
Cerita Ngentot Seru: Bersama Isti Orang di Dalam Bus
(HOT) | ari sudah sore ketika aku tiba di terminal Lebak
Bulus. Hari itu hari terakhirku menjadi bujangan. 4 hari
lagi, aku akan menikahi Mei, kekasihku selama 6 tahun.
Hari ini aku pulang ke Jogja, ke tempat kelahiranku
untuk bertemu dengan keluarga.
Cerita Seks Birahi Terbaru – Hidupku sungguh
sempurna. Tepat setelah aku lulus dari kuliah, aku
mendapatkan kerja yang cukup nyaman di sebuah
perusahaan telekomunikasi cukup besar daerah Jakarta
Selatan. Tinggal jalan kaki ke Pondok Indah Mall. Mei,
calon istriku, kemudian menyusul ke Jakarta dan bekerja
di sebuah bank di Bintaro. Perjalanan cinta kami bisa
dibilang cukup mulus. Benar-benar sebuah hidup yang
sempurna. Aku pun bukan orang yang aneh-aneh. Aku
dibesarkan dalam keluarga yang cukup religius dan
sangat teratur. Sepanjang sejarah kehidupanku, bisa
dihitung berapa kali aku melanggar aturan atau norma.
Kenakalanku paling besar hanyalah minum tomi (topi
miring in case you’re wondering) dan sedikit magadon,
waktu acara naik gunung di SMA. Tapi itu dulu.Hampa
kadang terasa. Hidup serasa jalan tol, tanpa rintangan,
mulus tanpa gejolak, penuh aturan. Kadang aku ingin,
sekali-kali memberontak, melanggar aturan. Sekali dalam
seumur hidup.
Aku beranjak di tengah kerumunan calo-calo untuk
mencari busku. Sumber Alam. Langgananku selama 2
tahun terakhir.
“Mbak, Sumber Alam yang Bisnis belum datang ya?”
tanyaku kepada seorang petugas loket. Manis juga. Item
manis sih tepatnya.
“Dereng mas, jogja ya? Mangke setengah jam malih …,”
Lho, kok bahasa jawa?
“Nuwun nggih mbak.”
Aku duduk menunggu. Asap bus benar-benar
menyesakkan. Aku merasakan diriku sesak napas. dari
dulu memang aku tidak pernah suka keramaian dan
kesesakan Jakarta. Tapi kepepet sih, harus cari upa
(“cari nasi”) di Jakarta.
Tak lama kemudian bis itu datang juga. AB 7766 BK.
Aku bergegas naik. 14A. dua tempat duduk. Aku
sengaja mencari tempat duduk persis di bawah AC. Biar
bisa tidur lelap. Aku segera menutup mata. Mengurangi
kebisingan akibat lalu lalang orang mencari tempat
duduk.
“Mas, mas, maaf …,” ada suara merdu rupanya. Aku
membuka mataku.
“Maaf, apa boleh tukeran sama suami saya? Suami saya
dapat tiket tempat duduk di seberang. Soalnya beli
tiketnya baru aja tadi.”
Aku melihat ibu yang menyapa tadi. Kemudian melihat
suaminya yang tersenyum mengangguk kepadaku di
seberang kursi kami, menggendong anak yang kira-kira
berusia 5 tahun.
“Aduh, bu, maaf, bukannya saya tidak mau, cuman
memang saya sengaja memilih tempat di bawah AC ini
bu. Maaf ya,” jawabku agak keberatan. Bukannya apa-
apa, tapi aku paling tidak suka diganggu dengan
masalah orang yang telat membeli tiket seperti
pasangan ini.
Ibu itu cemberut. “Ya sudahlah pa, kita ngalah aja. Aku
duduk di sampingnya mas ini aja.”
Whatever. aku kembali menutup mataku.
Perjalanan ini sesungguhnya bakal menyenangkan,
kalau tidak harus mendengar rengekan anak 5 tahun
yang sepertinya tidak pernah diam itu. Belum lagi suara
ibu-ibu di sebelahku ini, yang ya ampun, cerewetnya.
Aku jengkel banget.
Hujan mulai turun. Airnya menetes membentuk alur di
kaca jendelaku. Masih terjebak di Cawang. Sial.
Untung Cikampek tidak macet. Kendaraan mulai
menderu, bertambah cepat. Kulihat tebaran warna hijau
ditimpali air hujan yang begitu deras di sebelah kiri
jalan tol. Suara air hujan menderu keras sekali di atas
atap. Orang-orang sudah mulai menampakkan kantuk,
dan sepertinya suasana menjadi begitu sepi. Uh, begitu
romantis. Kalau saja Mei di sampingku, pasti kepalanya
sudah bersandar di bahuku, dan tangannya memeluk
lenganku. Kalau saja ….
Aku memandang ke samping. Ibu itu kini sedang sibuk
memberikan makan kepada anaknya. Si bapak sedang
sibuk dengan PDAnya. Tipikal keluarga Jakarta,
berumur di akhir 30an dan baru saja mempunyai anak.
Tampaknya keluarga berada. Tapi ngapain naik bis ya?
Ah, peduli amat.
Aku kembali menutup mataku. Hari berangsur gelap.
“Pengumuman, bapak ibu. Mohon maaf bahwa ada
kerusakan teknis yang menyebabkan lampu tidur tidak
dapat menyala,” kata kenek bus itu mengagetkan aku.
“huuuuu,” para penumpang menyahut serentak. Sip.
aku paling tidak suka lampu tidur yang remang remang.
Aku paling suka gelap. Tidurku pasti nyenyak malam
ini. Perjalanan yang panjang menuju Yogyakarta.
————
Aku melirik jamku. Jam 9 malam. Semua orang
tampaknya sudah terlelap. Tidak terkecuali ibu dan anak
di sampingku. Bus tadi baru saja berhenti di tempat
makan. Orang-orang makan malam dan ke belakang.
Pasti mereka kekenyangan, dan acara yang paling
menyenangkan setelah makan adalah tidur. Hujan
masih turun, rintik-rintik. Aku melanjutkan tidurku.
Tidak berapa lama aku terlelap, aku merasakan kaki
anak di sebelahku menyentuh kakiku. Sialan. Itu berarti
sepatu anak itu kena celanaku. Aku menggeser-
geserkan kakiku agar kaki anak itu tidak menekan
celanaku. Tentu saja dengan mata terpejam. Tidak
disangka, kaki itu balas menggesek. Eee, kurang ajar.
Aku segera membuka mataku untuk menegur orang
tuanya. Aku terkejut.
Ternyata itu bukan kaki anak kecil. Itu kaki orang
dewasa. Kaki ibu itu. Si anak ternyata sudah tidak ada
di pangkuan dia. Kemungkinan ada di pangkuan si
bapak. Aku segera menutup mataku, pura-pura tidur.
Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang lain yang
akan terjadi. Aku kembali menggesekkan kakiku,
menunggu responsnya. Dan ibu itu balas menggesek.
Aku sedikit membuka mataku. Kilatan cahaya dari luar
bus memberikan sedikit penglihatan mengenai ibu di
sampingku. Matanya juga terpejam ternyata.
Tiba-tiba ibu itu menggeser sedikit tubuhnya. Ya,
kearahku. Kami berdua menjadi duduk berdempetan.
Sisi samping kananku menempel pada bagian kiri
tubuhnya. Harum rambut dan parfumnya mulai
merasuki hidungku. Aku mulai terangsang.
Aku mencoba untuk lebih berani. Tubuhku aku
condongkan sedikit ke depan, dan kemudian aku
bergeser ke arahnya. Sehingga posisi saat itu, lenganku
tepat di depan dadanya. Tubuh itu diam saja. Lenganku
kemudian ku tekan sedikit ke belakang, sehingga aku
bisa merasakan sesuatu yang begitu empuk. Ya,
payudaranya. Payudaranya besar. Aku bisa merasakan
volumenya ketika lenganku menggeseknya. Dan sangat
empuk. Sikuku kemudian membuat gerakan melingkar di
dadanya. Pelan sekali, sikuku bergerak. Aku tidak mau
membuat ia berpikir macam-macam dan kemudian
menamparku.
Tubuh itu diam saja. Kulirik matanya. masih terpejam.
Tapi aku mendengar dia menghela napas. Jadi ia
terangsang. Aku? sangat terangsang. Aku merasakan
dadaku berdentum-dentum. Kepalaku berputar-putar
karena aliran darah yang sangat cepat ke otakku. Aku
bisa mendengar degup jantungku di telingaku sendiri.
Aku akan melakukan dosa. 4 hari sebelum
pernikahanku. Sepanjang sejarah hidupku. Tapi
perasaan itu, nafsu itu, benar-benar membuat aku tidak
tahan …..
lenganku terdiam sebentar dari kegiatan menggesek
dadanya. Yang lebih mengejutkan lagi, tangan ibu itu
mulai mengelus pahaku. ya, pahaku yang dibalut celana
panjang kain warna coklat. Tangannya sangat perlahan
mengelus kakiku dari mulai pangkal paha sampai atas
lutut. Aku gemetar. Sangat gemetar. Aku tidak tahan
……
Sekarang posisiku berubah. Aku membuka tas dan
mengambil sweater. Aku sudah memakai jaket tentu
saja, karena aku tidur di bawah AC. tapi sweater tadi
untuk maksud lain. Sweater tadi kemudian aku tutupkan
di atas dadaku, dan kemudian tanganku kulipat. Apabila
dililhat dari jauh, seperti orang yang tangannya
kedinginan karena AC. Tapi bukan itu alasannya. Aku
beringsut lagi mendekati tubuhnya. Tangan ibu itu
masih mengelus pahaku. Kami berpandangan sebentar.
Lucunya, setelah itu kami berdua kembali bersender
pada tempat duduk kami dengan mata terpejam.
Tanganku mulai beraksi. Tangan kiriku yang tadi dilipat
mulai bergerak ke arah dadanya. Sangat pelan. Tangan
itu mulai menyusuri bukit indah yang tertutup kain,
mulai dari tepi. Aku sangat menghayati momen itu.
Pelan-pelan kuelus bukit indah itu, dari tepi ke kanan.
Sedikit ku remas, tapi tidak banyak. Aku tidak mau
menyakiti bukit indah itu. Sungguh, ibu itu mempunyai
dada yang sempurna. Besar, dan sangat kenyal. Aku
merasakan bahwa dia memakai BH yang berenda. Aku
membayangkan bentuknya. Mungkin warnanya hitam.
Atau merah. Dan rendanya sedikit tembus pandang.
Mungkin cupnya cuma setengah. Mungkin cupnya
tidak bisa menahan volume payudara sebesar itu. Oooh,
aku semakin terangsang.
Ibu itu mengenakan baju jeans terusan dengan
bawahan rok dengan kancing dari dada sampai di lutut.
Kain jeansnya untungnya kain yang lemas, sehingga
aku bisa merasakan tekstur renda BHnya. Sangat
merangsang. Aku melirik sedikit ke arah dia. Dia masih
terus mengelus pahaku. Aku tidak sabar. Tangan
kananku yang nganggur kemudian memimpin
tangannya ke penisku yang sudah tegang. Aha, dia
mengerti. Kemudian dia berlanjut mengelus kontur
penisku dengan jari telunjuk dan jempolnya yang
tercetak jelas di dalam celanaku. OOoh, mantab.
“Besar …..,” desisnya. Matanya tetap terpejam. Mataku
juga.
Aku melanjutkan kenakalanku. Kali ini, dua kancing
tepat di depan dada besar itu aku buka. Dengan susah
payah. Pernah membayangkan membuka kancing-
kancing besar pada kain jeans? Yup, susah sekali.
Akhirnya dia turun tangan. Tangannya kanannya
membantuku membukanya.
Tanganku kemudian masuk pelahan ke dalam bajunya,
untuk merasakan keindahan payudara di baliknya.
Bayanganku memang menjadi kenyataan. BH setengah
cukup yang terlalu kecil, dengan renda yang sangat
merangsang. Aku suka sekali renda, terutama apabila
renda itu ada di tempat yang tepat. BH dan celana
dalam. Aku kembali mengelus dadanya. SEkarang aku
sedikit meremasnya. Sensasinya benar-benar luar biasa.
Dia mendesis. Kepalaku berdentum-dentum. Jantungku
berdebar sangat keras.
“Buka,” bisikku lirih. Mungkin tidak terdengar. Tapi aku
tidak mau mengambil resiko terdengar. Apalagi oleh
suaminya yang hanya duduk 50 cm di seberangnya.
Ternyata dia mendengar. Dia berhenti mengelus
penisku, membungkukkan sedikit badannya, dan
kemudian berusaha melepas kait BHnya di belakang.
Agak lama dia membukanya. Selagi dia membuka
BHnya, pelahan aku menarik ritsleting celanaku ke
bawah. Pelaaan sekali. Setelah itu, aku memelorotkan
celana dalamku. Tidak melorot sih sebenarnya. Cuman
mengaitkan kolornya ke bagian bawah penisku. Tidak
nyaman memang. Tapi sekarang penisku bisa bebas
mengacung menunjuk langit. Menanti elusannya.
Sepertinya kait BHnya sudah lepas. Tangan dia
sepertinya cerdas, kembali mencari sasarannya yang
tadi lepas. Dan dia tidak kaget, kali ini penisku sudah
tegak menjulang, keluar dari celana. Kemudian dia
seperti terkejut dan kemudian menarik tangannya dan
kemudian melipatnya di depan dada. Pura-pura tidur,
sambil menutupi dua kancing dadanya yang sudah
terbuka lebar.
Sial. ada orang mau ke toilet. dia berjalan melangkah
dari depan. Untung aku ada sweater yang bisa
menutupi si “burung” nakal. Aah, seorang wanita.
Bakalan lama nih. Jantungku berdegup keras.
Lama sekali orang itu di toilet. Aku mulai tidak sabar.
Penisku sudah mulai menyusut. ya iyalah, baru juga
pemanasan. Kepotong deh. ….
Akhirnya wanita itu lewat juga di di samping kami.
Uuuh, lega. Tangan ibu itu mulai duluan, menyusup di
bawah sweater, mencari “adikku” yang mulai tegang
lagi. hmmm. Tangannya sungguh mulus, dan
sentuhannya, benar-benar nikmat. Dia tahu betul cara
merangsang penis dengan sentuhan. Sentuhan itu
ringan, seperti melayang. Dia tidak meremas, atau
menggosok terlalu keras. semuanya serba ringan dan
melayang. Dan itu membuatku melayang.
Tanganku juga tidak mau kalah, seperti mempunyai
mata sendiri yang bergerak mencari sasarannya. Si bukit
kembar yang kenyal. Dan tangan itu menemukan
sasarannya. Dada itu benar-benar lembut. Mulus tak
bercela. Aku meresapi setiap jengkal usapan tanganku
di dadanya. Meremas pangkal dadanya. Memilin
putingnya. Putingnya. Putingnya runcing, ukurannya
luar biasa, sepanjang buku jari telunjukku. Dan keras.
Sangat keras. Sperti penis kecil. Aku memilinnya. lagi.
Dan dia mendesis.
“jangan keras-keras,” bisiknya sangat lirih. AKu
mengerti. Aku meremas, memilin, mengelus tanpa henti.
Benar-benar nikmat.
Tapi tetap ada yang kurang. Kami berdua tidak
terpuaskan. Penisku tetap tegang luar biasa. Dan
rasanya mulai sakit sekarang. berdenyut-denyut ga
karuan. Tangannya masih tetap mengelus penisku, tapi
sungguh, tangan itu tidak mampu membuat aku nikmat
terus-menerus. Dia mengerti hal itu.
“Ke bawah ….,” bisiknya sambil mengarahkan tanganku
yang tadi ada di dadanya ke arah bawah. Aku langsung
tanggap. Tanganku berubah posisi, mengelus pahanya
yang tertutup kain jeans. Tidak berasa memang. Tapi
dari gerakan tubuhnya aku tahu, dia sangat terangsang.
Dia berulangkali menggerakkan tubuhnya, seolah
menikmati betul elusan tanganku di pahanya. Pelan-
pelan aku naik sedikit ke atas, tepat di gundukan di
bawah pusar itu. Dia menahan tanganku.
“Jangan … “
Aku nekat.
“Jangan …” Ok. Aku turuti. Aku kembali mengelus
pahanya. Kali ini tanganku lebih berani. Kupegang
ujung roknya dan kunaikkan sedikit ke atas. Dia tidak
menolak. Aku kembali mengelus pahanya. Hhhm,
sungguh mulus. Benar-benar mulus. Aku merasakan
bulu-bulu halus di telapak tanganku. Dia terengah-
engah. Tangannya sejak dari tadi berhenti mengelus
penisku. Tak apa. lebih baik begitu daripada menyiksa
“adikku” yang sudah tegang luar biasa.
Aku tiba-tiba menghentikan elusanku dan menarik
tanganku. Kemudian memandang ke arah dia. Matanya
bertanya. Menanyakan mengapa aku menghentikan itu.
“Aku mau itu,” bisikku mendekat di telinganya, sambil
menunjuk ke arah gundukan tempat vaginanya berada.
Dia menggeleng. Aku kemudian berpura-pura tidur.
Memejamkan mata.
Lama sekali. Mungkin 5 menit, mungkin kurang dari itu.
Tangannya menarik tanganku dan mengarahkannya ke
tempat yang aku inginkan. Hehehehe, aku menang. Dia
tidak tahan. Tanganku sudah berada tepat di atas
gundukan itu. Dia membuka kancing bajunya tepat di
area itu. Tanganku bergerak mencari celana dalamnya.
Dapat.
Jelas, ini sutra. Atau Satin? aku tidak peduli. bahan kain
celana dalamnya halus sekali. aku merabanya.
memastikan. Terus ke bawah, dan kutemukan apa yang
kucari. Sesuatu itu sudah basah. Pasti basah, karena
aku merasakannya dengan tanganku. Tanganku
berhenti di situ. Merasakan bentuknya. Sedikit
bergelombang. Aku merasakan lipatan vertikal. Bulu-
bulu halus di sekitarnya. Cukup tebal. dan sangat
basah. Aku tersenyum kembali. Penuh kemenangan. Jari
tengahku kemudian mengelus lipatan basah itu. Pelan,
tapi sedikit menekan. Dia mendesis. Oh tidak. Dia
melenguh. Tetap memejamkan matanya.
Aku makin berani. Celana itu aku pegang elastisnya.
dan aku turunkan ke bawah. Dia memegang tanganku.
Aku tetap berkeras. Dia menyerah.
Kembali jari tengahku mencari tempat tadi. Jari itu
mencari sumber kenikmatan seorang wanita. Sebuah
penis kecil yang sudah amat basah. Aku
menggoyangnya pelan dengan jariku. Kemudian
mengelusnya. Kemudian menekannya. Tubuhnya
menegang.
Aku kembali mengelusnya. Pelan dan sedikit menekan.
Pelan dan sedikit menekan. Tempat itu terasa lebih
basah daripada sebelumnya. Jariku masuk lebih ke
dalam. Merasakan lipatan lain di dalam yang sangat
basah. Benar-benar basah. Rongga itu seperti tidak
berujung. Kemudian jariku kugerakkan. ke dalam dan ke
luar. Berulangkali.
Aha, aku merasakan jariku seperti tersedot ke dalam.
Ada sesuatu yang mencengkeram. Dan rasa itu kembali
membuatku terangsang. Aku terus menggerakkan
jariku. Semakin cepat. Tiba-tiba jariku seperti ditumpahi
cairan hangat. kental. Dia terengah-engah. Tubuhnya
menegang. Kali ini cukup lama. Aku terus
menggerakkan jariku. Dia kemudian menahan tanganku.
Aku menurut. Aku memandangnya.
Matanya terpejam. Seperti menghayati sesuatu.
Mungkin orgasme. Dadanya naik turun, terengah-engah
seperti habis lari kencang. Kancing masih terbuka.
“Apa kau ..?”
“Ya … . Luar biasa …,” bisiknya, memandang
kepadaku. Oooh, senyumnya manis sekali. Matanya
yang bulat besar memantulkan kilatan cahaya neon di
luar bus.
Dia memandang ke bawah tubuhku.
“Kasihan ya,…” senyumnya menunjuk ke “adikku”. Ya
iyalah. “adikku” tidur nyenyak sementara dia sendiri
terpuaskan. Paling tidak dengan jariku.
“ga papa …”
Kami berdua terdiam. Menghayati momen-momen gila
tadi. Kedua mata terpejam. Hawa dingin AC menyergap.
Aku melirik jamku. 2 dinihari. Dan kemudian bus
berhenti. cukup lama. Orang-orang sepertinya tidak
peduli. tetap mereka tertidur nyenyak, padahal AC mati.
Aku memandang “partner”ku. Matanya terpejam.
Bajunya sudah dikancingkan. Lengkap. Aku pun
bergerak membetulkan celanaku.
“Jangan ….,” katanya sambil menahan tanganku yang
hendak menarik ritsleting. Oh, dia ternyata melirikku. Ok.
Aku menurut. Aku ingin tahu apa yang ingin dia
lakukan. Aku hanya menutupnya kembali dengan
sweater. Temperatur udara dalam bis mulai panas.
Keringatku mulai menetes dari kening.
Akhirnya bus berjalan. AC mulai berhembus lagi. Sejuk.
Aku memejamkan mata lagi.
“Buka matamu, awasin ….”
Aku tidak mengerti. aku membuka mataku. Tiba-tiba dia
membungkuk.
Gilaaaa. Aku merasakan bibir mungilnya menyentuh
kepala “adikku”. Ringan sekali. Aku mengerti
maksudnya. Mengawasi sekeliling supaya tidak ada
seseorang pun memergoki aksi gila ini. Penisku mulai
hidup lagi. Gila mungkin, tapi aduuuh, memang nikmat.
Kurasakan bibirnya mulai menciumi kepala penisku.
Ohh, bibirnya mulai membuka dan memasukkan kepala
penisku ke mulutnya. Penisku mulai masuk ke dalam
mulutnya. Dan pelan-pelan mulut itu mulai menghisap.
Adduh, sakit.
“Jangan keras-keras …,” aku berbisik sambil membelai
rambutnya. Membelai rambutnya? iya, seperti layaknya
pacar saja. Dia kembali melanjutkan kulumannya. Kali
ini pelan-pelan. Naik turun. Naik turun. Nikmat tak
terkira.
Tampaknya dia sudah sering melakukan ini. Mulutnya
bagaikan sebuah mesin handal perangsang penis.
Setelah selesai menghisap, dia berhenti sebentar, dan
kemudian menjilat bagian bawah kepala penisku. Tidak
cuma menjilat, lidahnya juga bergetar ketika bergerak
menyusuri daging itu.
“Ooohhh ..,” kali ini aku terpaksa harus melenguh. Ini
nikmat sekali. Dia tahu sekali kelemahan “adikku”.
Bagian itu kemudian digigitnya dengan bibirnya. Siall,
makin nikmat. Lagi-lagi digigitnya dengan bibirnya.
Kalau begini terus, aku pasti tak tahan. Gelliiii.
Kemudian mulutnya kembali mengulum. Naik turun.
Yang aku heran, penisku bisa masuk semua ke
mulutnya. Wooa, sensasinya benar-benar luar biasa.
Telaten sekali dia. Mulutnya kemudian berpindah ke ….
bolaku. Menciumnya sebentar, kiri dan kanan, dan
kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.
Ohhhh….. . Ketika mengulum bolaku, kurasakan
lidahnya menari-nari di dalam mulutnya.
Aku yang ga telaten. Kurasakan nikmatku semakin
memuncak. Tidak tahan lagiiiiiiiii …..
“Aku mau ….”
Mulutnya berpindah ke kepala penisku. Mengulumnya
lagi. naik turun. Tangannya mengocok pangkal penisku.
Pelan tapi erat.
“Aaaahhhhh …”
Ujung penisku berkedut. Sekali. Kurasakan aliran
sperma ke mulutnya. Dua kali. Tiga kali. Empat kali.
Selama itu pula mulutnya tetap mencengkeram kepala
penisku. Aku ejakulasi. Di dalam mulut seorang ibu.
Orang asing. Aku bahkan tidak tahu namanya.
Dia memandangku. Tatapan itu ….
“Makasih ….,” hanya itu yang terlontar dari mulutku.
Dia bangkit, kemudian tersenyum kepadaku. Sekilas
kulihat bekas sperma di pinggir bibirnya. Aku
mengangkat tanganku, membersihkannya.
Kami berdua terpejam.
Pagi menjelang. Orang-orang sudah sibuk ngobrol. Isi
bus kembali ramai. Aku? masih terlelap. Atau pura-
pura? Setelah kejadian malam tadi, aku sama sekali
tidak berani untuk menatap ibu di sampingku. Bahkan
mengajak bicara pun tidak berani. Kurasa dia juga
begitu. Kudengar dia sibuk dengan anaknya, sambil
bicara dengan suaminya seolah-olah tidak pernah terjadi
apa-apa antara aku dan dia. Sepanjang jalan ku
membuang muka, menatap pemandangan di luar
jendela bus.
Pesta bujanganku kurasa.
Pukul 6.30. Orang-orang sudah mulai turun bus. Sudah
sampai Sedayu. Berarti sebentar lagi masuk kota.
Keluarga di sampingku bangkit. Oh, mereka mau turun.
“Mas, duluan, mas …,” kata suaminya ramah, ditimpali
ibu itu. Aku terpaksa menoleh ke arah mereka. Baru
kusadari sekarang. Ibu itu sangat manis. Aku merasa
berterimakasih padanya.
“Oiya, monggo monggo,” sahutku.
Mereka turun dari bus. Bus semakin sepi mendekati
terminal Giwangan. Ada secarik kertas kecil di bekas
tempat duduk ibu tadi. Aku memungutnya. Penasaran.
UNTUK INFO LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI CONTACT KITA DI BAWAH INIemail yahoo / ym : asli4d@yahoo.comgmail : asli4d@gmail.comtwitter : asli4d_officialskype : asli4dpin bbm : 2B915CD1







Tidak ada komentar:
Posting Komentar