
| Hari itu, sekitar jam
12 siang, aku baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak
slamet, penjaga vilaku membukakan pintu garasi agar
aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew.. akhirnya aku
bisa melepaskan kepenatan setelah seminggu lebih
menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang
sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin
menikmatinya sendirian di tempat yang jauh dari hiruk
pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku
maka kusuruh Pak Slamet pulang ke rumahnya yang
memang di desa sekitar s***** Pak Slamet sudah bekerja
di tempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7
tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami
terawat baik dan belum pernah kemalingan. Usianya
hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi
kurus dengan kulit hitam terbakar matahari. Aku dari
dulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi mengingat
dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka
kuurungkan niatku.
Cerita Birahi 2014: Dientotin Pembokat | “Punten Neng,
kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok,
tinggal dateng aja” pamitnya.
Setelah Pak Slamet meninggalkanku, aku membereskan
semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur
sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas
dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu sangat cerah,
matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-
sepoi sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa.
Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi setelah kulihat
kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak
Slamet memang telaten merawat vila ***** Segera
kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke
kolam.Sesampainya disana kurasakan suasanya enak
sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya kicauan
burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul
kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau
aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-
siapa lagi disini selain aku lagipula aku senang orang
mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir
panjang lagi, aku pun melepas satu-persatu semua
yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala
perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru
dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir
menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam.
Aahh.. enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini,
tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik
dengan beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu (karena
aku tidak bisa, hehe..)
20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa
haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di
pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku
dengan handuk, setelah kuambil sekaleng coca-cola dari
kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku
pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku
sambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih
mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil oilku dan
kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak
berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku
mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan
tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu
apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah
kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk
dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah
diperkosanya habis-habisan.
Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang
meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu
merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir
kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung
terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan
sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang
menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang
itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan
membekap mulutku dengan tangannya, mencegah agar
aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang
itu, dia adalah Warjo, si penjaga vila tetangga, usianya
sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak
tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar
itu tepat di depan wajahku.
“Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah ga ada
siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam!” ancamnya
Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu
dia pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku
“Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ngentot
sama Neng!” katanya sambil matanya menatapi dadaku
“Ngentot ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya,
gak usah kaya maling gitu!” kataku sewot.
Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah
memperhatikanku dari loteng vila majikannya dan itu
sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang
di s***** Mengetahui Pak Slamet sedang tidak di sini
dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk
masuk ke s***** Sebenarnya aku sedang tidak mood
untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun
elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi
tinggi).
“Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju
juga, dari tadi pegang-pegang doang beraninya!”
tantangku.
“Hehe, iya Neng abis tetek Neng ini loh, montok banget
sampe lupa deh” jawabnya seraya melepas baju
lusuhnya.
Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan
dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar,
seukuran sama punyanya si Budi, tukang air yang
pernah main denganku
Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot
payudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku
meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga
kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis
nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan
menggosok-gosok bibirnya.
“Eenghh.. terus Tar.. oohh!” desahku sambil meremasi
rambut Warjo yang sedang mengisap payudaraku.
Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan
berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak
karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah
lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku
sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku
sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-
geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan
vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem
melek aku menjambak rambut si Warjo yang sedang
menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus
sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah
warjo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya
basah oleh cairan cintaku.
Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu,
mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan
aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang
belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan
lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya
nafasnya agak bau, entah bau rokok atau jengkol.
Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi,
kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling
membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami
berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus
tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya.
“Gua ga tahan lagi jo, sini gua emut yang punya lu”
kataku.
Si Warjo langsung bangkit dan berdiri di sampingku
menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di
kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati
sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.
Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak
menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya
saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya
yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilati
lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar
dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya
memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya
pinggulnya sehingga aku gelagapan.
“Eemmpp.. emmphh.. nngg..!” aku mendesah tertahan
karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak
dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh
dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada
cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan
cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu meleleh di
sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik
keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat
disekujur wajahku, kacamata hitamku juga basah
kecipratan maninya.
Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku
dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di
jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu
terbuka dan Pak Slamet muncul dari sana, dia melongo
melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri
sempat kaget dengan kehadirannya, aku takut dia
membocorkan semua ini pada ortuku.
“Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang
Bapak di kamar, ga tau kalo Neng lagi gituan” katanya
terbata-bata.
Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan
diriku dan berjalan ke arahnya.
“Ah.. ga apa-apa Pak, mending Bapak ikutan aja yuk!”
godaku.
Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku,
meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke
payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar
membuatnya terangsang.
Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku,
bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas
kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.
“Neng, tetek Neng gede juga yah.. enak yah diginiin
sama Bapak?” Sambil tangannya terus meremasi
payudaraku.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka
celana panjangnya, setelah itu saya turunkan juga
celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam
menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya.
Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan
mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga
berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi
kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut,
kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya mengerang
keenakan
“Wah, Pak Slamet sama majikan sendiri aja malu-malu!”
seru si Warjo yang memperhatikan Pak Slamet agak
grogi menikmati oral seks-ku.
Warjo lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk
mengocok kemaluannya. Secara bergantian mulut dan
tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang
itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat
kemudian Warjo pindah ke belakangku, tubuhku
dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku.
Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak
masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku
menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi
inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya
dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke
balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku.
Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku
digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis Pak
Slamet makin bersemangat.
Rupanya aku telah membuat Pak Slamet ketagihan, dia
jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan
memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang
bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat
sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun
aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja
disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari
salah satunya menyebabkan penis yang lain makin
menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit
dilukiskan, ketika penis si Warjo menyentuh bagian
terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Slamet
menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka
terkadang memainkan payudara atau meremasi
pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang
dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan
mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh
penis Pak Slamet. Bersamaan dengan itu pula genjotan
si Warjo terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai
orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya
yang menyembur deras di dalamku, dari
selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.
Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang,
tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti
keadaanku dan menghentikan kegiatannya.
“Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak ke itunya
Neng?” tanya Pak Slamet lembut.
Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, “Tapi
Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih cape sih”.
Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah
dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga
ikut turun ke kolam, Warjo duduk di sebelah kiriku dan
Pak Slamet di kananku. Kami mengobrol sambil
memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka
selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan
bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain
hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan
saja, lagipula aku menikmatinya kok.
“Neng, Bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan
daritadi belum rasain itunya Neng” kata Pak Slamet
mengambil posisi berlutut di depanku.
Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan
kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang
dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung
menusuknya tapi menggesekannya pada bibir
kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan
meremas penis Warjo yang sedang menjilati leher di
bawah telingaku.
“Aahh.. Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih!”
desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya.
Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu
dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi
sensasi nikmat ke seluruh tubuh.
“Wah.. seret banget memeknya Neng, kalo tau gini udah
dari dulu Bapak entotin” ceracaunya.
“Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua
kira lu alim” kataku dalam hati.
Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia
melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan
tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun
menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku
hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi
kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara
bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami.
Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air
kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali,
kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua
payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari
tangan dan mulut mereka. Pak Slamet memperhatikan
penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis
21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak
habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi
tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak
dirasakannya.
Goyangan kami terhenti sejenak ketika Warjo tiba-tiba
mendorong punggungku sehingga pantatku semakin
menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah
Pak Slamet. Warjo membuka pantatku dan mengarahkan
penisnya ke sana
“Aduuh.. pelan-pelan Jo, sakit tau.. aww!” rintihku
waktu dia mendorong masuk penisnya.
Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua
batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang
tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi%
UNTUK INFO LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI CONTACT KITA DI BAWAH INIemail yahoo / ym : asli4d@yahoo.comgmail : asli4d@gmail.comtwitter : asli4d_officia
lskype : asli4dpin bbm : 2B915CD1







Tidak ada komentar:
Posting Komentar