[12:02:30 PM] Indo Nalo:
close

Selasa, 11 Agustus 2015

Cerita Sex: Ibu Tiri Dan Saudara Kembarny



(namaku Rendy, 22) Untuk menghindari
hal-hal yang tidak saya inginkan, justru
saya berusaha berbuat baik dengan mama
tiriku itu. Saya ingin mengubah opini publik
bahwa ibu tiri itu kejam, hanya sayang
pada ayah dan seterusnya. Image ini ingin
saya ubah; menjadi ibu tiri yang mengasihi,
lembut terhadap anak tiri. Lalu saya
bertekad berbuat baik dan menghormati
ibu tiri bahkan tidak sekedar menghormati
tetapi membuat hatinya senang, minimal
saya tidak menyebalkan di hadapan
matanya. Langkah yang aku lakukan adalah
selalu membantu pekerjaan rumah tangga,
apalagi bila pembantu sedang pulang
kampung.
Sayapun bersikap baik, terhadap Remy (11)
anak kandung ibu tiriku, bahkan saya
anggap sebagai adik kandungku sendiri.
Demikian juga aku selalu bersedia apabila
disuruh belanja atau apa saja yang
sekiranya dapat aku lakukan. Usaha
mengubah citra ibu tiri yang sudah saya
rintis ini untuk mematahkan bisa anggapan
bahwa ibu tiri itu jahat. Namun yang
namanya pendapat umum, mitos tentang
kengerian ibu tiri ini ternyata tidak
gampang dihapuskan begitu saja di muka
bumi ini, bagai sebuah penyakit yang
menahun, kronis dan berstadium tinggi.
Sikap ibu tiriku tetap tidak baik dan
merendahkan anak tiri. Mama tiriku jarang
mengajakku, dia baru mau bicara bila
sedang perintah saya, atau bila saya
dianggap melakukan kesalahan. Misalnya
bila Remy terlambat berangkat sekolah,
saya yang ditegur, padahal anaknya sendiri
yang molor. Hal ini dilakukan tidak segan-
segannya, walau saat ada orang lain atau
tamu. Ayahku hanya diam saja, akupun
paham betul posisi ayahku. Aku tetap
menganggap ayah sebagai orang tua yang
bijaksana dan sangat mengasihi saya.
Sebenarnya dalam hati aku juga bahagia,
ayah mendapatkan istri cantik, masih
muda. Ayah seorang yang berselera tinggi,
sudah berumur memang, tapi kelihatan
tetap tampan dan gagah, apalagi sebagai
seorang pejabat di instansinya. Klop sudah.
Wanita mana yang tidak tergiur dengan
kelebihan ayahku? Aku tidak menyombong,
memang kenyataannya begitu. Angan-
anganku semula, yang penting dengan
kehadiran ibu tiri ini ayah menjadi semakin
bahagia.
Namanya usaha apapun hasilnya tentu
memiliki nilai tersendiri, ibu tiriku yang
kemudian aku sapa dengan suka-rela pakai
sebutan ‘mama’, ini akhirnya agak
membaik, walapun tidak secara frontal,
lambat-laun. Tapi kadang-kadang masih
mengatakan kata-kata yang menyakitkan,
walaupun mestinya tidak pantas
dilontarkan kepada saya sebagai orang
yang sudah beranjak dewasa. Harapanku
keluarga yang dibina oleh ayah, tetap
berjalan dengan damai dan cukup kondusif.
Setiap pagi hari ayah dan mama berangkat
kerja, bersama Remy. Sesekali Remy saya
antar, bila bangunnya agak molor.
Hari itu keluarga kami ketamuan bu Heidy
(tentu bukan nama sebenarnya), saudara
kembar mama tiriku. Istri papa itu bila
menyapanya dengan sebutan mBak Heidy.
Artinya bu Heidy ini yang dianggap lebih
tua dari mama tiriku, walau hanya terpaut
satu-dua jam saja mungkin. Bu Heidy ini
rumahnya di kota S, kira-kira 100 km dari
kota kami. Sering bertandang ke rumah bila
kebetulan ada tugas dinas di kota ini atau
sekedar mengunjungi saudara kembarnya.
Hari itu rencananya perempuan yang
wajahnya sangat mirip dengan mama tiri
saya itu akan menginap di rumah selama
dua minggu, katanya -aku dengar dari
pembicaraan mereka-, akan mengikuti
sebuah diklat yang diadakan oleh
instansinya di kota ini. Kebetulan tempat
diklatnya, gedungnya tidak jauh dari rumah
keluarga kami, kira-kira cuma 500 m saja,
sehingga dia tidak perlu menginap di hotel
yang disediakan oleh diklat. Relatif dekat.
Ini kali yang kedua bu Heidy mengikuti
acara instansinya di sini. Waktu itu, juga
ada raker, kalau tidak salah enam bulan
yang lalu. Saya masih ingat, selesai raker,
saya yang disuruh mama mengantar
mereka, saat dua kembar itu belanja dan
keliling keliling kota, karena ayah ada
kegiatan di kantor. Seperti biasanya bila
berkunjung, sering keliling kota shopping.
Jadi saya cukup mengenalnya. Dua kembar
ini perangainya agak beda. Kalau yang
dianggap muda itu agak sombong,
terutama terhadap saya, sedangkan yang
dianggap tua, bu Heidy cukup ramah. Saya
sering diajak ngomong dan selalu menyapa
dengan senyuman. Seperti pada umumnya
orang-orang bila saling ketemu, tapi tidak
demikian halnya mama tiriku, paling tidak
bila dengan saya.
“Ren, tolong antar Bude Heidy ke diklatnya
besok, di situ ya” kata ayah saya hari itu.
“Ya Ayah, baik. Besok saya antar ibu”
jawabku.
“Perhatikan ya jamnya, jangan sampai
terlambat” mama menimpali.
“Ya Ma, baik”
Pagi itu Senin, bu Heidy siap berangkat,
ayah ibu dan Remy sudah berangkat lebih
pagi, seperti biasa, kemudian setengah
delapan saya mengantar bu Heidy dengan
memboncengkannya pakai sepeda motor.
Perempuan ini cantik, kulitnya putih bersih,
sama dengan mama tiriku, saudara
kembarnya. Bedanya, bu Heidy ini ada tahi
lalat di pipinya yang menambah
kecantikannya. Pagi itu dia memakai
setelan bleser-celana warna abu-abu tua
dan kerudung biru motif bunga. Cantik,
tingginya kira-kira 165 cm, cukup tinggi
menurut ukuran perempuan negeri ini.
Sesampainya di gedung tempat diklat dia
turun dan aku menawarkan diri untuk
menjemputnya.
“Bila nanti sudah selesai, Ibu bisa telepon
atau sms saya, nanti saya jemput” kata
saya.
“Boleh Ren, terima kasih. Tapi jangan
sampai mengganggu kuliahmu, lho”
katanya sambil senyum.
“Enggak Bu, saya bisa kok” kataku.
Akhirnya dia setuju dan minta nomor hpku
dan akupun meminta nomor hpnya.
Terjadilah acara tukar menukar nomor hp.
Kegiatan antar jemput itu berjalan setiap
hari, sebagai kegiatan tambahan, tapi aku
tidak menghitung untung rugi. Toh dia
adalah kembarannya mama, sama dengan
budeku, walau dibelakangnya ada
tambahan bude tiri. Aku tidak
mempermasalahkan.
Sampai di hari Jumat, dia pulang jam tiga,
agak siang dari hari-hari biasa, tiba-tiba dia
berkata:
“Bila terus ke sana, sampai mana Ren?”
kata bu Heidy sambil menunjuk jalan arah
depan.
“Ada perkebunan teh, pemandangan
pegunungan indah Bu” kataku
“Kita ke sana, yuk” katanya spontan.
“Baik” kataku lalu menancap gas menuju
ke arah lurus, yang mestinya belok kiri
menuju rumah.
Sekitar lima km, kami sudah sampai, saya
berhenti sambil melihat pemandangan di
sekitar kebun dan gunung yang indah.
Perempuan ini cukup senang, mungkin
karena daerahnya ngarai. Pada latar
belakang pemandangan terlihat gunung
menjulang tinggi, aku berkata;“Saya pernah
naik ke sana Bu..” kataku tanpa
ditanya.“Kamu juga suka naik gunung
Ren? Pantesan tubuhmu kekar… harus
latihan fisik terus ya..?” katanya saya jawab
dengan mengangguk.
Kami keliling dengan sepeda motor,
sesekali berhenti membuat foto panorama
dirinya dengan hpnya. Kemudian dia
mengajak saya di sebuah café dan minum
di sana. Dari tampat parkir, kami berjalan
berdua, jalannya agak menanjak, tangannya
menggapit tangan kiriku, sampai tubuhnya
kadang mepet dengan lenganku. Saat itu
rasanya ada suatu aliran listrik arus rendah
mengalir di dalam aliran darahku, mulai
dari tangan menjalar ke dadaku dan
jantungku bergetar, bahkan menjalar pula
ke arah tititku menjadi agak membesar,
walau tidak tegang.
“Kamu sudah punya pacar Ren?”
“Belum Bu”
“Masa? Umurmu berapa sekarang?”
tanyanya kemudian
“Dua puluh dua”
“Apa nggak ada yang tertarik sama kamu?
Kamu kan ganteng…” katanya sambil
memegang tanganku.
“Ibu ada-ada aja”
“Kamu nggak malu, berjalan bersama saya,
yang sudah tua ini?”
“Ngapain harus malu Bu? Justru saya
bangga bersama orang secantik Ibu”
“Ah kamu Ren. Terima kasih ya, atas
pujiannya. ” katanya lalu kami tersenyum
bersama.
Jam setengah lima sore kami baru pulang,
selama di café kami ngobrol ngalor-ngidul,
banyak hal yang ditanyakan mengenai diri
saya, walaupun saya juga bertanya perihal
suaminya, anaknya dan seterusnya. Bener-
bener cantik perempuan ini, gumanku.
Tidak seperti biasanya dalam perjalanan
pulang dari rekreasi tersebut ada
perubahan yang mendasar, tangan bu
Heidy memegang erat, melingkar pada
tubuhku, walaupun saya berjalan
mengendarai bromfit tidak kencang.
Bahkan badannya yang semula
merenggang dengan punggungku,
sekarang mepet sekali, sehingga dadanya
yang pasti gunung kembarnya nempel
ketat kayak perangko dipunggungku.
Kedua tangannnya dilingkarkan pada
perutku, baru dilepas saat hampir sampai
rumah. Inilah penyebab aliran-aliran dalam
darahku berjalan ke seluruh penjuru
tubuhku yang aku rasakan. Saya ingin
perjalanan ini tidak segera sampai rumah,
tapi apa dikata dalam waktu singkat
sampai rumah. Akhirnya cuma menunggu
moment yang indah ini sampai hari
berikutnya. Kalau begini jadinya, menjadi
pengojek antar jemput sepanjang tahunpun
saya sanggup. Pikirku.
Sesampai di rumah, Remy sudah siap
berangkat les, lalu saya antar ke tempat
les.
“Nanti saya pulang sama mama Kak, mau
beli buku. Nggak usah dijemput” kata
Remy setelah sampai di tempat les.
“Ya” kataku
Kembali saya ke rumah, kudapat bu Heidy
sudah selesai mandi. Sore itu dia memakai
rok terusan warna putih motif bunga. Serasi
sekali. Apapun yang dipakai tampak pantas
dan serasi, dasar orang cantik.
“Kamu mandi dulu Ren”
“Ya Bu” sahutku sambil menuju kamar
mandi.
Aku pikir bu Heidy ini lebih gampang
akrab dengan saya, dan sangat
memperhatikan saya. Saya merasakan
perhatiannya seperti seorang ibu, ini ada
kasih sayang dari seorang ibu. Walaupun
pembawaannya agak pendiam, rupanya
perempuan cantik ini ramah dan
menyenangkan. Sayapun senang bisa
berakrab-akrab ria dengan dia. Selesai
mandi aku menghampirinya duduk di sofa
ruang tengah, sudah ada teh dua cangkir.
“Ini teh Ren, kita minum-minum dulu”
“Wah, Ibu repot-repot. Mestinya saya yang
bikin tadi” kataku basa-basi.
“Nggak apa-apa kamu sudah capek.
Kuliah, lalu jemput saya, mengantar Remy”
“Ya Bu, terima kasih”
Sore itu di rumah hanya kami berdua, saya
dan si cantik bu Heidy, kemarin Parmi
(PRT) minta pulang kampung, karena
dikabari ayahnya sakit di desa. Seperti air,
maka pekerjaan rumah mengalir, kami
kerjakan bersama. Dan ini sudah menjadi
kebiasaan kami di kala PRT pulang.Saya
dan bu Heidy duduk bersama, sambil
menikmati teh dan makanan kecil. Saya
sudah tidak kikuk, atas keterbukaan bu
Heidy ini, saya sengaja duduk di sofa
panjang bersebelahan dengan perempuan
berkacamata ini.
Dia menaruh tangannya di pangkuanku
dan sayapun tidak segan memegang
tangannya. Rabaan demi rabaan sempat
menggetarkan dadaku, walaupun tidak
sampai bergoncang. Sesekali aku mencium
tangannya, yang sebenarnya saya ingin
sekali mencium bibirnya atau paling tidak
pipinya yang ranum itu, tapi tidak aku
lakukan. Sebagai pelampiasannya hanya
menciumi tangannya, sesekali. Dan dia
mengelus rambutku dengan lembut. Saya
benar-benar merasakan belaian kasih
sayang dari seorang ibu.
Di sisi lain, sebagai lelaki yang beranjak
dewasa, dadakupun bergetar menghadapi
perempuan dewasa ini. Bahkan saya
anggap sebagai perempuan matang dan
mantap. Dari segi umur sudah mantap dan
kedudukan sebagai pegawai sudah
berpengalaman. Hal ini dapat saya rasakan
dari cara bicaranya yang berkualitas,
seperti dosen ketika sedang memberi
kuliah di depan kelas. Gambaran sebagai
sosok yang intelek dan berwawasan luas.
Dia mendekatkan diri padaku, getaran-
getaran dada terakumulasi mendorong
pada sebuah tindakan, dengan tanganku
mulai berani meraba-raba pahanya,
walaupun masih di atas roknya.
Ternyata dia diam dan membiarkan gerak
tanganku yang sudah seperti ular
mendesis-desis mencari mangsa, merayap
kesana kemari. Rupanya diapun mengikuti
alur anganku dan perasaanku yang terlahir
melalui belaian tangan, bertemunya jari-
jemari dan pandangan mata, serta gerakan
bibir yang merekah. Tangannyapun juga
membelai pahaku, yang sore itu pakai
celana pendek. Ini dilakukan oleh dua
insan lain jenis yang merangkak pada
gejolak nafsu masing-masing. Saya ingin
sekali merasakan dan mengalami peristiwa
birahi ini walau setapak demi setapak.
Rupanya bu Heidy yang saya ajak menyisir
lorong-lorong indah nan menyenangkan ini
mengikuti alur sedemikian rupa, sehingga
tidak ada yang mengetahui siapa yang
lebih dulu memulainya.
“Ren aku suka kamu. Kamu baik sekali,
dan ganteng lagi…” kata bu Heidy agak
tertahan.
“Kok Ibu tahu saya baik, Baik apanya? Saya
sendiri merasakan biasa-biasa saja”
sanggahku.
“Enggak Ren, walau saudara kembarku
bersikap begitu terhadap kamu.
Tapi kamu tetap menghormatinya sebagai
ibumu, bukan karena takut. Dan saya juga
terima kasih, dengan sayapun kamu baik”
katanya sambil membelai keningku, seperti
membelai anaknya.
“Terima kasih Bu, saya juga suka ibu. Ibu
cantik sekali dan sangat perhatian padaku.
Ibu sebagai obat penglipur lara, dikala
hatiku gundah gulana” kataku kayak orang
berpantun.
Aliran yang semula kecil kemudian
membesar itulah yang mendorong dengan
kuat dan menghentak, mengantar pada
keberanianku untuk mencium pipi,
kemudian bibir indah bu Heidy. Tanpa
hambatan apapun, justru bu Heidy
menyambut dengan ciuman antusias dan
mesra. Kami saling mencium, lidah dan
bibir kami saling bertautan, saling
melumat, saling mencari kenikmatan dalam
peraduan antara bibirku dan bibir bu
Heidy, dengan masing-masing melepas
hasrat yang terakumulasi, kini dia lebih
agresif menciumi aku.
Sementara tangan kiriku bertautan dengan
tangan kanannya, tangan kananku
menyusup di balik gaunnya meraba dan
membelai paha mulusnya. Mulus bagai
batu pualam putih bersih. Sedangkan
tangan kanannya juga menyusup di balik
kaosku, membelai-belai lembut dadaku.
Tanganku merayap terus ke atas, sekarang
sudah sampai ke bagian perutnya berhenti
sejenak di sana, kemudian meluncur ke
atas menuju susunya. Gemetaran ketika
tanganku menyelinap di balik behanya dan
kemudian meremas susunya dengan
lembut. Setelah melepas ciuman bibir
katanya
“Kita ke kamar aja yuk, Ren”
Tanpa mengulang kata-kata itu, kedua
insan lain jenis ini beranjak bergandengan
masuk menuju kamar. Di kamar bu Heidy
membuka kaosku dan walaupun dengan
gemetaran, akupun serta merta membuka
gaunnya. Kini tampak dengan jelas beha
dan cede yang dipakai, berwarna putih
cemerlang, membalut bagian tubuhnya
nampak indah sekali. Mulai dari kulitnya
yang putih bersih, wajahnya yang cantik,
bahunya yang indah, susunya yang montok
pinggulnya yang bulat indah serta kakinya
yang indah menggiurkan.
Sepasang pahanya putih mulus
menggairahkan. Kegiatan ini fokus pada
ciuman bibir dan belaian lembut,
sementara bergerilya keseluruh permukaan
kulit yang lembut itu, tanganku membuka
behanya dari kait pada punggungnya, lama
tidak lepas a lot, lalu dia membantu
membukakan. Nampak sepasang payudara
yang montok indah sekali. Tanpa
menunggu lama sayapun membuka
cedenya, yang dibalas dengan cedekupun
dibukanya. Terlebih pada pangkal
sepasang pahanya itu bagian depan di
bawah perut, terbentuk seperti huruf ‘V’
yang ditumbuhi rambut tipis sangat
mempesona.
Dengan pemandangan yang sangat
menakjubkan itulah getaran-getaran yang
sejak tadi mengalir kini bergejolak deras
dan menggoncang-goncang dadaku. Aku
memeluk kembaran ibu tiriku itu. Aku
benar-benar gemetaran, namun kegiatan
tetap berlangsung, lidah kami beradu
sambil menari-nari. Kini bu Heidy dan saya
sudah sama-sama polos, tanpa busana,
kami saling berangkulan berciuman.
Menakjubkan sekali, saya yang baru
beranjak dewasa ini sangat merasakan
kenikmatan yang tiada tara.
“Wah tititmu besar sekali” bisiknya Tititku
yang ngaceng maksimal diurut-urut lembut
kemudian dijepit di antara paha mulusnya
sambil digesek-gesek. Dampak ini luar
biasa, dadaku semakin gemuruh,
sepertinya darahku sedang mendidih
mengaliri seluruh tubuhku. Sambil
meremas payudaranya, agak menunduk
aku menikmati kedua payudaranya yang
menggairahkan. Saya remas mulai dari
bawah ke atas dan mempermainkan
puntingnya. Kemudian dia naik ke ranjang,
merebahkan diri di ranjang dan
mengarahkan lagi payudaranya ke arah
mulutku, katanya “Dinenen Ren..”
Dengan sigap aku mengusap-usapkan
wajahku ke susunya yang montok itu dan
kemudian nenen. Puntingnya berwarna
merah jambu, seperti oase di padang pasir
yang sangat menggairahkan. Pertama
dengan lidahku memainkan putingnya
kemudian ngedot, persis seperti balita yang
nenen ibunya. Sementara itu kedua
tangannya merangkul bahuku dengan
membelai-belai punggungku.
Tangankupun sibuk dengan kedua benda
ajaib ini. Enak dan menyenangkan.
Sementara tititku menelusuri celah
pahanya, sesekali tangannya dengan
lembut membelai-belai titit yang sudah
keras luar biasa itu.
Kami berdua bergumul, saling menindih
dan pada kaki-kaki kami saling melilit. Saya
menindih perempuan molek itu dan
menggumuli dengan ciuman-ciuman
lembut. Acara ini rupanya berpusat pada
ciuman bibir dan saling belaian tangan
yang sangat mendorong rasa gairah yang
luar biasa. Tanpa sengaja tanganku
menyentuh pada bagian selakangannya,
kelihatannya basah dan aku mencoba
menyentuh bibir-bibirnya kiri kanan dan
pada bagian atasnya. Gerakan tanpa sadar
ini ternyata mengakibatkan erangan bu
Heidy lewat mulut indahnya itu. Lalu
gerakan aku ulang kembali yang membuat
dia mengerang kembali. Tanganku erat
memegang bahunya, mulutku masih
merasakan hangatnya bibirnya, kemudian
lidahku menjulur-julur merangkak
menikmati susunya kembali.
“Mulai yuk, masukkan” “Ya Bu, terima
kasih. Tapi diajari Bu, saya tidak tahu
caranya” kataku
“He-eh..” katanya sambil memegang tititku.
Lalu aku menindih bu Heidy yang
bertumpu pada kedua siku-sikuku, kedua
telapak tanganku memegang bahunya dari
bagian belakang, kemudian pinggangku
beringsut, untuk mengambil posisi tepat
tititku pada selakangannya. Lalu secara
naluri aku tekan masuk lalu pinggulku
menggoyangnya.
“Belum masuk, itu baru terjepit paha”
bisiknya
“Maaf Bu. Lalu gimana nih…” Titit yang
sudah maksimal kencang seperti peluru
kendali itu dipegang bu Heidy,
kemudian diarahkan dan dipasangkan pada
tempiknya (Mrs Vnya) di antara kedua
pahanya yang dibuka, sehingga
selakangannya merekah.
“Sekarang tekan tapi pelan-pelan aja”
bisiknya
Aku lakukan sesuai dengan instruksi, saya
tekan masuk dengan pelan tapi pasti. Pasti
masuk ke lobang kewanitaan perempuan
karier itu diiringi dengan desahkan lembut.
Ternyata mudah. Nikmatnya luar biasa!
Senjataku masuk pada Vnya bu Heidy
terasa sempit. Makanya saat perjalanan
masuk itu, mata bu Heidy terjaga
memandangiku serius, merasakan nikmat
juga. Pada saat masuk itulah rasa perasaan
dan dentuman dada seolah serentak
menyatu dalam kenikmatan yang tiada tara,
baru merasakan hal yang benar-benar baru
dan nikmat seumur hidupku. Secara naluri
saya menggerakkan pinggulku, maju
mundur.
Pada setiap gerakan pinggulku selalu
disambut dengan gerakan pinggul bu
Heidy yang naik-turun, keluar masuk,
kadang memutar, sesuai dengan ritme
gerakanku. Gerakannya selalu berlawanan
dengan gerakanku, bila aku memutar ke
kanan dia menggerakkan berlawanan. Bila
saya sodok masuk, pinggulnya ditekan ke
atas. Kedua kakinya dililitkan pada kedua
kakiku, maka menyatukah kami mulai dari
mulutku dengan bibirnya, kedua jemariku
dan alat seks kami tentu saja yang menjadi
poros dan pusat kegiatan. Gerakannya
monoton dan sederhana, tapi ternyata
membawa nikmat luar biasa. Dadaku
kembali bergemuruh seperti akan datang
badai dahsyat, namun nyaris tak terdengar
suara berisik kecuali desah mendesah di
kamar berukuran empat kali lima meter
tersebut.
Nafas bu Heidy terengah-engah seperti
atlet yang sedang lari 100 meter saja. Dia
minta berguling, alih posisi, dia di atas aku
di bawah. Saat di atas itu dia gerakannya
lembut tapi mempesona, meliuk-liuk,
kadang duduk dan memutar pinggulnya,
dan susunya bergoncang-goncang indah.
Tanganku memegang erat kedua pantatnya
dan sesekali meremas susunya dengan
gemasnya. Kadang dia telungkup menindih
saya, sambil menyatukan bibir mulut kami.
Gerakannya makin kencang sampai
menggoncang-goncang tubuhku dan
tempat tidurnyapun ikut bergetar, lalu
diiringi dengan desahan kuat.
“Ah…..uh….eh… aku sampai Ren….”
katanya sambil menggong-goncang
tubuhku.
Wajah bu Heidy merona merah jambu saat
orgasme. Setelah erangan itu, gerakannya
keras sekali, lalu merambat, lambat laun
melemah sesekali dihentakkan, naik turun
akhirnya berhenti. Saat berhenti dia terkulai
menindihku sesekali menggerakkan
pinggulnya dan mencium ku.
Setelah beberapa menit kemudian dia
beranjak kemudian berbaring di
sampingku, sambil mendesah puas.
“Sekarang lanjutkan Ren, kayak tadi”
katanya
Dia terlentang dengan membuka lebar
pahanya dengan lutut sedikit menyiku,
sehingga tampak Mrs Vnya merekah yang
tadi warna pink sekarang memerah dan
yang basah kuyup, menggairahkan.
Kembali aku menindih tubuh molek itu,
dan mulutku kembali mengulum-kulum
pentilnya. Tititku kembali masuk pada
sasarannya, kini saya sendiri yang
menancapkan pada Vnya Bu Heidy, tanpa
bantuan si empunya barang nikmat
tersebut. Aku sudah sedikit tahu caranya.
Kembali aku menggerak-gerakkan
pinggulku seperti orang memompa, naik
turun dan memutar. Tumpuan yang sangat
nikmat ini terasa licin dan basah yang
menjadikan gerakan dan kegiatan ini masih
lancar dan nikmat.
Kedua tanganku menyiku dan kedua
tanganku memegang erat kedua bahunya
dari bawah. Tubuh putih mulus ini mulai
bergerak-gerak di bawah himpitanku,
terutama pada pinggulnya berputar-putar
dengan indahnya. Dia mengimbangi
dengan gerakan bergoyang pada
pinggulnya, sehingga membawa efek
nikmat pada tititku dari kuluman lembut
Vnya. Nikmat sekali. Tetapi gerakan masih
seperti tadi, keluar masuk sedangkan
bibirku tetap asyik pada bibir indah bu
Heidy dan pada susunya yang montok itu.
Permainan ini menyenangkan sekali yang
sekaligus membawa nikmat.
Dari tubuh yang membara itu, tiba-tiba
terasa aliran darahku dalam tubuh terasa
deras, menekan dan mendorong kuat pada
gairah yang semakin meningkat. Demikian
halnya dengan dadaku berdetak dan
bergetar kencang, seperti hempasan angin
puting beliung. Sementara tititku yang
super ngaceng itu terus melakukan
kegiatan menggarap V milik bu Heidy yang
nikmat luar biasa itu. Akhirnya dorongan
yang begitu dahsyat itu, menghentak kuat
ditandai dengan keluarnya pancaran
spermaku masuk dalam lobang milik Bu
Heidy yang diiringi dengan kenikmatan luar
biasa. Inilah pengalaman yang mungkin
tidak bisa terlupakan.
“Ah.. uh……” desahku diikuti desah bu
Heidy sahut-sahutan. Rupanya dia
orgasme lagi, wajah ayunya merona merah
jambu kembali, mengasyikan. Nikmat abiz!
Nafasku berkejar-kejaran bersama bu
Heidy, seolah-olah ingin saling mendahului
mencapai kenikmatan bersama. Perempuan
cantik itu memeluk punggungku ketat dan
kaki kami saling berlilitan. Aku menutup
bibirnya dengan bibirku. Kami benar-benar
menyatu dalam kenikmatan sore itu. Kiri-
kira sepuluh menit kemudian kami saling
melepaskan diri, dan saya merebahkan diri
di sisinya, saling menghela nafas panjang.
Nafas kepuasan. Langit-langit dan seisi
ruangan tetap tenang, sebagai saksi bisu
permainan dahsyat itu. Bu Heidy berpaling
ke arahku sambil tersenyum.
“Terima kasih ya Ren.. kamu hebat. Saya
puas sekali” bisiknya
“Saya Bu yang berterimakasih. Ibu memberi
kenikmatan….” kataku disambut dengan
anggukan dan senyum manis sambil
mengelus bahuku.
“Ya, kita sama-sama” Inilah pengalaman
pertama yang tentu tidak akan aku lupakan
sepanjang sejarah hidupku bersama bu
Heidy.
Kemudian dia beranjak ke kamar mandi,
aku mengikutinya saling membersihkan
diri. Kemudian berpakaian kembali. Lalu
aku kembali bercengkerama di sofa seperti
tadi sambil menikmati teh, sesekali
berciuman dan membelai-belai bagian-
bagian tubuhnya yang molek itu. Waktu
menunjukkan pukul setengah tujuh malam,
kami berdua mulai bercumbu lagi, rasa dan
perasaan serta nafsu menyatu menghangat
kembali. Kami berdua berciuman hebat lagi
dan saling meraba pada tubuh kami. Saya
meraba mulai dari pahanya, susunya dan
selakangannya.
Tangannya merogoh pada celanaku dan
mengeluarkan senjataku, kemudian dia
menunduk dan mengulum lembut. Adegan
yang tanpa aku duga sebelumnya, pertama
lidahnya menari-nari pada kepada tititku
kemudian mengulum, rasanya nikmat
sekali. Lalu kami beranjak ke tempat tidur
dimana kami melakukan di babak pertama
tadi. Walau tanpa kata-kata, rupanya bu
Heidy sepakat dengan hasratku yang
makin memuncak ini. Diapun mengikuti
alur kegiatan nafsu itu dengan membuka
pakaianku satu persatu, akupun membuka
pakaiannya, sehingga kami berdua kembali
telanjang tanpa pakaian lagi.
Setelah melewati percumbuan yang seru,
aku tak sabar, saat menindih tubuhnya
langsung memasukkan senjataku pada
Vnya yang langsung disambutnya.
Penetrasi terjadi kembali kami saling
menyerang dan saling menikmati. Di
tengah-tengah keasyikan tersebut, tiba-tiba
hp bu Heidy berbunyi. Saya sempat
tersentak. Masih dalam posisi semula, saya
berusaha menggapai hpnya yang ditaruh di
meja nakas (set lemari kecil tempat tidur),
lalu saya berikan kepada yang empunya
hp. Lalu volume speakernya dibesarkan.
Dari seberang sana:
“mBak jangan makan dulu ya, aku beli
lauk” suaranya dari hp, rupanya suara ibu
tiriku.
“Ya. Ini di mana?” jawab bu Heidy
“Masih di toko buku, ini hampir selesai.
Paling duapuluh menit sampai rumah”
terdengar kata kembarannya bu Heidy itu.
“Ya nggak apa-apa” sahut bu Heidy.
Lalu hp di taruh pada tempatnya, dan kami
melanjutkan kegiatan lagi, tapi lebih cepat
supaya lekas selesai.
Baru saja aku telah mendapatkan
kenikmatan yang belum pernah aku
pikirkan sebelumnya. Memang saya pernah
membayangkan nikmatnya hubungan
suami istri kelak, jika sudah mempunyai
istri. Beberapa tahun lagi, setelah selesai
kuliah atau setelah mendapatkan pekerjaan.
Tapi ini, diluar dugaan saya, sore itu
tonggak sejarah mengukir, bisa merasakan
nikmatnya bercinta bahkan bersenggama
dengan seorang perempuan dewasa, cantik
lagi. Inilah yang sebenarnya tak terbersit
dalam pikiranku sebelumnya. Kejadiannya
begitu mengalir bagaikan aliran air yang
selalu mencari tempat yang lebih rendah.
Malam harinya saya hampir tidak bisa
tidur, pingin rasanya masuk di kamar bu
Heidy, mengulang adegan demi adegan
seperti tadi. Kami hanya ber-BBMan
sampai larut malam. Pagi harinya, Sabtu,
hatiku berbunga-bunga, pikiranku terang
benderang, seindah sinar mentari. Betapa
indahnya hidup ini. Seperti biasanya aku
mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci
mobil dan mengepel. Ayahku
menghampiriku hatiku berdebar, jangan-
jangan ia tahu apa yang aku lakukan?
“Ren, kalau kamu capek, cuciannya tidak
usah kamu cuci. Biar papa nanti yang cuci”
katanya setengah berbisik kepadaku.
“Ya Pa, Rendi baik-baik saja” kataku penuh
hormat.
Pagi itu Papa mengantar Remy, sekalian
mengantar mama tiriku ke dokter
kandungan. Seperti biasanya bila kontrol
kandungan hari Sabtu. Mama memang
mengandung, entah sudah berapa bulan
umur kandungannya, tapi yang jelas
perutnya sudah kelihatan mblenduk. Bu
Heidy diajak mama, sekalian nanti jalan-
jalan setelah dari dokter, tapi bu Heidy
tidak mau.
“Saya di rumah saja, agak pusing nih…”
katanya beralasan kepada kembarannya.
Saya agak bertanya dalam hati, perasaanku
bu Heidy baik-baik saya, tidak lesu?
Apakah pengaruh permainan kemarin sore,
terlalu banyak gerak? Sehingga jadi pusing.
Ah aku tidak tahu. Setelah selesai
mengepel, akan saya lanjutkan cuci. Bu
Heidy menawari minum teh dan makan
roti. Tapi cangkirnya cuma satu.
“Ini untuk kita berdua, Sayang” katanya.
Setelah minum teh dan makan roti, bu
Heidy membantu aku mencuci dan
menjemurnya. Kemudian perempuan
menyenangkan itu mengajak aku mandi
bersama. Asyik…., ada acara mandi
bersama segala. Saat mandi tititku tegak
bukan kepalang, di bawah guyuran air
shower bu Heidy yang berdiri di depanku
aku peluk dengan kencang dan aku agak
merendah, kemudian menyodokkan
senjataku pada Mrs Vnya. Berulang-ulang
tapi tidak maksimal masuk dan sering
terlepas, lalu kakinya diangkat sebelah,
baru bisa masuk. Lelah dalam posisi
begini, kemudian perempuan paruh baya
itu melepaskan diri dan agak menunduk,
sementara tangannya memegang stanlees
tempat handuk.
“Masukkan dari belakang” katanya, aku
menurut saja. Wah ini benar-benar seperti
di film, pikirku. Enak juga dari belakang,
doggy style namanya. Tapi adegan ini tidak
berlangsung lama, hanya beberapa kali
sodokan saja, dia berdiri dan berkata:
“Sudah, nanti dilanjutkan di kamar” katanya
aku menurut saja.
Selesai mandi kami tidak langsung
berpakaian, tetapi kembali bergumul di
tempat tidur seperti kemarin sore, tentu
saja setelah mengeringkan badan dengan
handuk. Mengulang adegan demi adegan
yang sebenarnya sangat sederhana. Ada
barang seperti peluru kendali, kemudian
dimasukkan ke lobang, yang bila dilihat
sepintas hanya berupa garis vertikal
berwarna pink, kita-kira 5 cm, tapi ternyata
itu adalah lobang yang mempesona. Dari
kegiatan yang sederhana itulah, anehnya
membawa dampak luar biasa nikmatnya,
terutama bagi yang melakukan. Baik yang
punya lobang maupun dan yang memiliki
senjata.
Dua-duanya memetik kenikmatan yang
hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa.
Luar biasa! Ingin sekali rasanya melihat
kayak apa sebernarnya struktur V ini, lalu
aku kubuka pahanya dan membuka
vaginanya sambil memainkan jemariku
pada lobang berwarna pink itu. Kerajinan
tangan ini ternyata membawa efek bagi
yang empunya benda ajaib ini, bu Heidy
bergelincangan hebat dengan menggerak-
gerakkan kedua kakinya kesana kemari
dengan mendesis lembut.
Setelah puas melihat dan mempermainkan
lorong tersebut, aku cium bibirnya. Dia
menggapai tititku, benda yang tegak
seperti tugu itu dikulum dan lidahnya
menari-nari pada kepalanya, dilakukan
berulang-ulang. Kontan saja saya
bergelincangan hebat, nikmat luar biasa.
Sesi berikutnya mengulang seperti
semalam, memasukkan dengan lembut
tititku pada tempiknya, yang selalu diakhiri
dengan kenikmatan hebat.
Sisa satu minggu bu Heidy di rumah,
masih sempat kami lakukan walau hanya
dua kali, karena ada pihak ketiga,
pembantu sudah datang. Kepingin rasanya
pada malam-malam buta, saat penghuni
rumah tertelap tidur, saya ingin melepas
hasratku. Tapi bu Heidy tidak mau.
Berbahaya katanya. Aku menurut saja, toh
saya sudah beberapa kali merasakannya
lagi pula saya harus mematuhinya.
Setelah selesai diklat dua minggu bu Heidy
pulang, berat rasanya ditinggalkan
perempuan yang pernah memberi pelajaran
berharga sekaligus mengasyikkan itu.
Membekas rasanya di hatiku. Tapi setelah
itu, paling tidak sebulan sekali kami
bertemu, bila dia kebetulan ada dinas di
kota ini. Setelah selesai urusan dinasnya,
pernah beberapa kali dia minta aku untuk
menemaninya melepas rindu di sebuah
hotel pada siang hari dan baru sore harinya
dia pulang ke kotanya atau ke rumah kami
menemui kembarannya, bila dia ingin
menginap.
Pernah perempuan cantik itu, meminta
saya untuk menemaninya saat tugas di
kantor pusat, selama seminggu. Saya agak
keberatan, bagaimana izinku kepada ayah?
“Tapi kamu libur to?” katanya lewat
handphone di saat itu. “Ya Bu, saya libur”
“Bilang, ada acara kampus atau naik
gunung gitu Ren. Saya takut sendirian di
hotel, tidak ada yang nemeni”
Akhirnya saya setuju dan kemudian izin
kepada ayah dengan alasan naik gunung
dan ayah menyetujui. Pada hari yang telah
ditentukan kami berdua, sore itu tiba di
bandara dari jurusan penerbangan yang
berbeda. Kemudian langsung menuju ke
sebuah hotel yang dekat dengan kantor
pusatnya. Sore itu bu Heidy memakai baju
putih polos lengan panjang, ujungnya
menjuntai sampai pada pahanya dan
celana jeans krem serta kerudung dasar
putih corak coklat bermotif. Setelah sampai
di kamar, kamu berdua saling berpelukan
dan berciuman sejadi-jadinya, melepas
rindu selama hampir dua bulan.
“Kita mandi dulu yuk Ren” katanya
Kami melepas rindu sambil saling melepas
pakaian, lalu sambil berpelukan menuju
kamar mandi. Dari kamar mandi tanpa
berpakaian melanjutkan pergumulan, saling
mencium dan meraba. Sasaran yang cukup
menyenangkan adalah kedua susunya yang
menggemaskan. Selain meraba, juga
mengedot dan memilin-pilih puntingnya.
Kemudian seluruh wajahku kupakai untuk
mengusap seluruh gunung kembar milik
bu Heidy dan sesekali meremas keduanya
dengan lembut. Benar-benar naik gunung
nih…!, pikirku. Perempuan cantik berkulit
putih bersih itupun, tidak kalah sengitnya.
Dia memegang terus tititku yang tegak
seperti tugu monas itu, kemudian di emut
dan lidahnya menari-nari pada kepala
senjata itu dan membawa efek yang luar
biasa nikmatnya.
cerisex.net –> cerita seks terbaru
Pergumulan seru, tapi nyaris tak bersuara,
hanya desah mendesah di kamar hotel
mewah tersebut. Sekarang aku terlentang,
bu Heidy mengambil posisi duduk pada
pinggangku, sehingga alat seks kami
bertemu. Tangannya yang indah itu
memegang tititku dan memasukkan,
menghujam pada mrs Vnya yang sudah
membasah itu. Pinggulnya yang berbentuk
indah itu, mulai bergerak memutar dan
maju-mundur yang digerakkan secara
berulang.
Entah sudah sampai berapa putaran, saya
tidak tahu, yang jelas setelah lebih dari
lima menit putarannya makin keras dan
intensif, sampai menggoncang-goncang
tubuhku. Lalu kedua tanganku memegang
sambil meremas lembut payudaranya yang
bergelantungan indah pada dadanya.
Dalam waktu berikutnya diiringi dengan
desahan panjang dari mulut bu Heidy.
“Ah…uh… eh” desahnya berkali-kali lalu
tubuhnya merebah di atas tubuhku, dia
orgasme, wajahnya merona merah jambu.
Pinggulnya masih bergerak, tapi makin
pelan dan akhirnya hanya bergerak, ala
kadarnya saja, seperti ular yang baru saja
menelan mangsanya.
Setelah beberapa menit bu Heidy
menikmati orgasmenya, saya ajak dia
berguling tanpa melepas alat seks kami
dan saya mulai menindihnya dan
memompanya dengan gerakan naik turun,
keluar masuk dan kadang berputar lembut.
Gerakan ini saya lakukan dengan seluruh
rasa dan perasaan , betapa indahnya
permainan ini. Kegiatan yang lembut dan
mempesona ini diikuti dengan indahnya
tubuh bu Heidy yang mengeliat-liat seperti
penyanyi ndangdut yang sedang
manggung. Karena asyiknya permainan ini,
tanpa terasa aku menaiki bu Heidy sudah
lebih dari sepuluh menit. Dengan posisi
demikian saya yang lelah, bu minta ganti
posisi.
Dia berbaring miring memunggungi aku,
kaki kanannya diangkat dan lututnya
dilipat, saya diminta menusukkan senjataku
dari belakang. Aku mendekatkan senjataku
pada selakangannya yang terbuka lebar itu,
lalu memasukkan. Agak ribet, tetapi
menuai kenikmatan tersediri, walaupun
gerakannya tidak jauh berbeda dengan
tadi. Tanganku berpegangan pada
payudaranya dan bibirku mencium ketat
pada bibirnya. Seperti apa yang saya
katakan pada pengalaman pertama yaitu
apapun yang kami lakukan dalam gerakan
membawa efek nikmat sekali.
Dan apa yang terjadi? Dengan kenikmatan
yang bertubi-tubi itu, maka saya pikir
siapapun tidak akan kuat bertahan. Seperti
halnya aku, dengan kenikmatan yang tiada
tara tersebut, maka dengan hentakan
gerakan yang makin kuat dan dahsyat,
maka terlepaslah tenaga itu yang ditandai
dengan semprotan air maniku masuk
dengan dahsyat ke lobang kenikmatan
milik bu Heidy yang diiringi dengan
kenikmatan yang luar biasa. Sulit untuk
digambarkan. Bu Heidy sebagai pihak yang
menerima seranganku inipun tidak
berbeda, bahkan dia merintih-rintih dengan
desahan yang lebih keras karena
orgasmenya terjadi bertubi-tubi pula.
“Ah..uh…eh…”
“Keluar Bu?” kataku terengah-engah
“Yah… tiga kali ini…”
Malam itu kami mengulang setiap
serangan dan berakhir dengan kenikmatan
bersama. Selama seminggu, menemani bu
Heidy di hotel kami berdua mengarungi
kenikmatan demi kenikmatan.
Kira-kira lima bulan sejak pertama kali aku
mengenal hubungan seks bersama bu
Heidy, kini di lain pihak mama tiriku
melahirkan di rumah sakit. Saya memberi
kabar kepada kakak kembarannya, bu
Heidy. Dua hari berikutnya bu Heidy
muncul bersama suaminya, aku agak
kecewa tapi tidak aku tunjukkan. Secara
sembunyi-sembunyi bu Heidy tadi sempat
mencium saya. Kali ini penampilnnya lain,
perutnya mulai membesar juga. Beberapa
waktu yang lalu ia mengabariku, bahwa
anaknya yang berusia 10 tahun akan
punya adik.
Jelasnya dia sedang hamil anak kedua,
seperti kembarannya yang kini melahirkan
anak kedua, setelah Remy. Sore harinya
mereka berangkat ke rumah sakit
membezuk mama tiriku, sampai malam.
Keesokan harinya seperti biasanya aku
mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci
mobil, tapi ayah melarangku, karena
mobilnya masih cukup bersih. Lalu aku
mencuci mobil suami bu Heidy yang kotor
berat itu. Jam sembilan situasi sepi
kembali, ayah dan Remy sudah berangkat.
Terakhir suaminya bu Heidy juga pergi
entah kemana, katanya ada urusan bisnis
dengan temannya.
“Jangan lama-lama Pa” kata bu Heidy
kepada suaminya
Kini kami bertiga, bu Heidy, Parmi dan
saya. Sementara Parmi mencuci di
belakang, saya masuk ke kamar bu Heidy,
dan menciumi wanita cantik itu. Diapun
menyambut dengan senang dan kami
saling berciuman hebat. Maklum sudah
cukup lama tidak berjumpa. Tanganku
mengelus-elus perutnya yang besar,
langsung aku menarik ke bawah cedenya.
Ketika gaunnya akan aku buka, dia
melarang dan bilang: “Enggak usah dibuka,
begini saja. Ada Parmi” katanya lembut,
aku menurut saja.
“Kita cepetan aja tapi pelan-pelan” bisiknya
lagi.
tanpa terasa perjalanan indah bersama bu
Heidy sudah berlangsung lama sampai aku
selesai kuliah. Ketika itu bu Heidy sudah
berusia 38 tahun, aku 25 tahun. Dia minta
kepada ayahku;
“Om, di kantorku ada lowongan, biar Rendy
kerja di sana” kata bu Heidy kepada
ayahku di suatu hari dan ayahku setuju.
Akupun juga menyambut dengan senang.
Kini setelah melalui test yang rumit mulai
kantor pusat sampai akhirnya di tempatkan
di sebuah kota yang tidak jauh dari kantor
bu Heidy. Dan tentu saja saya sering
mengunjunginya, semangatnya luar biasa
masih seperti dulu. Merajut cerita asyik
dan mempesona.
Apabila liburan saya sering main di
rumahnya, menyatu bermain dengan kedua
anaknya. Pada saat rumah sepi, kami
melepaskan rindu mengarungi laut luas
kenikmatan dalam bahtera asmara. Rasa
dan perasaanku makin dekat dengan bu
Heidy, demikian juga dia merasa bagian
dariku, walau tidak kelihatan. Tapi di balik
itu dia takut apabila di suatu waktu harus
berpisah denganku, ketika nanti saya
menikah. Dia tidak mau kehilangan aku,
perasaankupun tidak jauh berbeda
dengannya.

UNTUK INFO LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI CONTACT KITA DI BAWAH INI
email yahoo / ym : asli4d@yahoo.com
gmail : asli4d@gmail.com
twitter : asli4d_official
skype : asli4d
pin bbm : 2B915CD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar