa enak dan
nikmat menggesek batangku saat keluar masuk.
Sambil menyetubuhi ibu mertuaku, aku
mempermainkan buah dadanya yang besar dan
kenyal itu, dengan mulut dan tanganku. Kuraba-raba,
kuremas-remas, kujilat, kugigit, sampai payudara itu
kemerah-merahan. Puas bermain payudara tanganku
mempermainkan kelentitnya, sementara mulutku
bergerilya di ketiaknya yang halus tanpa bulu,
sementara tangan satunya masih mempermainkan
payudaranya. Tangan ibu mertuaku yang bebas,
meremas-remas rambutku, dan mencakar-cakar
punggungku. Posisi nikmat ini kami lakukan selama
bermenit-menit, hingga 45 menit kemudian ibu
mertuaku mencapai orgasmenya yang keempat.
Setelah itu dia meminta istirahat. Aku sebenarnya
malas mengabulkan permintaannya itu, karena aku
sedang tanggung, hampir mencapai posisi puncak.
Namun akhirnya aku mengalah.
”Panji kamu hebat banget deh, kamu sanggup
membuat ibu keluar sampai empat kali” puji ibu
mertuaku.
”Aah ibu bisa saja deh” kataku merendah.
”Padahal kamu sudah jogging 45 menit, tapi kamu
masih saja perkasa” lanjut pujiannya.
”Itukan sudah jadi kebiasaanku, bu” aku berkata
yang sebenarnya.
”Kamu benar-benar lelaki perkasa, Lilis beruntung
mendapatkanmu” puji mertuaku lagi.
Lalu kami bercakap-cakap seperti biasanya. Sambil
bercakap-cakap, tangan ibu mertuaku nakal
bergerilya di sekujur tubuhku. Terakhir dia kembali
mempermainkan batangku yang sudah mengerut
ukurannya.
Aku bangkit, lalu beranjak dari tempat tidur. Ibu
mertuaku memandangku heran, dikiranya aku akan
keluar dari kamarnya dan mengakhiri permainan cinta
kami. Tapi kutenangkan dia sambil berkata, ”Sebentar
bu, aku akan mengecek keadaan dulu”. Aku memang
khawatir, aku takut istri dan anakku bangun. Dengan
cepat kukenakan kembali pakaian olahragaku dan
keluar kamar mertuaku. Ternyata dugaanku salah.
Hari memang sudah beranjak pagi, sekitar jam 6.15
menit, tapi istri dan anakku belum juga bangun.
Penasaran kuhampiri kamarku dan kamar tempat
anakku tidur. Ternyata baik anak maupun istriku
masih tertidur lelap. Aku lega melihatnya. Sepertinya
permainan playstation semalam, berhasil membuat
mereka kolaps. Aku mendatangi jam weker di kamar
keduanya, lalu kustel ke angka 9 pagi.
Aku menatap wajah istriku yang tertidur penuh
kedamaian, sambil berkata dalam hati, ”Tidurlah yang
lama sayang, aku belum selesai menikmati tubuh
ibumu” lalu mengecup pipinya. Setelah itu, aku
kembali ke kamar mandi, mencuci tubuhku, lalu balik
lagi ke kamar mertuaku. Kami terlibat kembali dalam
persetubuhan nikmat lagi. Dalam persetubuhan
terakhir ini, aku dan ibu mertuaku sama-sama meraih
orgasme kami bersama dalam posisi doggy anal.
Sesudahnya aku balik ke kamar istriku, setelah
membersihkan diri di kamar mandi untuk yang
terakhir kali, dan kemudian mengenakan baju tidurku
kembali.
Begitulah cerita seksku dengan Ibu mertuaku di
suatu pagi hari yang indah. Tidak ada Mia, ada Arini,
mertuaku yang molek dan menggairahkan.

UNTUK INFO LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI CONTACT KITA DI BAWAH INIemail yahoo / ym : asli4d@yahoo.comgmail : asli4d@gmail.comtwitter : asli4d_officialskype : asli4dpin bbm : 2B915CD1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar