[12:02:30 PM] Indo Nalo:
close

Selasa, 11 Agustus 2015

Cerita Dewasa Seru: Dihamili ABG Tetangga

Cerita Dewasa Seru: Dihamili ABG Tetangga | Namaku
Lani, seorang ibu rumah tangga, umurku 36 tahun.
Suamiku namanya Prasojo, umur 44 tahun, seorang
pegawai di pemerintahan di Bantul. Aku bahagia
dengan suami dan kedua anakku. Suamiku seorang laki-
laki yang gagah dan bertubuh besar, biasalah dulu dia
seorang tentara. Penampilanku walaupun sudah
terbilang berumur tapi sangat terawat, karena aku rajin
ke salon dan fitnes dan yoga. Kata orang, aku mirip
seperti Sandy Harun.
Cerita Dewasa Seru: Aku Dihamili ABG Tetangga |
Tubuhku masih bisa dikatakan langsing, walaupun
payudaraku termasuk besar, karena sudah punya anak
dua. Anakku yang pertama bernama Rika, seorang gadis
remaja yang beranjak dewasa. Dia sudah mau lulus
SMA, yang kedua Sangga,masih sekolah SMA kelas 1.
Rika walaupun tinggal serumah dengan kami juga lebih
sering menghabiskan waktunya di tempat kosnya di
kawasan Gejayan. Kalau si Sangga, karena cowok
remaja, lebih sering berkumpul dengan teman-temannya
ataupun sibuk berkegiatan di sekolahnya. Semenjak
tidak lagi sibuk mengurusi anak-anak, kehidupan
seksku semakin tua justru semakin menjadi-jadi.
Apalagi suamiku selain bertubuh kekar, juga orang yang
sangat terbuka soal urusan seks. Akhir-akhir ini, setelah
anak-anak besar, kami berlangganan internet.
Cerita Dewasa Seru Terbaru 2014 | Aku dan suamiku
sering browsing masalah-masalah seks, baik video,
cerita, ataupun foto-foto. Segala macam gaya
berhubungan badan kami lakukan. Kami bercinta sangat
sering, minimal seminggu tiga kali. Entah mengapa,
semenjak kami sering berseluncur di internet, gairah
seksku semakin menggebu. Sebagai tentara, suami
sering tidak ada di rumah, tapi kalau pas di rumah, kami
langsung main kuda-kudaan, hehehe. Sudah lama kami
memutuskan untuk tidak punya anak lagi. Tapi aku
sangat takut untuk pasang spiral. Dulu aku pernah
mencoba suntik dan pil KB. Tapi sekarang kami lebih
sering pakai kondom, atau lebih seringnya suamiku
‘keluar’ di luar. Biasanya di mukaku, di payudara, atau
bahkan di dalam mulutku. Pokoknya kami sangat hati-
hati agar Sangga tidak punya adik lagi. Dan tenang saja,
suamiku sangat jago mengendalikan muncratannya, jadi
aku tidak khawatir muncrat di dalam rahimku.
Walaupun sudah dua kali melahirkan tubuhku termasuk
sintal dan seksi. Payudaraku masih cukup kencang
karena terawat. Tapi yang jelas, bodiku masih semlohai,
karena aku masih punya pinggang. Aku sadar, kalau
tubuhku masih tetap membuat para pria menelan air
liurnya. Apalagi aku termasuk ibu-ibu yang suka pakai
baju yang agak ketat. Sudah kebiasaan sih dari remaja.
Suamiku termasuk seorang pejabat yang baik. Dia ramah
pada setiap orang. Di kampung dia termasuk aparat
yang disukai oleh para tetangga. Apalagi suamiku juga
banyak bergaul dengan anak-anak muda kampung.
Kalau pas di rumah, suamiku sering mengajak anak-
anak muda untuk bermain dan bercakap-cakap di teras
rumah. Semenjak setahun yang lalu, di halaman depan
rumah kami di bangun semacam gazebo untuk
nongkrong para tetangga. Setelah membeli televisi baru,
televisi lama kami, ditaruh di gazebo itu, sehingga para
tetangga betah nongkrong di situ. Yang jelas, banyak
bapak-bapak yang curi-curi pandang ke tubuhku kalau
pas aku bersih-bersih halaman atau ikutan nimbrung
sebentar di tempat itu. Maklumlah, kalau istilah
kerennya, aku ini termasuk MILF, hehehe. Selain bapak-
bapak, ada juga pemuda dan remaja yang sering
bermain di rumah. Salah satunya karena gazebo itu juga
dipergunakan sebagai perpustakaan untuk warga.
Salah satu anak kampung yang paling sering main ke
rumah adalah Indun, yang masih SMP kelas 2. Dia anak
tetangga kami yang berjarak 3 rumah dari tempat kami.
Anaknya baik dan ringan tangan. Sama suamiku dia
sangat akrab, bahkan sering membantu suamiku kalau
lagi bersih-bersih rumah, atau membelikan kami
sesuatu di warung. Sejak masih anak-anak, Indun dekat
dengan anak-anak kami, mereka sering main karambol
bareng di gazebo kami. Bahkan kadang-kadang Indun
menginap di situ, karena kalau malam, gazebo itu diberi
penutup oleh suamiku, sehingga tidak terasa dingin.
Pada suatu malam, aku dan suamiku sedang
bermesraan di kamar kami. Semenjak sering melihat
adegan blow job di internet, aku jadi kecanduan
mengulum penis suamiku. Apalagi penis suamiku
adalah penis yang paling gagah sedunia bagiku. Tidak
kalah dengan penis-penis yang biasa kulihat di BF.
Padahal dulu waktu masih pengantin muda aku selalu
menolak kalau diajak blowjob. Entah kenapa sekarang di
usia yang sudah pertengahan kepala tiga ini aku justru
tergila-gila mengulum batang suamiku. Bahkan aku bisa
orgasme hanya dengan mengulum batang besar itu.
Tiap nonton film blue pun mulutku serasa gatal. Kalau
pas tidak ada suamiku, aku selalu membawa pisang
kalau nonton film-film gituan. Biasalah, sambil nonton,
sambil makan pisang, hehehe. Malam itu pun aku
dengan rakus menjilati penis suamiku. Bagi mas
Prasojo, mulutku adalah vagina keduanya. Dengan
berseloroh, dia pernah bilang kalau sebenarnya dia
sama saja sudah poligami, karena dia punya dua lubang
yang sama-sama hotnya untuk dimasuki. Ucapan itu
ada benarnya, karena mulutku sudah hampir
menyerupai vagina, baik dalam mengulum maupun
dalam menyedot. Karena kami menghindari kehamilan,
bahkan sebagian besar sperma suamiku masuk ke
dalam mulutku. Malam itu kami lupa kalau Indun tidur
di gazebo kami. Seperti biasa, aku teriak-teriak pada
waktu penis suamiku mengaduk-aduk vaginaku.
Suamiku sangat kuat. Malam itu aku sudah berkali-kali
orgasme, sementara suamiku masih segar bugar dan
menggenjotku terus menerus. Tiba-tiba kami tersentak,
ketika kami mendengar suara berisik di jendela. Segera
suami mencabut batangnya dan membuka jendela. Di
luar nampak Indun dengan wajah kaget dan gemetaran
ketahuan mengintip kami. Suamiku nampak marah dan
melongokkan badannya keluar jendela. Indun yang
kaget dan ketakutan meloncat ke belakang. Saking
kagetnya, kakinya terantuk selokan kecil di teras rumah.
Indun terjerembab dan terjungkal ke belakang. Suamiku
tak jadi marah, tapi dia kesal juga.
“Walah, Ndun! Kamu itu ngapain?” bentaknya.
Indun ketakutan setengah mati. Dia sangat
menghormati kami. Suamiku yang tadinya kesal pun tak
jadi memarahinya. Indun gelagepan. Wajahnya meringis
menahan sakit, sepertinya pantatnya terantuk sesuatu
di halaman. Aku tadinya juga sangat malu diintip anak
ingusan itu. Tapi aku juga menyayangi Indun, bahkan
seperti anakku sendiri. Aku juga sadar, sebenarnya kami
yang salah karena bercinta dengan suara segaduh itu.
Aku segera meraih dasterku dan ikut menghampiri
Indun.
“Aduh, mas. Kasian dia, gak usah dimarahin. Kamu
sakit Ndun?” Aku mendekati Indun dan memegang
tangannya.
Wajah Indun sangat memelas, antara takut, sakit, dan
malu.
“Sudah gak papa. Kamu sakit, Ndun?” tanyaku. “Sini
coba kamu berdiri, bisa gak?”
Karena gemeteran, Indun gagal mencoba berdiri, dia
malah terjerembab lagi. Secara reflek, aku memegang
punggungnya, sehingga kami berdua menjadi
berpelukan. Dadaku menyentuh lengannya, tentu saja
dia dapat merasakan lembutnya gundukan besar
dadaku, karena aku hanya memakai daster tipis yang
sambungan, sementara di dalamnya aku tidak memakai
apa-apa.
“Aduh sorri, Ndun” pekikku.
Tiba-tiba suamiku tertawa. Agak kesal aku melirik
suamiku, kenapa dia menertawai kami.
“Aduh Mas ini. Ada anak jatuh kok malah ketawa”
“Hahaha.. lihat itu, Dik. Si Indun ternyata udah gede,
hahaha…” kata suamiku sambil menunjuk
selangkangan Indun. Weitss… ternyata mungkin tadi
Indun mengintip kami sambil mengocok, karena di atas
celananya yang agak melorot, batang kecilnya mencuat
ke atas. Penis kecil itu terlihat sangat tegang dan
berwarna kemerahan. Malu juga aku melihat adegan itu,
apalagi si Indun. Dia tambah gelagepan.
“Hussh Mas. Kasihan dia, udah malu tuh”, kataku yang
justru menambah malu si Indun.
“Kamu suka yang lihat barusan, Ndun? Wah, hayooo…
kamu nafsu ya lihat istriku?” goda suamiku.
Suamiku malah ketawa-ketawa sambil berdiri di
belakangku. Tentu saja wajah Indun tambah memerah,
walaupun tetap saja penis kecilnya tegak berdiri. Kesal
juga aku sama suamiku. Udah gak menolonng malah
mentertawakan anak ingusan itu.
“Huh, Mas mbok jangan godain dia, mbok tolongin nih,
angkat dia”
“Lha dia khan sudah berdiri, ya tho Ndun? Wakakak”
kata suamiku.
Aku sungguh tidak tega lihat muka anak itu. Merah
padam karena malu. Aku lalu berdiri mengangkang di
depan anak itu, dan memegang dua tangannya untuk
menariknya berdiri. Berat juga badannya. Kutarik kuat-
kuat, akhirnya dia terangkat. Tapi baru setengah jalan,
mungkin karena dia masih gemetar dan aku juga kurang
kuat, tiba-tiba justru aku yang jatuh menimpanya.
Ohhh… aku berusaha untuk menahan badanku agar
tidak menindih anak itu, tapi tanganku malah menekan
dada Indun dan membuatnya jatuh terlentang sekali
lagi. Bahkan kali ini, aku ikut jatuh terduduk di
pangkuannya. Dan…. ohhhh. Sleppp…. terasa sesuatu
menggesek bibir vaginaku.
“Waa…!” aku tersentak dan sesaat bingung apa yang
terjadi, begitu juga dengan Indun, wajahnya nampak
sangat ketakutan. “Aduuuhhh!” teriakku. Sementara
suamiku justru tertawa melihat kami jatuh lagi. Tiba-
tiba aku sadar benda apa yang bergesekan dengan
vaginaku, penis kecil si Indun! Penis itu menggesek
wilayah sensitifku disamping karena vaginaku masih
basah oleh persetubuhanku dengan suamiku, juga
karena aku tidak mengenakan apa-apa di balik daster
pendekku.
“Ohhhhh…. apa yang terjadi?” Pikirku.
Mungkin juga karena penis Indun yang masih imut
dan lobang vaginaku yang biasa digagahi penis besar
suami, jadinya sangat mudah diselipin batang kecil itu.
“Ohhh.. Masss???” desisku pada suamiku. Kali ini
suamiku berhenti tertawa dan agak kaget.
“Napa, say?” tanyanya heran.
Kami bertiga sama-sama kaget, suamiku nampaknya
juga menyadari apa yang terjadi. Dia mendekati kami,
dan melihat bahwa kelamin kami saling bersentuhan.
Beberapa saat kami bertiga terdiam bingung dengan
apa yang terjadi. Aku merasakan penis Indun
berdenyut-denyut. Lobangku juga segera meresponnya,
mengingat rasa tanggung setelah persetubuhanku
dengan suamiku yang tertunda. Aku mencoba bangkit,
tapi entah kenapa, kakiku jadi gemetar dan kembali
selangkanganku menekan tubuh si Indun. Tentu saja
penisnya melesak ke lobangku. Ohhh… aku merasakan
sensasi yang biasa kutemui kala sedang bersetubuh.
“Ohhh…” desisku. Indun terpekik tertahan. Wajahnya
memerah. Tapi aku merasakan pantatnya sedikit
dinaikkan merespon selangkanganku. Slepppp…
kembali penis itu menusuk dalam lobangku.
Yang mengherankan suamiku diam saja, entah karena
dia kaget atau apa. Hanya aku lihat wajahnya ikut
memerah dan sedikit membuka mulutnya, mungkin
bingung juga untuk bereaksi dengan situasi aneh ini.
Aku diam saja menahan napas sambil menguatkan
tanganku yang menahan tubuhku. Tanganku berada di
sisi kanan dan kiri si Indun. Sementara Indun dengan
wajah merah padam menatap mukaku dengan panik.
Agak mangkel juga aku lihat mukanya, panik, takut, tapi
kok penisnya tetap tegang di dalam vaginaku. Dasar
anak mesum, pikirku. Tapi aneh juga, aku justru
merasakan sensasi yang aneh dengan adanya penis
anak yang sudah kuanggap saudaraku sendiri itu dalam
vaginaku. Agak kasihan juga lihat mukanya, dan juga
muncul rasa sayang. Pikirku, kasihan juga anak ini, dia
sangat bernafsu mengintip kami, dan juga apalagi yang
dikawatirkan, karena penisnya sudah terlanjur dalam
vaginaku. Aku melirik suamiku sambil tetap duduk di
pangkuan si Indun. Suamiku tetap diam saja. Agak
kesal juga aku lihat respon mas Prasojo. Tiba-tiba
pikiran nakal menyelimuti. Kenapa tidak kuteruskan saja
persetubuhanku dengan Indun, toh penisnya sudah
menancap di vaginaku. Apalagi kalau lihat muka
hornynya yang sudah di ubun-ubun, kasihan lihat
Indun kalau tidak diteruskan. Dengan nekat aku kembali
menekan pantatku ke depan. Vaginaku meremas penis
Indun di dalam. Merasakan remasan itu, Indun terpekik
kaget. Suamiku mendengus kaget juga.
“Dik, aaa…paaaa yang kaulakukan?” kata suamiku
gagap.
Aku diam saja, hanya saja aku mulai menggoyang
pantatku maju mundur.
Suamiku melongo sekarang. Wajahnya mendekat
melihat mukaku setengah tak percaya. Indun tidak
berani lihat suamiku. Dia menatap wajahku keheranan
dan penuh nafsu.
“Mas… aku teruskan saja ya, kasihan si Indun. Apalagi
khan sudah terlanjur masuk, toh sama saja…” bisikku
berani ke suamiku.
Aku tak bisa lagi menduga perasaan suamiku.
Kecelakaan ini benar-benar di luar perkiraan kami
semua. Tapi suamiku memegang pundakku, yang
kupikir mengijinkan kejadian ini. Entah apa yang ada di
pikiranku, aku tiba-tiba sangat ingin menuntaskan nafsu
si Indun. Si Indun mengerang-erang sambil terbaring di
rerumputan halaman rumah kami. Kembali aku memaju-
mundurkan pantatku sambil meremas-remas penis kecil
itu di dalam lobangku. Remasanku selalu bikin suamiku
tak tahan, karena aku rajin ikut senam. Apalagi ini si
Indun, anak ingusan yang tidak berpengalaman. Tiba-
tiba, karena sensasi yang aneh ini, aku merasakan
orgasme di dalam vaginaku. Jarang aku orgasme
secepat itu. Aku merintih dan mengerang sambil
memegang erat lengan suamiku. Banjir mengalir dalam
lobangku. Otomatis remasan dalam vaginaku menguat,
dan penis kecil si Indun dijepit dengan luar biasa.
Indun meringis dan mengerang. Pantatnya melengkung
naik, dann…. croottttttttt………..
Cairan panas itu membanjiri rahimku. Aku seperti
hilang kendali, semua tiba-tiba gelap dan aku diserbu
oleh badai kenikmatan…
“Ohhhhhhhhhh…”
Aku lalu terkulai sambil menunduk menahan tubuhku
dengan kedua tanganku. Nafasku terengah-engah tidak
karuan. Sejenak aku diam tak tahu harus bagaimana.
Aku dan suamiku saling berpandangan.
“Dik… Indun gak pakai kondom ..?” suamiku terbata-
bata.
Kami sama-sama kaget menyadari bahwa percintaan
itu tanpa pengaman sama sekali, dan aku telah
menerima banyak sekali sperma dalam rahimku, sperma
si anak ingusan. Ohhh… tiba-tiba aku sadar akan resiko
dari persetubuhan ini. Aku dalam masa subur, dan
sangat bisa jadi aku bakalan mengandung anak dari
Indun, bocah SMP yang masih ingusan.
Pelan-pelan aku berdiri dan mencabut penis Indun dari
vaginaku. Penis itu masih setengah berdiri, dan berkilat
basah oleh cairan kami berdua. Aku dan suamiku
mengehela nafas. Cepat cepat aku memperbaiki
dasterku. Dengan gugup, Indun juga menaikkan
celananya dan duduk ketakutan di rerumputan.
“Maa.. ma’af, Bu..” akhirnya keluar juga suaranya.
Aku menatap Indun dengan wajah seramah mungkin.
Suamiku yang akhirnya pegang peranan.
“Sudahlah, Ndun. Sana kamu pulang, mandi dan cuci-
cuci!” perintahnya tegas.
“Iya, om. Ma.. maaf ya Om” kata Indun sambil
menunduk. Segera dia meluncur pergi lewat halaman
samping.
“Masuk!” suamiku melihat ke arahku dengan suara
agak keras.
Gemetar juga aku mendengar suamiku yang biasanya
halus dan mesra padaku. Aduuh, apa yang akan terjadi?
bKami berdua masuk ke rumah, aku tercekat tidak bisa
mengatakan apa-apa. Tiba-tiba pikiran-pikiran buruk
menderaku, jangan-jangan suamiku tak memaafkanku.
Ohhh apa yang bisa kulakukan. Di dalam kamar
tangisanku pecah. Aku tak berani menatap suamiku.
Selama ini aku adalah istri yang setia dan bahagia
bersama suamiku, tapi malam ini… tiba-tiba aku merasa
sangat kotor dan hina. Agak lama suamiku
membiarkanku menangis. Pada akhirnya dia mengelus
pundakku.
“Sudahlah bu, ini khan kecelakaan.”
Hatiku sangat lega. Aku menatap suamiku, dan
mencium bibirnya. Tiba-tiba aku menjadi sangat takut
kehilangan dia. Kami berpelukan lama sekali.
“Tapi mas… kalau aku…… hamil gimana?” tanyaku
memberanikan diri.
“Ah.. mana mungkin, dia khan masih ingusan. Dan
kalau pun Dik Idah hamil khan gak papa, si Sangga juga
sudah siap kalau punya adik lagi”, sanggah suamiku.
Jawaban itu sedikit menenangkan hatiku. Akhirnya kami
bercinta lagi. Kurasakan suamiku begitu mengebu-gebu
mengerjaiku. Apa yang ada di pikirannya, aku tak tahu,
padahal dia barusan saja melihat istrinya disetubuhi
anak muda. Sampai-sampai aku kelelehan melayani
suamiku. Pada orgasme yang ketiga aku menyerah.
“Mas, keluarin di mulutku saja ya… aku tak kuat lagi”
bisikku pada orgasme ketigaku ketika kami dalam posisi
doggystye.
Suamiku mengeluarkan penisnya dan
menyorongkannya ke mulutku. Sambil terbaring aku
menyedot-nyedot penis besar itu. Sekitar setengah jam
kemudian, mulutku penuh dengan sperma suamiku.
Dengan penuh kasih sayang, aku menelan semua cairan
kental itu.
###################
Hari-hari selanjutnya berlalu dengan biasa. Aku dan
suamiku tetap dengan kemesraan yang sama. Kami
seolah-olah melupakan kejadian malam itu. Hanya saja,
Indun belum berani main ke rumah. Agak kangen juga
kami dengan anak itu. Sebenarnya rumah kami dekat
dengan rumah Indun, tapi aku juga belum berani untuk
melihat keadaan anak itu. Hanya saja aku masih sering
ketemu ibunya, dan sering iseng-iseng nanya keadaan
Indun. Katanya sih dia baik-baik saja hanya sekarang
lagi sibuk persiapan mau naik kelas 3 SMP. Seminggu
sebelum bulan puasa, Indun datang ke rumah
mengantarkan selamatan keluarganya. Wajahnya masih
kelihatan malu-malu ketemu aku. Aku sendiri dengan
riang menemuinya di depan rumah.
“Hai Ndun, kok kamu jarang main ke rumah?” tanyaku.
“Eh, iya bu. Gak papa kok Bu”, jawabnya sambil
tersipu.
“Bilang ke mamamu, makasih ya”
“Iya bu”, jawab Indun dengan canggung. Dia bahkan
tak berani menatap wajahku. Entah kenapa aku merasa
kangen sekali sama anak itu. Padahal dia jelas masih
anak ingusan, dan bukan type-type anak SMP yang
populer dan gagah kayak yang jago-jago main basket.
Jelas si Indun tidak terlalu gagah, tapi ukuran sedang
untuk anak SMP. Hanya badannya memang tinggi.
“Ayo masuk dulu. Aku buatin minum ya” ajakku.
Indun tampak masih agak malu dan takut untuk masuk
rumah kami. Siang itu suamiku masih dinas ke
Kulonprogo. Anak-anak juga tidak ada yang di rumah.
Kami bercakap-cakap sebentar tentang sekolahnya dan
sebagainya. Sekali-kali aku merasa Indun melirik ke
badanku. Wah, gak tahu kenapa, aku merasa senang
juga diperhatiin sama anak itu badanku. Waktu itu aku
mengenakan kaos agak ketat karena barusan ikut kelas
yoga bersama ibu-ibu Candra Kirana. Tentunya dadaku
terlihat sangat menonjol. Akhirnya tidak begitu lama,
Indun pamit pulang. Dia kelihatan lega sikapku padanya
tidak berubah setelah kejadian malam itu.
Hingga pada bulan selanjutnya aku tiba-tiba gelisah.
Sudah hampir lewat dua minggu aku belum datang
bulan. Tentu saja kejadian waktu itu membuatku
bertambah panik. Gimana kalau benar-benar jadi? Aku
belum berani bilang pada Mas Prasojo. Untuk
melakukan test saja aku sangat takut. Takutnya kalau
positif.
Hingga pada suatu pagi aku melakukan test kehamilan
di kamar mandi. Dan, deg! Hatiku seperti mau copot.
Lembaran kecil itu menunjukkan kalau aku positif
hamil!!! Oh Tuhan!
Aku benar-benar kaget dan tak percaya. Jelas ini bukan
anak suamiku. Kami selalu bercinta dengan aman. Dan
jelas sesuai dengan waktu kejadian, ini adalah anak
Indun, si anak SMP yang belum cukup umur. Aku
benar-benar bingung. Seharian aku tidak dapat
berkonsentrasi. Pikiranku berkecamuk tidak karuan.
Bukan saja karena aku tidak siap untuk punya anak lagi,
tapi juga bagaimana reaksi suamiku, bahwa aku hamil
dari laki-laki lain. Itulah yang paling membuatku
bingung.
Hari itu aku belum berani untuk memberi tahu suamiku.
Dua hari berikutnya, justru suamiku yang merasakan
perbedaan sikapku.
“Dik Lani, ada apa? Kok sepertinya kurang sehat?”
tanyanya penuh perhatian.
Waktu itu kami sedang tidur bedua. Aku tidak bisa
mengeluarkan kata-kata. Yang kulakukan hanya
memeluk suamiku erat-erat. Suamiku membalas
pelukanku.
“Ada apa sayang?” tanyanya.
Badan kekarnya memelukku mesra. Aku selalu merasa
tenang dalam pelukan laki-laki perkasa itu. Aku tidak
berani menjawab. Suamiku memegang mukaku, dan
menghadapkan ke mukanya. Sepertinya dia menyadari
apa yang terjadi. Sambil menatap mataku, dia bertanya,
“benarkah?”
Aku mengangguk pelan sambil menagis, “aku hamil,
mas…”
Jelas suamiku juga kaget. Dia diam saja sambil tetap
memelukku. Lalu dia menjawab singkat’
“besok kita ke dokter Merlin”. Aku mengangguk, lalu
kami saling berpelukan sampai pagi tiba.
Hari selanjut sore-sore kami berdua menemui dokter
Merlin. Setelah dilakukan test, dokter cantik itu memberi
selamat pada kami berdua.
“Selamat, Pak dan Bu Prasojo. Anda akan mendapatkan
anak ketiga”, kata dokter itu riang.
Kami mengucapkan terimakasih atas ucapan itu, dan
sepanjang jalan pulang tidak berkata sepatah kata pun.
Setelah itu, suamiku tidak menyinggung masalah itu,
bahkan dia memberi tahu pada anak-anak kalau mereka
akan punya adik baru. Anak-anak ternyata senang juga,
karena sudah lama tidak ada anak kecil di rumah. Bagi
mereka, adik kecil akan menyemarakkan rumah yang
sekarang sudah tidak lagi ada suara anak kecilnya.
Malamnya, setelah tahu aku hamil, suamiku justru
menyetubuhiku dengan ganas. Aku tidak tahu apakah
dia ingin agar anak itu gugur atau karena dia merasa
sangat bernafsu padaku. Yang jelas aku menyambutnya
dengan tak kalah bernafsu. Bahkan kami baru tidur
menjelang jam 3 dini hari setelah sepanjang malam
kami bergelut di kasur kami. Aku tidak tahu lagi
bagaimana wujud mukaku malam itu, karena sepanjang
malam mulutku disodok-sodok penis suamiku, dan
dipenuhi oleh muncratan spermanya yang sampai tiga
kali membasahi muka dan mulutku. Aku hampir tidak
bisa bangun pagi harinya, karena seluruh tubuhku
seperti remuk dikerjain suamiku. Untungnya esok
harinya hari libur, jadi aku tidak harus buru-buru
menyiapkan sekolah anak-anak.
Hari-hari selanjutnya berlalu dengan luar biasa. Suamiku
bertambah hot setiap malam. Aku juga selalu merasa
horny. Wah, beruntung juga kalau semua ibu-ibu
ngidamnya penis suami seperti kehamilanku kali ini.
Hamil kali ini betul-betul beda dengan kehamilanku
sebelumnya, yang biasanya pakai ngidam gak karuan.
Hamil kali ini justru aku merasa sangat santai dan
bernafsu birahi tinggi. Setiap malam vaginaku terasa
senut-senut, ada atau tak ada suamiku. Kalau pas ada
enak, aku tinggal naik dan goyang-goyang pinggang.
Kalau pas gak ada aku yang sering kebingungan, dan
mencari-cari di internet film-film porno. Sudah itu pasti
aku mainin pakai pisang, yang jadi langgananku di
pasar setiap pagi, hehehe. Yang jadi masalah, adalah
perlukah aku memberi tahu si Indun bahwa aku hamil
dari benihnya? Aku tidak berani bertanya pada suamiku.
Dia mendukung kehamilanku saja sudah sangat
membahagiakanku. Aku menjadi bahagia dengan
kehamilan ini. Di luar dugaanku, ternyata kami
sekeluarga sudah siap menyambut anggota baru
keluarga kami. Itulah hal yang sangat aku syukuri.
Pas bulan puasa, tiba-tiba suamiku melakukan sesuatu
yang mengherankanku. Dia mengajak Indun untuk
membantu bersih-bersih rumah kami. Tentu saja aku
senang, karena suamiku sudah bisa menerima kejadian
waktu itu. Aku senang melihat mereka berdua
bergotong-royong membersihkan halaman dan rumah.
Indun dan Mas Prasojo nampak sudah bersikap biasa
sebagaimana sebelum kejadian malam itu. Bahkan
sesekali Indun kembali menginap di gazebo kami,
karena kami merasa sepi juga tanpa kehadiran anak-
anak. Si Rika semakin sibuk dengan urusan kampusnya,
sementara si Sangga hanya pada malam hari saja
menunjukkan mukanya di rumah. Semenjak itu, suasana
di rumah kami menjadi kembali seperti sediakala. Tetap
saja gazebo depan rumah sering ramai dikunjungi
orang. Cuma sekarang Indun tidak pernah lagi
menginap di sana. Mungkin karena hampir ujian, jadi
dia harus banyak belajar di rumah. Beberapa bulan
kemudian, tubuhku mulai berubah. Perutku mulai
terlihat membuncit. Kedua payudara membesar.
Memang kalau hamil, aku selalu mengalami
pembengkakan pada kedua payudaraku. Hormonku
membuatku selalu bernafsu. Mas Prasojo pun seolah-
olah ikut mengalami perubahan hormon. Nafsu seksnya
semakin menggebu melihat perubahan di tubuhku.
Kalau pas di rumah, setiap malam kami bertempur
habis-habisan. Gawatnya, payudaraku yang memang
sebelumnya sudah besar menjadi bertambah besar.
Semua bra yang kucoba sudah tidak muat lagi, padahal
bra yang kupakai adalah ukuran terbesar yang ada di
toko. Kata yang jual, aku harus pesan dulu untuk
membeli bra yang pas di ukuran dadaku sekarang.
Akhirnya aku nekat kalau di rumah jarang memakai bra.
Kecuali kalau keluar, itupun aku menjadi tersiksa karena
pembengkakan payudaraku.
Aku menjadi seperti mesin seks. Dadaku besar, dan
pantatku membusung. Seolah tak pernah puas dengan
bercinta setiap malam. Suamiku mengimbangiku dengan
nafsunya yang juga bertambah besar. Indun akhirnya
tahu juga kehamilanku. Dia sering curi-curi pandang
melihat perutku yang mulai membuncit. Aku tidak tahu,
apakah dia sadar, kalau anak dalam kandunganku
adalah hasil dari perbuatannya. Yang jelas, Indun
menjadi sangat perhatian padaku. Setiap sore dia ke
rumah untuk membantu apa saja. Bahkan di malam hari
pun dia masih di rumah sambil sekali-kali meneruskan
program mengaji anak-anakku.
Pada suatu malam, Mas Prasojo harus pergi dinas ke
luar kota. Malam itu kami membiarkan Indun sampai
malam di rumah kami, sambil menjaga menjaga rumah.
Aku harus ikut pengajian dengan ibu-ibu kampung.
Jam setengah 10 malam aku baru pulang. Sampai di
rumah, aku lihat Indun masih mengerjakan tugas
sekolahnya di ruang tamu.
“Ndun, Sangga sudah pulang?” tanyaku sambil
menaruh payung, karena malam itu hujan cukup deras.
“Belum, Bu”
Aku lalu menelpon anak itu. Ternyata dia sedang
mengerjakan tugas di rumah temannya. Aku percaya
dengan Sangga, karena anak itu tidak seperti anak-anak
yang suka hura-hura. Dia tipe anak yang sangat serius
dalam belajar. Apalagi sekolahnya adalah sekolah
teladan di kota kami. Jadi kubiarkan saja dia menginap
di rumah temannya itu.
Aku lalu berkata ke Indun, “Kamu nginap sini aja ya,
aku takut nih, hujan deres banget dan Mas Prasojo gak
pulang malam ini”.
Memang aku selalu gak enak hati kalau cuaca buruk
tanpa mas Prasojo. Takutnya kalau ada angin besar dan
lampu mati. Apalagi kami sudah tidak ada lagi masalah
dengan kejadian waktu itu.
“Iya bu, sekalian aku ngerjain tugas di sini”, jawab
Indun.
Aku melepas kerudungku dan duduk di depan tivi di
ruang keluarga. Agak malas juga aku ganti daster, dan
juga ada si Indun, gak enak kalau dia nanti keingat
kejadian dulu. Sambil masih tetap pakai baju muslim
panjang aku menyelonjorkan kakiku di sofa, sementara
si Indun masih sibuk mengerjakan kalukulus di ruang
tamu. Bajuku baju panjang terusan. Agak gerah juga
karena baju panjang itu, akhirnya aku masuk kamar dan
melepas bra yang menyiksa payudara bengkakku. Aku
juga melepas cd ku karena lembab yang luar biasa di
celah vaginaku. Maklum ibu hamil. Kalau kalian lihat
aku malam itu mungkin kalian juga bakalan nafsu deh,
soalnya walaupun pakai baju panjang, tapi seluruh
lekuk tubuhku pada keliatan, karena pantat dan
payudaraku membesar. Acara tivi gak ada yang menarik.
Akhirnya aku ingat untuk membuatkan Indun minuman.
Sambil membawa kopi ke ruang tamu aku duduk
menemani anak itu.
“Wah, makasih , Bu. Kok repot-repot” katanya sungkan.
“Gak papa, kok”
Aku duduk di depannya sambil tak sengaja mengelus
perutku.
Indun malu-malu melihat perutku.
“Bu, udah berapa bulan ya?” tanyanya kemudian,
sambil meletakkan penanya.
“Menurutmu berapa bulan? Masak nggak tahu?”
tanyaku iseng menggodanya.
Tiba-tiba mukanya memerah. Indun lalu menunduk
malu.
“Ya nggak tahu bu… Kok saya bisa tahu darimana?”
jawabnya tersipu.
Tiba-tiba aku sangat ingin memberi tahunya, kabar
gembira yang sewajarnya juga dirasakan oleh bapak
kandung dari anak dalam kandunganku. Dengan santai
aku menjawab, “Lha bapaknya masak gak tahu umur
anaknya?”
Indun kaget, gak menyangka aku akan menjawab
sejelas itu. Dia jelas gelagapan. Hehehe. Apa yang kau
harap dari seorang anak ingusan yang tiba-tiba akan
menjadi bapak.
Wajahnya melongo melihatku takut-takut. Dia tidak
tahu akan menjawab apa. Aku jadi tambah ingin
menggodanya.
“Kamu sih, bapak yang gak bertanggung jawab. Sudah
menghamili pura-pura tidak tahu lagi”, kataku sambil
melirik menggodanya.
Aku mengelus-elus perutku. Geli juga lihat wajah
Indun saat itu. Antara kaget dan bingung serta
perasaan-perasaan yang tidak dimengertinya.
“Aku… eeeee… maaf Bu… aku tidak tahu…” Indun
menyeka keringat dingin di dahinya.
“Memangnya kamu tidak suka anak dalam perutku ini
anakmu?” tanyaku.
“Eh… aku suka banget Bu.. Aku seneng…” Indun
benar-benar kalut.
“Ya udah, kalau benar-benar seneng, sini kamu
rasakan gerakannya” kataku manja sambil mengelus
perutku.
“Boleh Bu? Aku pegang..?” tanyanya kawatir.
“Ya, sini, kamu rasakan aja. Biar kalian dekat” perutku
terlihat sangat membuncit karena baju muslim yang
kupakai hampir tidak muat menyembunyikan
bengkaknya. Indun bergeser dan duduk di sebelahku.
Matanya menunduk melihat ke perutku. Takut-takut
tangannya menuju ke perutku. Dengan tenang
kupegang tangan itu dan kudaratkan ke bukit di
perutku. Sebenarnya aku berbohong, karena umur
begitu gerakan bayi belum terasa, tapi Indun mana
tahu. Dengan hati-hati dia meletakkan telapaknya di
perutku.
“Maaf ya bu”, ijinnya. Aku membiarkan telapaknya
menempel ketat di perutku. Dia diam seolah-olah
mencoba mendengar apa yang ada di dalam rahimku.
Aku merasa senang sekali karena biar bagaimanapun
anak ingusan ini adalah bapak dari anak dalam
kandunganku.
“Kamu suka punya anak?” tanyaku.
“Aku suka sekali, Bu, punya anak dari Ibu. Ohh.. Bu.
Maafkan saya ya Bu” jawab Indun hampir tak
kedengaran. Tangannya gemetar di atas perutku.
Indun terlihat sangat kebingungan, tak tahu harus
berbuat apa. Aku juga ikut bingung, dengan perasaan
campur aduk. Antara bahagia, bingung, geli, dan
macam-macam rasa gak jelas. Tiba-tiba dadaku
berdebar-debar menatap anak muda itu. Anak itu
sendiri masih takut-takut melihat mukaku. Kami berdua
tiba-tiba terdiam tanpa tahu harus melakukan apa.
Tangan Indun terdiam di atas perutku.
“Ndun, kamu gimana perasaanmu lihat ibu-ibu yang
lagi bengkak-bengkak kayak aku?” tanyaku memecah
kesunyian.
“Saya suka sekali sama Ibu……” jawabnya.
“Kenapa?”
“Ibu cantik..” jawabnya dengan muka memerah.
“Ihh.. cantik dari mana? Aku khan udah tua dan lagian
sekarang badanku kayak gini..” jawabku.
Indun mengangkat wajahnya pelan menatapku, malu-
malu.
“Gak kok, Ibu tetep cantik banget…” jawabnya pelan.
Tangannya mulai mengelus-elus perutku. Aku merasa
geli, yang tiba-tiba jadi sedikit horny. Apalagi tadi
malam Mas Prasojo belum sempat menyetubuhiku.
“Kok waktu itu kamu tegang ngintip aku sama Mas
Prasojo?” tanyaku manja. Mukaku memerah. Aku benar-
benar bernafsu. Aneh juga, anak kecil ini pun sekarang
membuatku pengen disetubuhi. Apa yang salah dengan
tubuhku?
“Aku nafsu lihat badan Ibu…” kali ini Indun menatap
wajahku.
Mukanya merah. Jelas dia bernafsu. Aku tahu banget
muka laki-laki yang nafsu lihat aku.
“Kalau sekarang? Masa masih nafsu juga, aku khan
sudah membukit kayak gini..”
Indun belingsatan.
“Sekarang iya..” jawabnya sambil membetulkan
celananya.
“Idiiih…. Mana coba lihat?” godaku.
Indun makin berani. Tangannya gemetar membuka
celananya. Dari dalam celananya tersembul keluar
sebatang penis jauh lebih kecil dari punya suamiku.
Yang jelas, penis itu sudah sangat tegang.
“Wah, kok sudah tegang banget. Pengen nengok
anakmu ya?” godaku.
Indun sudah menurunkan semua celananya. Tapi dia
tidak tahu harus melakukan apa. Lucu lihat batang kecil
itu tegak menantang. Aku sudah sangat horny.
Vaginaku sudah mulai basah. Tak tahu kenapa bisa
senafsu itu dekat dengan anak SMP ini. Dengan gemes,
aku pegang penis Indun.
“Mau dimasukin lagi?” tanyaku gemetar.
“Iya bu.. Mau banget”
Tanpa menunggu lagi aku menaikkan baju panjangku
dan mengangkangkan kakiku. Segera vaginaku
terpampang jelas di depan Indun. Rambut hitam
vaginaku serasa sangat kontras dengan kulit putihku.
Segera kubimbing penis anak itu ke dalam lobang
vaginaku. Indun mengerang pelan, matanya terbeliak
melihat penisnya pelan-pelan masuk ditelan vaginaku.
“Ohhhh…… Buuu…..” desisnya.
Bless, segera penis itu masuk seluruhnya dalam lobang
vaginaku. Aku sendiri merasakan kenikmatan yang
aneh. Entah kenapa, aku sangat ingin mengisi lobangku
dengan batang itu.
“Diemin dulu di dalam sebentar, biar kamu gak cepat
keluar”, perintahku.
“Iiiiiyaaa, Bu..” erangnya. Indun mendongakkan
kepalanya menahan kenikmatan yang luar biasa
baginya. Sengaja pelan-pelan kuremas penis itu dengan
vaginaku, sambil kulihat reaksinya.
“Ohhh…” Indun mengerang sambil mendongak ke
atas.
Kubiarkan dia merasakan sensasi itu. Pelan-pelan
tanganku meremas pantatnya. Indun menunduk
menatap wajahku di bawahnya. Pelan-pelan dia mulai
bisa mengendalikan dirinya. Tampak nafasnya mulai
agak teratur. Kupegang leher anak itu, dan kuturunkan
mukanya. Muka kami semakin berdekatan. Bibirku lalu
mencium bibirnya. Kamu berdua melenguh, lalu saling
mengulum dan bermain lidah. Tangannya meremas
dadaku. Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Segera kuangkat sedikit pantatku untuk merasakan
seluruh batang itu semakin ambles ke dalam vaginaku.
“Ndun, ayo gerakin maju mundur pelan-pelan..”
perintahku.
Indun mulai memaju mundurkan pantatnya. Penisnya
walaupun kecil, kalau sudah keras begitu nikmat sekali
dalam vaginaku. Aku mengerang-erang sekarang.
Vaginaku sudah basah sekali. Banjir mengalir sampai ke
pantatku, bahkan mengenai sofa ruang tamu.
Aku mengarahkan tangan Indun untuk meremas-remas
payudaraku lagi. Dengan hati-hati dia berusaha tidak
mengenai perutku, karena takut kandunganku. Ohhh…
aku sudah sangat nafsuu… sekitar 15 menit Indun
memaju mundurkan pantatnya. Tidak mengira dia
sekarang sekuat itu. Mungkin dulu dia panik dan belum
terbiasa. Aku tiba-tiba merasakan orgasme yang luar
biasa.
“Ohhhh…” teriakku. Tubuhku melengkung ke atas.
Indun terdiam dengan tetap menancapkan penisnya
dalam lobangku. “Aku sampai, Ndunnnn……” aku
terengah-engah.
Sambil tetap membiarkan penisnya di dalam vaginaku,
aku memeluk ABG itu. Badannya penuh keringat. Kami
terdiam selama berepa menit sambil berpelukan. Penis
Indun masih keras dan tegang di dalam vaginaku.
“Ndun, pindah kamar yuk”, ajakku.
Indun mengangguk. Dicabutnya penisnya dan berdiri
di depanku. Aku ikut berdiri gemetar karena dampak
orgasme yang mengebu barusan. Kemudian aku
membimbing tangan anak itu membawanya ke kamarku.
Di kamar aku meminta dia melepaskan bajuku, karena
agak repot melepas baju ini. Di depan pemuda itu aku
kini telanjang bulat. Indun juga melepas bajunya.
Sekarang kami berdua telanjang dan saling berpelukan.
Aku lihat penisnya masih tegak mengacung ke atas.
Aku rebahkan pemuda itu di kasurku. Lalu aku naik ke
atas dan kembali memasukkan penisnya ke vaginaku.
Kali ini aku yang menggenjotnya maju mundur. Tangan
Indun meremas-remas susuku. Ohh, nikmat sekali.
Penis kecil itu benar-benar hebat. Dia berdiri tegak terus
tanpa mengendor seidkit pun. Aku sengaja memutar-
mutar pantatku supaya penis itu cepat muncrat. Tapi
tetap saja posisinya sama. Aku kembali orgasme,
bahkan sampai dua kali lagi. Orgasme ketiga aku sudah
kelelahan yang luar biasa. Aku peluk pemuda itu dan
kupegang penisnya yang masih tegak mengacung.
Kami berpelukan di tengah ranjang yang biasa kupakai
bercinta dengan suamiku.
“Aduuuh, Ndun.. kamu kuat juga ya. Kamu masih
belum keluar ya?”
“Gak papa Bu…” jawabnya pelan.
Tiba-tiba aku punya ide untuk membantu Indun.
Kuraih batang kecil itu dan kembali kumasukkan dalam
vaginaku. Kali ini kami saling berpelukan sambil
berbaring bersisian.
“Ndun, Ibu udah lelah banget. Batangmu dibiarin aja
ya di dalam, sampai kamu keluar…” bisikku.
Indun mengangguk. Kami kembali berpelukan bagai
sepasang kekasih. Vaginaku berkedut-kedut menerima
batang itu. Kubiarkan banjir mengalir membasahi
vaginaku, Indun juga membiarkan penisnya tersimpan
rapi dalam vaginaku. Karena kelelahan aku tertidur
dengan penis dalam vaginaku. Gak tahu berapa jam aku
tertidur dengan penis masih dalam vaginaku, ketika jam
1 malam tiba hpku menerima sms. Aku terbangun dan
melihat Indun masih menatap wajahku sambil
membiarkan penisnya diam dalam lobangku.
“Aduh, Ndun. Kamu belum bisa bobok? Aduuuh, soriiii
ya…” kataku sambil meremas penisnya dengan
vaginaku.
“Gak papa kok, Bu. Aku seneng banget di dalam..” kata
Indun.
Tanpa merubah posisi aku meraih hpku di meja
samping ranjang. Kubuka sms, ternyata dari Mas
Prasojo: “Hai Say, udah bobok? Kalau blum aku pengen
telp”.
Aku segera balas: “Baru terbangn, telp aja, kangen”
Segera setelah kubalas sms, Mas Prasojo menelponku.
Aku menerima telepon sambil berbaring dan
membiarkan penis Indun di dalam vaginaku.
“Hei… Sorii ganggu, udah bobok apa?” tanyanya.
“Gak papa Mas, kangen. Kapan jadinya balik?” tanyaku.
“Lusa, Dik, ini aku masih di jalan. Lagi ada pembekalan
masyarakat. Gimana anak-anak?”
“Hmmm…. “ aku agak menggeliat. Indun memajukan
pantatnya, takut lepas penisnya dari lobangku. Aku
meletakkan jariku di bibirnya, agar dia tak bersuara.
Indun mengangguk sambil tersenyum.
“Baik, mereka oke-oke saja kok. Udah pada makan dan
bobok nyenyak dari jam 9 tadi. Aku kangen mas…”
“Sama.. Pengen nih” kata suamiku.
“Sini, mau di mulut apa di bawah?” tanyaku nakal.
“Mana aja deh”
“Nih, pakai mulutku aja, udah lama gak dikasih. Udah
gatel, hihih…” godaku.
“Aduuh Dik. Aku lagi di kampung sepi. Malah jadi
kangen sama kamu. Gimana hayooo?” rengek suamiku.
Kami memang biasa saling terbuka soal kebutuhan
seks kami.
“Kocok aja Mas, aku juga mau” kataku manja.
Kemudian aku menggeser Indun agar menindih di atas
tubuhku. Sambil tanganku menutup hp, aku berbisik ke
Indun, “Sekarang kamu genjot aku sekencang-
kencangnya sampai keluar, ya. Sekuat-kuatnya”.
Indun mengangguk. Aku menjawab telepon suamiku,
“Ayo, mas, buka celananya..”
Aku mengambil cdku di sampingku, lalu kujejalkan ke
mulut Indun. Indun tahu maksudku agar dia tidak
bersuara.
“Oke, Dik. Aku sudah menghunus rudalku..”
Sambil menjawab mesra aku menekan pantat Indun
agar segera memaju mundurkan penisnya dalam
vaginaku. Indun segera membalasnya, dan mulai
menggenjotku. Aku menyuruhnya untuk menurunkan
kakinya ke samping ranjang sehingga perutku tidak
tertindih badannya. Sementara aku mengangkang
dengan dua kakiku terangkat ke samping kiri dan kanan
badan laki-laki abg itu. Ohhh, ya Tuhan. Bagai
kesetanan, Indun menggenjotku seperti yang
kuperintahkan. Aku mengerang-erang, begitu juga
suamiku.
“Mas,aku masturbasi kesetanan ini….. Pengen
banget…. Kamu kocok kuat-kuat yaaa….. Ahhhhh”
“Iyyyyaaaa… Ooohhh, untung aku bawa cdmu, buat
ngocok nihh…. Ohhhhh” erang suamiku.
Tak kalah hebatnya, Indun menggasak lobangku
dengan tanpa kompromi. Badan kurusnya maju mundur
secepat bor listrik. Aku mengerang-erang tidak karuan.
Suara lobangku berdecit-decit karena banjir dan
gesekan dengan penis Indun. Benar-benar gila malam
ini. Aku sudah tidak ingat lagi berapa lama aku digenjot
Indun. Suaraku penuh nafsu bertukar kata-kata mesra
dengan suamiku. Indun seolah-olah tak pernah lelah.
Tubuhnya sudah banjir keringat. Stamina mudanya
benar-benar membanggakan. Keringat juga membanjiri
tubuhku. Sementara suara suamiku juga meraung-raung
kenikmatan, semoga kamar dia di perjalan dinas itu
kamar yang kedap suara. Beberapa saat kemudian aku
kehabisan tenaga. Kuminta Indun untuk berhenti
sejenak. Pemuda itu nampak terengah-engah sehabis
menggenjotku habis-habisan. Setelah itu kami
melanjutkan permainan kami. Indun dengan kuatnya
menggenjotku habis-habisan. Aku tak tahu lagi apa
yang kecerecaukan di telepon, tapi nampaknya suamiku
juga sama saja. Beberapa saat kemudian aku dan
suamiku sama-sama berteriak, kami sama-sama keluar.
Aku terengah-engah mengatur nafasku. Lalu suamiku
memberi salam mesra dan ciuman jarak jauh. Kami
betul-betul terpuaskan malam ini. Setelah ngobrol-
ngobrol singkat, suamiku menutup teleponnya. Di
kamarku, Indun masih menggenjotku pelan-pelan. Dia
belum keluar rupanya. Wah, gila. Aku kawatir jepitanku
mungkin sudah tidak mempan buat penisnya yang
masih tumbuh. Kubiarkan penis pemuda itu mengobok-
obok vaginaku. Tiba-tiba kudorong Indun, sehingga
lepas penis dari lobangku.
“Ohhh”, lenguhnya kecewa.
Lalu aku tarik dia naik ke tempat tidur, dan aku segera
menungging di depannya. Indun tahu maksudku. Dia
segera mengarahkan penisnya ke vaginaku. Tapi segera
kupegang penis itu dan kuarahkan ke lobang yang lain.
Pantatku! Mungkin di sanalah penis Indun akan dijepit
dengan maksimal, pikirku tanpa pertimbangan. Indun
sadar apa yang kulakukan. Disodokkannya penisnya ke
lobang pantatku. Tapi lobang itu ternyata masih terlalu
kecil bahkan buat penis Indun. Aku berdiri dan
menyuruhnya menunggu. Lalu aku turun dan
mengambil jelli organik dari dalam rak obat di kamar
mandi. Dengan setia Indun menunggu dengan penis
yang juga setia mengacung. Jelli itu kuoleskan ke
seluruh batang Indun, dan sebagian kuusap-usapkan
ke sekitar lobang pantatku. Kembali aku
menunggingkan pantatku. Indun mengarahkan kotolnya
kembali dan pelan-pelan lobang itu berhasil di
terobosnya.
“Ohhhhh…..” desisku. Sensasinya sangat luar biasa.
Pelan-pelan batang penis itu menyusup di lobang yang
sempit itu.
Indun mengerang keras. Setengah perjalanan, penis itu
berhenti. Baru separo yang masuk. Indun terengah-
engah, begitu juga aku.
“Pelan-pelan, Ndun…” bisikku.
Indun memegang bongkahan pantatku, dan kembali
menyodokkan penisnya ke lobangku. Dan akhirnya
seluruh batang itu masuk manis dalam lobang pantatku.
“Ohhh, Tuhan…” rasanya sangat luar biasa, antara
sakit dan nikmat yang tak terceritakan. Aku mengerang.
Kami berdiam beberapa menit, membiarkan lobangku
terbiasa dengan batang penis itu. Setelah itu Indun
mulai memaju mundukan pinggangnya. Rasanya luar
biasa. Pengalaman baru yang membuatku ketagihan.
Beberapa saat kemudian, Indun mengerang-erang keras.
Dia memaksakan menggejot pantatku dengan cepat,
tapi karena sangat sempit,
genjotannya tidak bisa lancar. Kemudian,
“ohhhhh…”
Indun memuncratkan spermanya dalam pantatku.
Crot…Aku tersungkur dan Indun terlentang ke
belakang. Muncratannya sebagian mengenai
punggungku. Kami sama-sama terengah-engah dan
kelelahan yang luar biasa. Aku membalikkan tubuhku
dan memeluk Indun yang terkapar tanpa daya. Kami
berpelukan dengan telanjang bulat sepanjang malam.
########################
Paginya, aku bangun jam 6 pagi. ABG itu masih ada
dalam pelukanku. Oh, Tuhan. Untung aku mengunci
kamarku. Mbok Imah tetangga yang biasa bantuin
ngurusin anak-anak sudah terdengar suaranya di
belakang. Oh.. Apa yang sudah kulakukan tadi malam,
aku benar-benar tidak habis pikir. Kalau malam waktu
itu benar-benar hanya sebuah kecelakaan. Tapi malam
ini, aku dan Indun benar-benar melakukannya dengan
penuh kesadaran. Apa yang kulakukan pada anak abg
ini? Aku jadi gelisah memikirkannya, aku takut
membuat anak ini menjadi anak yang salah jalan. Rasa
bersalah itu membuatku merasa bertambah sayang
pada anak kecil itu. Kurangkul kembali tubuh kecil itu
dan kuciumin pipinya. Tubuh kami masih sama-sama
telanjang. Aku lihat si Indun masih nyenyak tidur.
Mukanya nampak manis sekali pagi itu. Aku mengecup
pipi anak itu dan membangunkannya.
“Ndun… Bangun. Kamu sekolah khan?” bisikku.
Indun nampak kaget dan segera duduk.
“Oh, Bu.. Maaf aku kesiangan…” katanya gugup.
“Gak papa Ndun, aku yang salah mengajakmu tadi
malam”
Kami berpandangan.
“Maaf Bu. Aku benar-benar tidak sopan”
“Lho, khan bukan kamu yang mengajak kita tidur
bersama. Aku yang salah Ndun” bisikku pelan.
Indun menatapku, “Aku sayang sama Ibu…” katanya
pelan.
“Ndun, kamu punya pacar?”
“Belum, bu”
“Kamu janji ya jangan cerita-cerita ke siapa-siapa ya
soal kita”
“Iya bu, gak mungkinlah”
“Aku takut kamu rusak karena aku”
“Gak kok Bu, aku sayang sama Ibu”
“Kamu jangan melakukan ini ke sembarang orang ya”
kataku kawatir.
“Tidak Bu, aku bukan cowok seperti itu. Tapi kalau
sama Ibu, masih boleh ya…” katanya pelan.
Tiba-tiba aku sangat ingin memeluk anak itu.
“Aku juga sayang kamu Ndun. Sini Ibu peluk” Indun
mendekat dan kami berpelukan sambil berdiri.
Tangannya merangkul pinggangku, dan aku memegang
pantatnya. Kami berpelukan lama dan saling
berpandangan. Lalu bibir kami saling berpagutan. Gila,
aku benar-benar serasa berpacaran dengan anak kecil
itu. Mulut kami saling bergumul dengan panasnya.
Aku lihat penis anak itu masih tegak berdiri, mungkin
karena efek pagi hari. Tanganku meraih batang itu dan
mengocoknya pelan-pelan.
Aku berpikir cepat, karena pagi ini Indun harus sekolah,
aku harus segera menuntaskan ketegangan penis itu.
Aku segera membalikkan tubuhku dan berpegangan
pada meja rias. Sambil melihat Indun lewat cermin aku
menyuruhnya.
“Ndun, kamu pakai jeli itu lagi. Cepat masukin lagi
penismu ke pantat Ibu”
Indun buru-buru melumas batangnya. Aku
menyorongkan bungkahan pantatku. Dari cermin aku
dapat melihat muku dan badanku sendiri. Ohh… agak
malu juga aku melihat tubuhku yang mulai
membengkak di sana-sini, tapi masih penuh dengan
nafsu birahi.
“Cepat Ndun, nanti kamu terlambat sekolah”,
perintahku.
Sambil memeluk perutku, Indun mendorong penisnya
masuk ke lobang pantatku. Lobang yang semalam
sudah disodok-sodok itu segera menerima batang yang
mengeras itu. Segera kami sudah melakukan
persetubuhan lagi. Aku dapat melihat adegan seksi itu
lewat cermin, di mana mukaku terlihat sangat nafsu dan
juga muka Indun yang mengerang-erang di belakangku.
“Ayo, Ndun, sodok yang kuat”
“Iyyyaaa.. Bu”
“Terusss… Cepat”
Sodokan-sodokan Indun semakin cepat. Lobang
pantatku semakin elastis menerima batang imut itu.
Sungguh kenikmatan yang luar biasa. Tidak berapa
lama kemudian kami berdua sama-sama mencapai
puncak kenikmatan. Indun membiarkan cairan
spermanya meluncur deras dalam pantatku. Kami sama-
sama terengah-engah menikmati puncak yang barusan
kami daki.
“Ohhh…”
Sejenak kemudian aku lepaskan pantatku dari penisnya.
“Udah Ndun. Sana kamu mandi, pulang. Nanti kamu
terlambat lho sekolahnya” kataku sambil tersenyum.
Indun mencari-cari pakaiannya. Tiba-tiba kami sadar
kalau celana Indun ada di ruang tamu. Aku suruh si
Indun nunggu di kamar, dan aku segera berpakaian dan
keluar ke ruang tamu. Moga-moga belum ada yang
menemukan celana itu. Untungnya celana itu teronggok
di bawah sofa dan terselip, sehingga Mbok Imah yang
biasanya sibuk dulu menyiapkan sarapan belum sempat
membereskan ruang tamu. Celana itu segera kuambil
dan kubawa ke kamar. Si Indun yang tadinya nampak
panik berubah tenang. Setelah memakai celananya,
Indun kusuruh cepat-cepat keluar ke ruang tamu dan
mengambil tas belajarnya yang semalam tergeletak di
meja tamu. Setelah itu dia pamit pulang. Aku segera
mandi. Di kamar mandi aku merasakan sedikit perih di
bagian lobang pantatku. Baru kali ini lobang itu menjadi
alat seks, itu pun justru dengan anak kecil yang belum
tahu apa-apa. Ada sedikit rasa sesal, tapi segera
kuguyur kepalaku untuk menghilangkan rasa gundah di
dadaku.
######################
Sorenya Indun kembali main ke rumah. Dia sudah sibuk
membereskan buku-buku di gazebo kami. Malam itu
Indun tidur lagi di kamarku. Mas Prasojo baru pulang
besok harinya. Selama berjam-jam kami kembali
bercinta. Kami saling berpelukan dan berbagi kasih
selayaknya sepasang kekasih. Tapi sebelum jam 1 aku
suruh Indun untuk segera tidur, aku kawatir sekolahnya
akan terganggu karena aktivitasku.
“Ndun, tadi kamu di sekolah gimana?” bisikku setelah
kami selesai ronde ke tiga. Kami berpelukan dengan
mesra di tengah ranjang.
“Biasa aja Bu”
“Kamu gak kelelahan atau ngantuk di sekolah?”
“Iya Bu, sedikit. Tapi gak papa, aku tadi sempat tidur
siang”
“Aku takut menganggu sekolahmu”
“Gak kok Bu. Tadi aku bisa ngikutin pelajaran”
“Okelah kalau gitu. Tapi setelah ini kamu tidur ya, gak
usah diterusin dulu”
“Iya Bu”
“Besok Mas Prasojo pulang, kamu gak bisa nginap
disini”
“Iya, Bu. Tapi kapan-kapan saya siap menemani Ibu di
sini”
“Yee…. maunya. Ya gak papa”, kataku sambil
mencubit pinggangnya.
“Aku mau jadi pacar Ibu”
“Lho aku khan sudah bersuami?”
“Ya gak papa, jadi apa saja deh”
“Aku justru kasihan sama kamu. Besok-besok kalau
kamu udah siap, kamu cari pacar yang bener ya?”
“Iya Bu. Aku tetap sayang sama Ibu. Mau dijadiin apa
saja juga mau”
“Idihh.. ya udah. Bobok yuk” kataku kelelahan.
Kami tidur berpelukan sampai pagi.
#######################
Setelah malam itu, aku semakin sering bercinta dengan
Indun. Kapan pun ada kesempatan, kami berdua akan
melakukannya. Indun sangat memperhatikan bayi dalam
kandunganku. Setiap ada kesempatan, dia menciumi
perutku dan mengelus-elusnya. Kasihan juga aku lihat
anak kecil itu sudah merasa harus jadi bapak. Herannya,
aku juga


UNTUK INFO LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI CONTACT KITA DI BAWAH INI
email yahoo / ym : asli4d@yahoo.com
gmail : asli4d@gmail.com
twitter : asli4d_official
skype : asli4d
pin bbm : 2B915CD1
Foto Cerita Sex Dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar